Rights Issue BBRI dan Masa Depan Holding Ultramikro

Oleh: Edhi Pranasidhi, Founder Indonesia Superstock Community Ex Bloomberg TV Head of Market Intelligence

KNews.id- Apa yang terlintas pertama kali dalam ingatan Anda sebagai seorang investor pasar saham jika mendengar kata Bank Rakyat Indonesia yang mempunyai kode saham BBRI. Di sebuah bank besar kebanggaan nasional yang operasional perbankannya (intermediary services) menjangkau hampir seluruh pelosok Indonesia. Kerja keras BBRI sejak berdiri 16 Desember 1895 lalu –jauh sebelum kemerdekaan Indonesia– telah membuahkan hasil yang bisa dikatakan dahsyat.

Karena dengan kekuatan jangkauan operasional, BBRI telah ikut membantu rakyat kebanyakan untuk melek perbankan, melek finansial, dan tentunya mereka yang menjadi nasabah BBRI lebih mempunyai pengetahuan dalam tata kelola utang dan usahanya.

Dan BBRI mempunyai komitmen kuat untuk menambah porsi pembiayaan kepada ma syarakat yang berkegiatan di usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi 85% dari total pembiayaan atau naik diban dingkan 82,13% pada akhir 2020.

Selain itu, BBRI juga terus berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai agen guna membantu pe ngembangan UMKM. Salah satunya adalah dengan cara integrasi ekosistem BUMN sektor ultramikro dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian. Pasca-persetujuan integrasi ekosistem dengan kedua perusahaan yang mempunyai pangsa pasar sangat segmented itu, BBRI akan menjadi holding untuk mengembangkan usaha ultramikro.

Dengan pengalaman dan kepiawaian BBRI, kedua anak perusahaan baru tersebut tentu nya akan ditempa dan disulap menjadi motor yang lebih hebat dan bisa menambah penghasilan di luar pendapatan bunga yang selama ini menjadi andalan BBRI.

Untuk mewujudkan sebuah holding ultramikro yang kuat di masa depan, BBRI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB). RUPS-LB untuk meminta persetujuan pemegang saham terhadap rencana rights issue dalam rangka pembentukan holding ultramikro dan memperkuat struktur keuangan BBRI melalui pe nerbitan saham baru sebanyak 28,677 miliar lembar atau 23,25% dari total saham beredar.

Yang menarik adalah apa yang akan membuat investor harus tertarik terhadap penerbitan saham baru BBRI tersebut? Seperti diketahui, pemerintah yang memiliki masing-masing 99% saham di Pegadaian dan PMN akan ambil bagian dalam penerbitan rights issue itu dengan menyerahkan atau menukar (in breng) semua saham di Pegadaian dan PNM yang diperkirakan nilainya berdasarkan nilai buku total kedua perusahaan itu sekitar Rp 31 triliun.

Jika saja pemerintah menghargai kedua perusahaan tersebut pada nilai buku berdasarkan ratarata akuisisi perusahaan yang wajar di kisaran 2,2 kali sampai 2,5 kali, maka nilai penyertaan pemerintah berada di kisaran Rp 68 triliun dan Rp 77,5 triliun. Dan jika saya ambil angka tengah di kisaran Rp 70 triliun, maka porsi publik yang harus menyerap saham baru itu adalah kisaran Rp 28 tri liun dan Rp31 triliun.

Baca Juga   Bayar Utang Pemerintah, Cadangan Devisa Indonesia Turun USD1,5 Miliar

Total rights issue jadinya sekitar Rp 98 triliun. Jika jumlah saham baru yang dikeluarkan itu sebanyak 28,68 miliar lembar, maka harga rights issue BBRI berada pada angka sekitar Rp 3.410 per lembar. Tetapi jika pemerintah menghargai PNM dan Pegadaian pada 2,5 kali nilai buku, maka total rights issue akan bernilai sebesar Rp 108,5 triliun atau sekitar Rp 3.780 per lembarnya.

Jadi harga rights issue BBRI saya perkirakan akan berada pada kisaran Rp 3.410 dan Rp 3.780 ru piah per lembar. Pasca-rights issue, porsi kepemilikan saham pemerintah di BBRI akan tetap di kisaran 60% (pembulatan ke atas dari 56,75%), sementara publik tetap 40% (pembulatan ke bawah dari 43,25%). Sementara itu, setelah proses rights issue, jumlah total saham BBRI akan menjadi 150,78 miliar lembar dan aset bertambah menjadi antara Rp 1.510 triliun dan Rp 1.519 triliun.

Nilai buku BRI setelah rights issue jadinya akan berada pada kisaran antara Rp 1.900 dan Rp 2.000 per lembar dari sebelum rights issue pada Rp 1.636 per lembar. Rasio rights issue diperkirakan adalah untuk setiap pemegang 100 lembar saham BBRI mempunyai hak untuk membeli saham baru sebanyak 40 lembar.

Harga BBRI pada penutupan perdagangan Jumat (16 Juli 2021) berada pada Rp 3.840. Jika harga rights issue di bawah harga induk, maka saya harus mengatakan bahwa rights issue BBRI sangat menarik untuk para investor institusi maupun ritel mengingat masa depan keuangan BBRI yang akan semakin bersinar dan tentunya juga akan mempengaruhi harga saham ke depan.

Pada kuartal pertama tahun ini (2021), BBRI berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 6,8 triliun. Jika disetahunkan, laba bersih BBRI berpotensi menembus angka Rp 27 triliun – Rp 28 triliun. Tapi ingat, angka tersebut belum mendapatkan tambahan laba bersih dari Pegadaian dan PNM yang diperkirakan akan berpotensi sebesar Rp 4 triliun sampai Rp 5 triliun.

Baca Juga   Tanggal 22 Juli Mendatang, BRI akan Meminta Restu Holding Ultra Mikro lewat RUPSLB

Jadi jika ditotalkan, laba bersih BBRI untuk setahun penuh 2021 berpotensi untuk menembus angka Rp 32 triliun atau hampir mendekati laba bersih BBRI di tahun 2019, sebelum Indonesia dilanda pandemic Covid-19. Jika laba bersih 2021 berada di kisaran Rp 32 triliun atau naik sekitar 72% dari Rp 18,65 triliun pada tahun 2020, maka laba bersih per saham BBRI adalah Rp 212 per saham.

Secara valuasi harga saham, harga saat ini jika menilik menggu nakan kekuatan finansial BBRI pasca-rights issue, maka BBRI saat ini diperdagangkan pada rasio harga saham dibagi laba bersih per saham (Price to Earning Ratio atau PER) hanya 18 kali atau di bawah rata-rata PER tertinggi BBRI selama dua tahun terakhir pada 21,3 kali. Sementara berdasarkan rasio harga saham dibagi nilai buku (Price to Book Value atau PBV) harga saham BBRI saat ini hanya diperdagangkan pada 1,9 kali nilai buku atau lebih rendah dibandingkan saingan terdekatnya Bank Central Asia (BBCA) pada 4,0 kali.

Performa keuangan BBRI untuk 2022, dengan mengambil pertumbuhan laba bersih tahun 2021, tentu saja berpotensi membuat rekor baru di kisaran Rp 40 triliun atau sama dengan laba bersih per saham senilai Rp 265. Jika menggunakan PER forward 2022, maka BBRI saat ini diperdagangkan pada PER hanya 14,4 kali saja.

Valuasi harga BBRI untuk tahun depan dengan menggunakan PER tertinggi rata-rata di kisaran 21 kali akan berpotensi menjadi 21 dikali Rp 265 atau sama dengan Rp 5.560 per saham, atau ada return berinvestasi sekitar 45% dari harga penutupan Jumat pekan lalu. Hanya catatan saja yang juga cukup menarik adalah: Pertama, dana segar dari penerbitan saham baru atau rights issue sebanyak banyaknya sekitar Rp 31 triliun rupiah akan digunakan untuk membantu membangun usaha ul tramikro bagi sekitar 29 juta pengusaha.

Kedua, nilai raihan rights issue BBRI di atas nilai penawaran perdana saham ke publik atau IPO Bukalapak pada Rp 21,9 triliun. Saya yakin, untuk investor institusi maupun ritel yang mempunyai wawasan berinvestasi panjang (long-term) menilai bahwa rights issue BBRI berpotensi memberikan return yang lebih baik daripada tabungan biasa atau deposito dan tentunya jauh di atas angka inflasi yang sekarang ber kisar di bawah 3% saja. (Ade/invdl)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Contact me
email