spot_img
Sabtu, Januari 31, 2026
spot_img
spot_img

Buya Hamka dan AR Baswedan: Sebuah Kesaksian Sejarah

Songkok khas Iraq hanya dipakai wulaiti, sedang yang muwalad sudah memakai songkok khas Indonesia, yang sebelumnya mereka itu memakai songkok jenis yang sama. Tambahnya, perubahan pada muwalad, itu bukan saja pada penutup kepala yang dipakai, melainkan “perobahan isi otak yang terletak dalam kepala!”

Dalam suratnya itu pun Buya Hamka menyebut nama-nama pahlawan masa lalu yang juga keturunan Arab. Disebutlah Fatahillah atau Syarif Hidayatullah, yang disebut juga dengan Sunan Gunung Jati, penyebar Islam di Jawa Barat. Dialah yang membendung serangan Portugis yang nyaris masuk ke tanah Jawa. Dikenal juga sebagai pendiri kerajaan Banten dan Cirebon, penakluk Galuh dan Pakuan. Pembuka pertama Sunda Kelapa, yang kemudian menukar namanya dengan Jayakarta. Dialah orang Aceh dari Pasai, peranakan Arab bangsa Syarif dari Hejaz.

- Advertisement -

Disebut pula beberapa nama lainnya, yang punya sejarah bagi embrio lahirnya bangsa Indonesia, yang itu dalam kesaksian Buya Hamka disebutnya sebagai peranakan Arab, yang lalu terintegral lebur pada wilayah di mana ia tinggal. Misal, ia menunjuk seorang ulama besar, yaitu Syaikh Abdush-Shamad Al-Falinbaniy, yang namanya merujuk pada daerah bernama Palembang. Lanjutnya, Maka tidaklah disebut apakah mereka “pribumi” atau warga negara, ayah wulaiti, anak peranakan. Dia orang Palembang, habis perkara!.

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini