Guru Besar ITS: Rezim Manfaatkan Covid-19 sebagai ‘Senjata Pembunuh Massal’ untuk Kepentingan Politik

KNews.id- Rezim sukses memanfaatkan Covid-19 sebagai ‘weapon of mass deception’ atau WMD ‘(senjata pembunuh massal)’ untuk kepentingan politik.

“Rezim sukses memanfaatkan pandemisasinya sebagai ‘weapon of mass deception’ ‘(senjata pembunuh massal)’ untuk kepentingan politik yang bisa membahayakan Republik,” kata Guru Besar ITS Prof. Daniel Mohammad Rosyid dalam artikel “Pandemisasi Covid-19: Bom Demografi?”

Kata Daniel, rezim berhasil menjadikan pandemisasi Covid19 WHO sebagai alasan bagus untuk tetap berkuasa di tengah pengangguran yang meningkat, kehancuran bisnis berbagai skala dan sektor, pemberantasan korupsi yg terpuruk dan hutang yang menggunung mencapai Rp.10kT. Bahkan wacana jabatan Presiden tiga periode sempat muncul malu-malu.

Daniel mengatakan, sulit untuk menolak kesan bahwa kelompok sekuler kiri radikal yang sok nasionalis yang bersembunyi di istana dan Senayan memperoleh umpan bagus dari BigPharma global untuk mencapai tiga misi utama : depopulasi, mengeruk duit dari bisnis vaksin dan menggembosi kebangkitan Islam yang terjadi di berbagai belahan dunia.

“Kematian akibat Covid-19 yang relatif rendah diam-diam akan dinaikkan sekaligus dengan merusak tubuh manusia dengan menginjeksikan material genetik (yang disebut sebagai vaksinasi) dari ampul sebagai bisnis yang lucrative. Ini bukan teori konspirasi, tapi konvergensi berbagai kepentingan dari berbagai freeriders untuk mengambil untung dari teror biologis ini,” papar Daniel.

Korban mati akibat Covid-19 di Indonesia hingga hari ini masih kurang dari 50ribu jiwa. Bandingkan dengan Inggris 112 ribu, India 315ribu, dan AS 600ribu. Rata2 tingkat kematiannya 0,2%.  Angka kematian akibat TBC di Indonesia malah mencapai 100ribu/tahun (0.4%) selama bertahun-tahun.

Ia mengatakan, Pandemisasi Covid-19 ini telah mendegradasi penanganan berbagai penyakit lain seperti TBC dan comorbid Covid-19 di seluruh dunia. Namun, medsos telah menjadi WMD teror biologis Covid19 sehingga seolah vaksinasi menjadi pilihan tak terelakkan. Ada rencana passport vaksinasi untuk memaksa rakyat divaksinasi dan memidanakannya jika tidak bersedia.

Baca Juga   Media Asing: Jumlah Kematian akibat Corona di Indonesia Lebih dari 2.200 Orang

“Totaliterianism meningkat tajam oleh pandemisasi ini. Kriminalisasi kerumunan Petamburan dan Megamendung atas seorang ulama masyhur bisa jadi bukti. Civil liberty menurun drastis seiring perekonomian yang anjlog akibat PSBB berlarut-larut dan berkepanjangan,” ungkapnya.

Sebagai penyintas covid-19 yang kehilangan saudara, dan teman sejawat akibat covid-19 ini, Daniel mengetahui ancaman mati bagi penderita paruh baya dengan comorbid memang nyata. Tapi dengan mempertimbangkan bonus demografi bangsa ini, menerima arahan WHO dan menyatakan bahwa covid-19 ini sebagai pandemi adalah sikap yang keliru.

“Kekeliruan ini semakin besar dengan kebijakan pembatasan sosial berskala besar dan program vaksinasi kagetan yang dengan alasan kedaruratan tidak melalui prosedur pengujian yang wajar. Ongkos sosial, ekonomi dan kesehatan dari pandemisasi ini tidak bisa diterima karena berpotensi mengubah bonus demografi menjadi bom demografi,” jelasnya.

Upaya teror biologis ini tampaknya akan terus dilanjutkan dengan semburan wacana terang-terangan tentang kehadiran “varian2 covid” baru yang kebal terhadap vaksin yang sekarang sudah disuntikkan ke jutaan manusia di seluruh dunia.

Daniel mengatakan, pandemisasi atas covid-19 sebagai senjata penyesatan massal ini harus segera dihentikan. Muslim muda Indonesia berusia produktif yang telah dipaksa menjauhi masjid, tidak berjabat tangan, melaksanakan sholat berjamaah berjarak dan bermasker, tidak mudik menemui orang tua di kampung halaman untuk bersilaturahim, adalah kelompok warga negara muda yang paling dirugikan. (AHM/SN)

28 Comments
  1. Deni yunizar says

    Sexligus upaya tuq doktrin generasi muda..perlahan2 yg tua yg lama mengenyam diera 32thn orba dihapus perlahan2..ulah medsos (buzzer rp negativ)

  2. Yushie says

    Guru besar pembela HRS… kayaknya kagak punya otak yg waras… bagaimana mungkin isu pandemi di kapitalisasi menjadi senjata pemusnah masal..

    1. Ayi says

      Beliau dapat profesor bukan hadiah.. jadi gunakan akal sehatnya jika komentar..buang jauh jauh otak sungsang yaa

    2. ka says

      yg berbahaya justru vaksin sebagai alat pemusnah massal… cuma org yg berakal yg paham

    3. Zahid says

      Kalau mau menyanggah tunjukkan bukti dan argumentasi yg mengcounter argumentasi Prof Daniel. Jangan melakukan argumentum ad hominem. Logika anda sesat kalau begitu.

    4. Ifozzz says

      Kayaknya yg komen ini otaknya lbh gk waras….pendukung buzzeRp & rezim kodok bobrok……

  3. Mokhlas says

    Saya tak habis pikir dengan isi otak guru besar ini. Membahayakan negara.

    1. Yaniqa says

      𝙍𝙚𝙯𝙞𝙢 𝙨𝙖𝙙𝙞𝙨,𝙯𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙙𝙞𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙯𝙖𝙡𝙞𝙢… 𝙇𝙖𝙠𝙣𝙖𝙩𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝…

  4. tulus wijanarko says

    Sebagai akademisi apakah dia punya bukti atas tuduhannya itu? Atau cuma mbacot saja?

  5. Reborn says

    Semua kadrun akan auto oon pada waktunya

    1. Ernest says

      Gubes dah keblinger..lama gk ketemuan sm mahasiswinya otaknya jdi mengkerut

  6. Yuliansyah says

    Jgn hina & sepelekan dirinya, bila kita sama sama panjang usia, kita “SAKSIKAN”. Bisa jadi analisa dia sbg org yg cinta tulus pd negeri ini…” BENAR ADANYA” di hari kedepannya.

  7. Roni says

    Hanya bacotan saja tanpa solusi yg diberikan, sama saja memprovokasi dan mengasut.

  8. Nur Amin says

    BuzzeRp kepanasan

  9. Zaen Aziz says

    PPKM untuk siapa ?
    TK ASENG – Asing BEBAS masuk … ?

    1. Aceng says

      Kamu jangan bilang kadrun ke muslim ya,jahat kamu

  10. Nginden says

    Buzzer nya banyak betul yg komen disini..😂😂😂

    1. Willy says

      Kok bisa seorang Guru Besar sekaliber ITS…. ITS loh punya pemikiran dan analisa seperti ini.. Memalukan sekali ITS punya karakter dan opini seorang Guru Besar berkualitas beginiian dinegri yang kita cintai ini.. ampun dah.. atau ini berita gak benar yah??

  11. Mala says

    Menjadi guru besar harusnya memberikan pencerahan dan menjadi tauladan yang baik bagi mahasiswa dan masyarakat, berpikir ilmiah dan masuk akal bukan menjadi provokator yang menjerumuskan mahasiswa dan masyarakat ke dalam kebodohan berpikir seperti anda….
    Sayang sekali masih punya pikiran bodoh seperti ini bisa menjadi guru besar

  12. Aby says

    Pemuja bipang banyak yg protes..😁😂🤣

  13. Aby says

    Pemuja bipang banyak yg protes..😁😂🤣

  14. Herry Kaboel says

    Seorang Guru besar harusnya berbicara yg jelas Siapa yg di maksud REZIM ? Apakah Dia sudah punya prestasi buat bangsa ini. Profesor Dia di bidang apa ? Kenapa tidak di aplikasikan utk kemajuan bangsa ? Semua yg di bicarakan ga jelas arahnya kemana.
    Dan kalau benar pemerintah salah. Apa solusi yg bisa Dia berikan sebagai Guru besar , sama saja dgn Imam besar yg ga punya arti kebesaran nya.

  15. Ernest says

    Gubes dah keblinger..lama gk ketemuan sm mahasiswinya otaknya jdi mengkerut

  16. Ferady says

    Wow….sungguh masuk diakal dan memang kenyataannya spt itu,,,,,,,bazzer pd nongol kepanasan,,,,,,semoga buzzer dan keluarganya menikmati kebodohannya didunia dan diakhirat.

  17. Abutjanda says

    Analisis genial Prof..!! Bak kecoak kena semprot racun serangga, grombolan buzzer tjien langsung pada nongol.. mabok kepanasan.

  18. Ayi says

    Saya yakin seorang guru besar pasti tidak sembarang bicara,, semoga jadi referensi bagi aparat keamanan dlm bertindak,, sebaiknya menggunakan hati nurani jgn bertindak bodoh terhadap rakyat kecil toh setelah pensiun anda jadi rakyat biasa atau berganti rezim keadaan akan berbeda..

  19. HD says

    Orang yg tulus memikirkan bangsa dibenci, aneh.. Aneh bener otak cebong…Semangat prof

  20. HD says

    Orang yg tulus memikirkan bangsa dibenci, aneh.. Aneh bener otak cebong…Semangat prof

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Contact me
email