KNews.id – Jakarta – Amerika Serikat (AS) kini menghadapi perubahan besar dalam struktur belanja negaranya. Untuk pertama kalinya sejak akhir 1920-an, pemerintah AS mengeluarkan dana lebih besar untuk membayar bunga utang dibandingkan untuk belanja pertahanan nasional.
Perubahan ini menjadi sinyal penting dalam prioritas anggaran federal AS. Ketika utang terus membengkak dan biaya pinjaman meningkat, pembayaran bunga utang mengambil porsi yang semakin besar dalam anggaran negara.
Melansir dari Visual Capitalist, data Gedung Putih dan proyeksi Congressional Budget Office (CBO) per Februari 2026, pembayaran bunga utang bersih AS diperkirakan mencapai US$2,1 triliun pada 2036, ini setara dengan Rp36.340 triliun (asumsi kurs Rp17.305/US$1).
Angka ini jauh melampaui belanja pertahanan yang diproyeksikan sebesar US$1,1 triliun pada periode yang sama.
Sebagai gambaran, pada 2024 pembayaran bunga utang AS telah mencapai US$879,9 miliar. Angka ini sudah melampaui belanja pertahanan AS yang berada di US$850,7 miliar.
Proyeksi hingga 2036 menunjukkan bahwa pembayaran bunga utang akan terus bergerak lebih cepat dibandingkan belanja pertahanan, meskipun anggaran militer AS juga diperkirakan tetap meningkat.
Beban Bunga Utang dan Belanja Pertahanan AS (US$ Miliar)
Bagaimana Bunga Utang AS Bisa Salip Belanja Pertahanan?
Kenaikan beban bunga utang AS tidak terjadi dalam waktu singkat. Pada periode 1996 hingga 2001, belanja pertahanan AS rata-rata masih sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan biaya bunga utang bersih. Saat itu, beban bunga masih relatif terkendali karena suku bunga cenderung menurun dan anggaran pemerintah AS sempat mencatat surplus.
Kesenjangan antara belanja pertahanan dan pembayaran bunga utang kemudian melebar tajam setelah serangan 11 September 2001. Belanja militer AS melonjak dan bahkan berlipat ganda dalam satu dekade berikutnya, hingga mencapai US$699 miliar pada 2011.
Sementara itu, biaya bunga utang naik lebih lambat dan berada di kisaran US$230 miliar pada periode yang sama. Memasuki era suku bunga rendah pada 2010-an, biaya pinjaman AS tetap rendah meskipun utang pemerintah federal hampir dua kali lipat. Utang federal naik dari US$9,0 triliun pada 2010 menjadi US$16,8 triliun pada 2019.
Kondisi ini sempat menutupi biaya jangka panjang dari pembengkakan utang tersebut. Namun, situasinya berubah setelah pandemi Covid-19. Lonjakan kebutuhan pembiayaan pemerintah, ditambah kenaikan suku bunga, membuat biaya pembayaran bunga utang melonjak tajam. Beban bunga utang bersih AS bahkan hampir tiga kali lipat menjadi US$970 miliar pada 2025.
Pada 2026, tagihan bunga utang bersih AS diperkirakan mencapai US$1,0 triliun. Dengan nilai tersebut, pembayaran bunga utang akan menjadi salah satu pos anggaran besar yang tumbuh paling cepat.
Jika proyeksi saat ini benar-benar terjadi, dalam satu dekade ke depan AS akan menghabiskan dana jauh lebih besar untuk membayar bunga utang dibandingkan untuk pertahanan nasional. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai bagaimana pemerintah AS akan menyeimbangkan stabilitas ekonomi, kebutuhan keamanan, dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Kenapa Ini Penting?
Perubahan ini bukan sekadar soal angka. Kenaikan pembayaran bunga utang menunjukkan adanya pergeseran mendasar dalam cara AS menggunakan sumber daya fiskalnya. Semakin besar pembayaran bunga, semakin besar pula bagian anggaran yang “terkunci” hanya untuk membayar kewajiban masa lalu. Artinya, ruang fiskal pemerintah untuk membiayai prioritas lain bisa semakin terbatas.
Dampaknya bisa terasa pada berbagai sektor, mulai dari pertahanan, infrastruktur, riset, hingga program-program yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang, beban bunga yang semakin besar juga bisa mengurangi fleksibilitas pemerintah AS dalam merespons krisis ekonomi atau tantangan baru yang muncul.
Dengan kata lain, kenaikan pembayaran bunga utang bukan hanya mencerminkan utang AS yang terus membesar. Lebih dari itu, beban bunga yang semakin tinggi juga ikut menentukan seberapa besar kemampuan pemerintah AS untuk membiayai agenda-agenda penting berikutnya.




