spot_img
Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
spot_img

Trump ‘Ngambek’ ke China Usai Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

  1. KNews.id – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump ‘ngambek’ ke China setelah Beijing menolak permintaan Trump untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz dan melawan Iran.
  2. Dikutip dari Reuters, Senin (16/3), Trump sempat berharap China akan membantu untuk membuka blokade Selat Hormuz dari kawalan Iran. Trump berharap China sudah mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz sebelum pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di Beijing berlangsung pada akhir Maret 2026.

    Namun, Trump memberi isyarat China tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Kondisi itu membuat Trump berencana untuk menunda rencana perjalanan ke China.

    “Saya pikir China seharusnya juga membantu, karena China akan mendapatkan 90 persen minyak dari Selat Hormuz. Kami mungkin akan menunda [kunjungan ke China],” ujar Trump dikutip dari Reuters.

    - Advertisement -

    China sendiri mengaku terus melakukan komunikasi dengan AS terkait kunjungan Trump. Pihak Beijing memastikan hingga kini belum ada keputusan mengenai penundaan kunjungan Trump.

    Sebelumnya, Trump mendesak negara-negara lain mengirim kapal angkatan laut ke Timur Tengah dan mengawal kapal melewati Selat Hormuz.

    - Advertisement -

    Dengan perang AS-Israel vs Iran menciptakan kekacauan di seluruh Timur Tengah dan mengguncang pasar energi global, Trump menegaskan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari Teluk memiliki tanggung jawab untuk melindungi Selat Hormuz.

    Trump berharap negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga Inggris berpartisipasi. Namun, Trump terpaksa harus menggigit jari. Jepang, Australia, Kanada sudah menyatakan tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

    Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya, yang terikat oleh konstitusi yang menolak perang, tidak memiliki rencana untuk mengirimkan kapal angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal di Timur Tengah. Padahal Jepang mendapatkan 95% pasokan minyaknya dari wilayah itu.

    “Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum,” kata Takaichi.

    (NS/CNN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini