Menolak Mencium Hajar Aswad

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz

KNews.id- Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini (kelahiran tahun 1375 H / 1956 M) salah seorang ulama dari Mesir. Beliau sakit diabet dan mengalami gangguan di ginjal. Pada tahun 2012 M, dokter yang merawatnya memberitaukan bahwa betis kaki kirinya harus diamputasi.

Beliau ridha kepada takdir Allah atas musibah tersebut sebagai bukti atas kecintaannya kepada Allah. Beliau teringat dengan kisah Urwah bin Zubair yang diuji ditinggal wafat anaknya dan salah satu kakinya diamputasi.

Urwah bin Zubair berkata,

“Wahai Allah, Engkau telah mengaruniakan kepadaku tujuh orang anak, lalu Engkau ambil satu dari mereka dan masih ada enam orang anak.

Wahai Allah, Engkau karuniakan kepadaku dua tangan dan dua kaki, lalu Engkau ambil satu kaki dan Engkau sisakan untukku tiga bagian.”

Urwah selalu bersyukur kepada Allah atas setiap keadaan dan melihat besar serta banyaknya nikmat Allah yang Allah berikan kepada hambaNya. Sehingga musibah apa pun terasa ringan dan tetap bersyukur kepada Allah yang akan mendatangkan berbagai kebaikan di dunia dan akhirat.

“Sebelum ini saya sering menasihati kaum muslimin untuk bersabar, maka saya harus mempraktekkan apa yang saya sampaikan.” Begitu Syaikh Abu Ishaq menghibur dirinya sendiri.

Pada tahun 1437 H / 2016 M beliau berangkat ke Makkah menunaikan ibadah Umrah. Di Makkah sempat dirawat di rumah sakit untuk cuci darah. Saat berada di Makkah, beliau dan rombongan mendapat tawaran dari petugas Masjidil Haram untuk mencium Hajar Aswad. Nanti ada petugas yang akan mengawal Syaikh Abu Ishaq dan rombongan.

Asisten Syaikh yang bernama Muhammad Said sangat bergembira mendengar tawaran petugas Masjidil Haram yang menelponnya. Sebelumnya, setiap asisten Syaikh berumrah tidak pernah mencium Hajar Aswad karena ia tidak ingin berdesak desakkan dan menyakiti orang lain saat mencium Hajar Aswad. Sekarang datang kesempatan untuk mencium Hajar Aswad dengan tenang.

Baca Juga   Ini Ciri-ciri Fintech Ilegal ala OJK!

Syaikh Abu Ishaq menolak tawaran tersebut. Beliau tidak ingin dihormati bagaikan pejabat atau orang penting. Beliau juga tidak sampai hati melihat aktifitas saudara-saudara kaum muslimin di sekitar Ka’bah yang hendak mencium Hajar Aswad terhenti disebabkan beliau dan rombongan datang untuk mencium Hajar Aswad.

Dari Kisah di atas kita memetik beberapa pelajaran, diantaranya:

Pentingnya tetap bersyukur kepada Allah ketika musibah menimpa kita. Putus asa dan kufur nikmat merupakan sifat tercela. Allah berfirman,

وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَٰهَا مِنْهُ إِنَّهُۥ لَيَـُٔوسٌ كَفُورٌ

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi orang yang sangat berputus asa lagi sangat tidak bersyukur.” (Surat Hud 9).

Sifat rendah hati merupakan akhlak yang mulia. Pelajaran bagi para pemimpin dan publik figur agar tidak ingin diistimewakan dan tidak melakukan aktifitas yang merugikan orang lain.

اللهم إنا نسألك أن تجعل كل قضاء قضيته لنا خيرا

“Ya Allah, kami memohon kepadaMu agar Engkau menjadikan semua ketetapan yang telah Engkau tetapkan untuk kami sebagai kebaikan.”

Semoga Allah menyembuhkan Syaikh Abu Ishaq dan orang-orang yang sakit dari kaum muslimin, memberi kesejahteraan dan meninggikan derajat mereka di sisi Allah, aamiin. (Ikh)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Contact me
email