KNews.id – Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa dirinya telah memperingatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk berhenti menyerang kilang diesel di Rusia. Trump menyebut serangan itu menyebabkan kelangkaan dan berkontribusi pada kenaikan harga bahan bakar.
Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan AS, Air Force One, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Senin (14/9/2026), Trump mengatakan bahwa gangguan terhadap produksi bahan bakar Rusia berdampak pada pasokan global dan “merugikan” negara-negara lainnya.
“Masalah yang saya lihat terkait Ukraina dan Rusia adalah bahwa banyak pasokan diesel berasal (…) dari Rusia, dan fasilitas-fasilitas Rusia itu diserang oleh Ukraina,” kata Trump dalam penerbangan pulang ke AS usai berkunjung ke Irlandia pada Minggu (13/9).
“Ada satu hal yang harus dilakukan Tuan Zelensky. Dia harus berhenti melumpuhkan fasilitas bahan bakar diesel di Rusia,” cetusnya.
“Silakan saja dia menyerang target-target lainnya, tetapi jangan fasilitas bahan bakar diesel, karena tindakannya itu menyebabkan kelangkaan diesel. Ini bukan disebabkan oleh Timur Tengah, melainkan akibat dari situasi yang terjadi antara Rusia dan Ukraina,” ujar Trump dalam pernyataannya.
Trump menambahkan bahwa dia telah berbicara dengan Presiden Ukraina tersebut mengenai peningkatan serangan Kyiv terhadap fasilitas-fasilitas semacam itu dalam beberapa bulan terakhir,
“Masih banyak target lainnya. Jangan menyerang fasilitas bahan bakar diesel karena itu merugikan. Serangan itu merugikan dunia,” ucap Presiden AS tersebut.
“Saya telah meminta Presiden Zelensky untuk tidak menyerang fasilitas diesel maupun kilang-kilang tersebut,” tandasnya.
Ukraina telah menyerang sejumlah kilang minyak Rusia yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan kedua negara. Sementara Moskow juga meningkatkan serangan jarak jauh dalam beberapa bulan terakhir, yang mengakibatkan lonjakan jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil.
Kyiv telah melancarkan serangan drone dalam jumlah yang mencetak rekor ke arah Rusia. Sedangkan Moskow melancarkan serangan rudal dalam jumlah tertinggi yang pernah tercatat.






