KNews.id – Jakarta – Pernikahan indah dan bahagia tentu idaman semua orang. Namun, pada faktanya menyatukan dua orang dalam komitmen jangka panjang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti ada kendala yang ditemui dalam perjalanan.
Masalah dalam pernikahan dapat menimbulkan tekanan pada hubungan, tetapi ada pilihan dalam cara menangani masalah-masalah ini.Wellness coach yang mendalami stres, Elizabeth Scott, PhD, mengungkapkan lima masalah yang kerap terjadi dalam pernikahan seperti dikutip dari laman Verywell Mind:
1. Permasalahan Keuangan
Beberapa masalah keuangan yang bisa muncul dalam pernikahan antara lain:
- Perbedaan pendapat dalam pengambilan keputusan finansial, seperti investasi atau pengeluaran rumah tangga.
- Perbedaan pandangan tentang uang, misalnya seberapa banyak harus ditabung dibandingkan dibelanjakan.
- Tidak membicarakan kondisi keuangan sebelum menikah.
- Perbedaan tingkat pendapatan antara pasangan.
- Perbedaan kebiasaan dalam membelanjakan uang.
“Ketika stres karena masalah keuangan, kondisi ini membuat salah satu atau dua-duanya menjadi kurang sabar atau lebih mudah tersinggung. Alhasil berpotensi menyebabkan konflik yang tidak terkait,” tutur Elizabeth.
Solusi
Komunikasi terbuka adalah kunci. Sampaikan secara terbuka tentang pengeluaran dan rencana keuangan. Usahakan untuk mencapai kompromi yang membuat Anda dan pasangan merasa nyaman tanpa merasa terkekang secara finansial.
2. Pengasuhan Anak
Memiliki anak bisa menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan bagi suami dan istri. Di sisi lain kondisi juga menantang karena membawa tambahan tekanan dalam hubungan pernikahan.
Beberapa masalah yang mungkin muncul setelah memiliki anak antara lain:
- Waktu dan energi untuk satu sama lain jadi berkurang.
- Waktu pribadi untuk melepas stres atau merawat diri sendiri semakin terbatas.
- Tekanan finansial karena biaya membesarkan anak yang ternyata besar.
- Muncul rasa kesal atau tidak adil jika salah satu merasa menanggung sebagian besar tanggung jawab.
- Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman.
Solusi
Beradaptasi menjadi orangtua memang butuh waktu, terutama bagi pasangan yang baru pertama kali punya anak.
Cobalah mencari sistem dukungan dari keluarga atau teman, atau jika memungkinkan, sesekali menggunakan jasa pengasuh agar bisa punya waktu berdua.
Luangkan waktu sejenak dari rutinitas mengasuh anak untuk kembali terhubung sebagai pasangan, meski hanya beberapa jam. Ini penting untuk mengingat kembali peran satu sama lain sebagai suami dan istri.
3. Stres Akan Keseharian
Stres-stres kecil dalam keseharian bila tidak ditangani bisa berkembang menjadi konflik. Hal-hal seperti seperti terjebak macet, terlambat ke kantor, atau cemas menghadapi deadline bisa membuat stres.
“Dalam pernikahan, stres ini bisa menimbulkan efek “tumpahan” (spillover), terutama jika salah satu pasangan pulang dalam kondisi lelah lalu melampiaskan emosinya—misalnya menjadi mudah marah atau tidak sabar,” tutur Elizabeth.
Ketika salah satu pasangan mengalami hari yang berat, energi emosional untuk menjaga hubungan bisa berkurang. Namun, kika keduanya sama-sama sedang stres, kondisi ini tentu bisa semakin memperburuk keadaan.
Stres harian juga bisa menguji kesabaran sehingga pasangan jadi kehabisan energi untuk saling memberi perhatian.
Solusi
Kuncinya ada pada memahami dan menghormati batasan masing-masing. Misalnya, kalian bisa sepakat bahwa sesi curhat dibatasi hanya 10 menit agar tidak menambah beban suasana di rumah. Atau belajar memberi ruang ketika salah satu butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri.
Yang tak kalah penting, masing-masing perlu punya cara sendiri untuk mengelola stres, sehingga bisa hadir dalam hubungan dengan kondisi emosional yang lebih baik.
4. Jadwal Padat
Tinggal di perkotaan, terlebih bagi yang commute dari rumah ke kantor setiap hari, bakal memiliki jadwal yang padat. Kesibukan yang padat akan membuat kondisi menjadi:
- Stres, terutama jika mereka tidak menjaga dengan tidur yang cukup dan pola makan yang baik.
- Merasa kurang terhubung satu sama lain, hal ini terjadi karena waktu bersama semakin sedikit, sementara kehidupan masing-masing terasa berjalan sendiri-sendiri.
- Kekompakan berkurang, bahkan berujung saling berselisih soal siapa yang bertanggung jawab atas urusan rumah tangga maupun sosial.
Solusi
Penelitian menunjukkan bahwa waktu berkualitas dapat meningkatkan kesejahteraan dalam hubungan. Aktivitas sederhana yang dilakukan bersama secara rutin seperti menonton acara favorit atau makan malam berdua bisa membantu mempererat kedekatan.
Lalu, mencoba hal baru bersama juga bisa menjadi cara efektif. Psikolog Sabrina Romanoff menyebut bahwa pengalaman baru dapat menghadirkan perasaan antusias yang membuat hubungan terasa lebih positif.
Selain itu, pasangan juga bisa keluar dari peran lama yang mungkin sudah terasa membosankan.
Berolahraga bersama jika memungkinkan. Aktivitas ini dapat meningkatkan hormon endorfin yang berkaitan dengan perasaan bahagia, sekaligus memperkuat ikatan emosional antar pasangan.
5. Komunikasi yang Buruk
Salah satu masalah pernikahan yang sering terjadi: komunikasi yang buruk.
Solusi
Berikut beberapa hal yang bisa dicoba:
- Mulai dari obrolan ringan: Sekadar bertanya, “Apa kabar?” atau “Gimana harimu hari ini?” bisa menjadi pengingat sederhana bahwa kalian saling peduli dan mendukung.
- Tunjukkan kasih sayang: Coba pahami bahasa cinta masing-masing. Misalnya dengan memberi pelukan, atau sesekali memberikan hadiah kecil sebagai tanda perhatian.
- Gunakan teknik pembicara dan pendengar: Dalam metode ini, satu orang berbicara sementara yang lain benar-benar mendengarkan. Pendengar perlu melakukanactive listening, misalnya dengan mengulang kembali apa yang ia tangkap untuk memastikan tidak salah paham.
- Gunakan pernyataan “saya”: Misalnya mengatakan, “Aku merasa sedih saat kita jarang menghabiskan waktu bersama,” dibandingkan, “Kamu tidak pernah meluangkan waktu untukku.” Cara ini bisa mengurangi kesan menyalahkan dan defensif, serta lebih menekankan pada perasaan yang dirasakan.




