spot_img

Perang dan Konflik Internal, Presiden Iran Dikabarkan Ajukan Pengunduran Diri

KNews.id – Jakarta – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, disebut ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Kabar itu disampaikan media oposisi Iran yang berbasis di London, Inggris, Iran International (IRNA), Minggu (31/5/2026).  Menurut IRNA, Pezeshkian sudah mengirim surat pengunduran diri ke Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Namun, belum ada info lebih lanjut apakah Khamenei menerima pengunduran diri Pezeshkian atau tidak.

1. Pezeshkian ingin mundur karena IRGC

Menurut keterangan seorang pejabat Iran anonim, keinginan Pezeshkian untuk mengundurkan diri dipicu Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Sebab, hubungan sang presiden dengan IRGC dikabarkan sedang tidak baik-baik saja.

- Advertisement -

Jadi, sejak Iran berperang dengan Amerika Serikat dan Israel, IRGC dikabarkan mengambil alih sebagian besar jalannya roda pemerintahan. Ini membuat ruang gerak Pezeshkian sebagai presiden jadi terbatas. Ia tidak bisa ikut mengambil keputusan, terutama soal perang. Inilah yang membuat Pezeshkian akhirnya berniat untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.

2. Ada perbedaan pendapat antara Pezeshkian dan IRGC

Selain itu, IRNA menjelaskan, keinginan Pezeskhian untuk mengundurkan diri juga dipicu perbedaan pendapat dengan IRGC. Pezeshkian dikabarkan berbeda pendapat dengan IRGC terkait kebijakan untuk mengatasi perang dengan AS dan Israel. Perbedaan pendapat ini membuat roda pemerintahan menjadi tidak seimbang dan penuh konflik kepentingan.

- Advertisement -

“Perbedaan mereka adalah bagaimana cara perang dikelola dan konsekuensi destruktifnya terhadap mata pencaharian rakyat dan perekonomian negara,” jelas seorang sumber anonim Pemerintah Iran kepada IRNA, seperti dikutip Jerusalem Post.

3. Pezeshkian ingin mengundurkan diri di tengah negosiasi AS dan Iran

Negosiasi perdamaian di antara dua negara.

Kabar pengunduran diri Pezeshkian ini mencuat di saat negosiasi perdamaian AS dan Iran sedang berlanjut. Negosiasi AS dan Iran sebetulnya sudah digelar secara tidak langsung sejak 21 Mei lalu. Namun, hingga saat ini, belum ada keputusan konkret yang diambil oleh kedua negara.

Saat ini, Iran juga belum merespons proposal perdamaian terbaru yang diberikan Negeri Paman Sam. Ini membuat negosiasi damai berjalan sangat alot. Padahal, AS sudah mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar jika kesepakatan damai gagal diraih.

“Kami mampu untuk memulai kembali (serangan ke Iran) jika diperlukan. (Bahkan), kami lebih dari mampu. Persediaan kami lebih dari cukup untuk itu, baik di sana maupun di seluruh dunia. Jadi, kami berada dalam posisi yang sangat baik,” kata Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, saat berkunjung ke Singapura pada Sabtu (30/5/2026) dilansir Reuters.

(NS/IDN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini