spot_img
Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
spot_img

Planning Oligarki A Jokowi Tiga Periode Pupus, B Ganjar, dan C PS-Jkw?

Tentu kelak Mega akan menjadi bahan ekspos, dikritisi sebagai sosok tokoh yang bertanggung jawab penuh tertinggi yang ” tak ingin kadernya menjadi Capres selain Putrinya Puan “, atau tak mau mendukung kader partainya yang lebih mumpuni, lebih hebat melebihi Puan, yakni sosok GP. Terlebih jika GP. Malah justru memenangkan pemilu 2024. Lalu GP. Yang nota bene kader PDIP namun didukung oleh partai lain, bukan oleh dukungan utama dari partai PDIP. Akan jadi apa Mega dan Puan kelak dimata seluruh kadernya ?.

Sehingga ramalan atau prediksi gejolak politik yang akan terjadi serta implikasinya menjadi  buah simalakama atau bumerang terhadap diri  Mega dan para tokoh senioren PDIP. Jika setuju atau menolak tawaran atau desakan Jkw untuk pilih GP,  namun bagi PDIP , bisa jadi kini GP. Justru sudah dianggap sebagai pribadi ” bak kacang lupa kulitnya atau sosok kader yang berkhianat “,  karena terbukti telah mengangkangi hak partai  yang telah meresmikan dewan kolonel untuk menjagokan Puan cucu Soekarno. Sehingga sebuah kewajaran jika GP. Dianggap telah membuat Mega dan PDIP jengkel dan marah, karena diri GP. Dianggap telah memandang sebelah mata kepada Mega, sang pemilik partai, termasuk hakekatnya GP. telah merendahkan atau meremehkan para petinggi dan senioren PDIP. Secara keseluruhan.

- Advertisement -

Kemudian yang kedua adalah lebih berbahaya lagi menurut Mega yang sudah penuh pengalaman di dunia politik, Mega logis tentunya jika berasumsi dari hasil pengamatannya selama ini terhadap sepak terjang atau attitude GP. terhadap dirinya dan PDIP yang membesarkan GP, telah memberkasi sosok GP. Sebagai pribadi yang ” mbalelo ” atau ngeyel, walau disebabkan adanya faktor ” beking ” seorang Jkw yang  presiden.

Terlepas dari faktor adanya kekesalan atau marahnya Mega kepada sosok GP. Namun jika ternyata  GP. sudah cukup 20 %  untuk maju sebagai Capres tanpa melalui PDIP. Sama saja perolehan PT. yang hampir 20 % dimiliki PDIP. Seperti ter- sia – siakan oleh Mega selaku Ketua umum Partai PDIP. Maka tentunya hal ini tidak boleh terjadi. Jika ini terjadi tentunya Kursi Ketua Umum PDIP. Pun besar kemungkinan bakal terancam bahkan pra pemilu Pilpres 2024, bisa jadi kursi Ketum PDIP terlepas dari dirinya, lalu mengikuti jabatan di BPIP serta BRIN bisa melompat pindah ke tokoh lain, oleh karena tangan kekuasaan prerogatif hak miliki Jkw. Selaku Presiden RI.

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini