Dialog Panjang dengan Jin Penginjil
Dalam keadaan yang membingungkan dan tertekan, akhirnya pertolongan Allah itu datang pula. Saat berkumpul dengan teman- teman di dalam suatu majelis ta’lim, seorang teman saya yang bernama Linda bercerita tentang ruqyah yang baru diikutinya di Pondok Pesantren “Darul Fatah” di Jalan Kopi, Bandar Lampung.
Akhirnya, tanggal 14 Januari 2004, dengan ditemani dua orang teman, saya datang ke pesantren Darul Fatah. Rupanya di sana, telah berkumpul beberapa orang yang memiliki tujuan yang sama dengan saya, meski dengan keluhan yang berbeda. Selang sepuluh menit Ustadz Hafi memutar kaset di ruang laboratorium bahasa, tubuh saya berguncang hebat. Padahal saya terbiasa membaca Al-Qur’an. Keringat dingin bercucuran tanpa dapat saya tahan. Meski demikian saya mencoba untuk menguasai diri, tapi akhirnya pertahanan saya jebol juga. Wajah saya menegang dan dengan sekuat tenaga, “braaak” tangan saya menggebrak meja laboratorium dengan keras. Gebrakan yang menarik perhatian semua orang.
Mengetahui saya bereaksi dengan keras, ustadz Hafi segera mendekati saya. Dan untuk sesaat saya bisa menahan diri. Namun, sejurus kemudian, saya tidak bisa mengontrol diri kembali. Dengan tanpa sadar saya menggebrak meja lebih keras sambil berdiri. Selanjutnya “buuuk” saya merasakan pukulan menghantam punggung saya. Pukulan yang mendadak itu, membuat saya terduduk lemas. Selanjutnya saya diperintahkan untuk rebahan di lantai. Dada saya bergemuruh dan ingin menumpahkan kemarahan yang terpendam. Saya semakin tidak bisa menguasai diri, sehingga dengan tiba-tiba saat ustadz Hafi berada di dekat saya, saya bangkit dengan mata memerah menatap tajam, kaki saya bergerak menendang ustadz Hafi.
Tendangan saya itu dibalasnya dengan pukulan dipunggung saya sambil meneriakkan, “Ukhruj yaa aduwwallah! (Keluar wahai musuh Allah !) Tempatmu bukan di sini.” Setelah itu saya sadar kembali dan mendengarkan kaset ruqyah. Ketika tiba giliran saya untuk diterapi tidak ada dialog karena jin itu mengaku atheis.
Beberapa minggu kemudian, saya datang lagi. Tidak seperti ruqyah pertama, saat mendengarkan kaset ruqyah saya biasa-biasa saja. Namun begitu ustadz Hafi menekan punggung saya, saya langsung bereaksi keras. Mata saya melotot dan terjadilah dialog yang saat itu sempat direkam.
“Bismillah. Assalamu alaikum,” tanya ustadz Hafi. Jin itu tidak mau menjawab hingga diulang tiga kali. “Siapa kamu? Apa agamamu ?”
“Saya Mikail. Saya Kristen,”
“Kapan kamu masuk ke sini? Dan mengapa?”
“Sudah agak lama. Saya ingin ia masuk agama saya.”
“Kamu di dalam dengan siapa?”
“Kami sekeluarga. Ada bapak, ibu, Mathius, Aras, dan adik saya Shafa.”
Kemudian terjadi dialog yang amat panjang antara ustadz Hafi dengan para jin itu melalui mulut saya. Dialog yang hampir bermiripan antara jin satu dengan lainnya.
“Yani tidak akan keluar dari agama Islam. Agama kami adalah agama yang benar dan diridloi Allah. la tidak akan berpindah agama,” ujar ustadz Hafi.
“Kami orang Islam, kami benci kalian, dan kami benci orang-orang yang berjilbab.”
“Terserah kamu. Sekarang kalian harus keluar dari tubuh Yani.”
“Ha..ha..haa. Tidak mau. Tidak akan pernah, sebelum ia kami baptis. Kami akan ganggu terus, hingga jadi penakut, susah bangun malam dan tidak baca Al-Quran. Shalat malam paling saya benci.” Jin Mikail tertawa. Kata teman saya yang sempat melihat, saat itu mata saya melotot dan saya menjulurkan lidah sambil mendesis seperti ular.
“Tidak akan pernah bisa wahai musuh Allah. Mengapa kamu ingin memurtadkannya?”
“Itu adalah tugas kami. Kami punya pasukan dalam jumlah besar yang dikomandoi oleh pendeta dari…. (jin itu menyebut nama sebuah tempat di Jakarta) Dan menjelang pemilu ini, pasukan kami dari kalangan jin disebar ke berbagai tempat untuk mengacaukan kaum muslimin agar tidak memilih partai yang orang perempuannya pakai jilbab itu.”
“Partai apa yang kamu maksud ?”
“Itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mereka harus dihancurkan. Mereka tidak boleh memilih partai Islam. Kami benci mereka, kami benci wanitanya. Mereka setia pakai jilbab kapan saja. Kami akan ganggu mereka. Dan mengajak dan membisiki mereka untuk memilih partai kami dan berpindah ke agama kami.”
“Memilih partai Kristen?”
“Iya” cetus jin itu dengan keras. “Agar kami bisa menguasai negeri ini mulai sekarang.”
“Sekarang keluar, sebelum saya sakiti kamu!”
“Tidak akan bisa. Ha..ha.. haaa Yesus melindungi kami.”
Lalu ustadz Hafi memukul daerah punggung dan kaki saya. jin yang merasuki tubuh saya itu meronta-ronta kesakitan dan berteriak, “Yesus… Bunda Maria, Bapa yang di sorga… Tolong aku”
Setelah hampir setengah jam, barulah jin itu menyerah.
“Baiklah, apa maumu hai orang Islam? Saya merasa kepanasan dan remuk tubuh saya.”
“Kamu harus keluar.”
“Saya tidak mungkin keluar. Saya sudah berjanji di depan pendeta saya. Saya takut kalau dihukum dan dibunuh.”
“Mengapa kamu mau disuruh berbuat kejahatan Mengganggu anak ini adalah kejahatan!”
“Saya dijanjikan sorga.”
“Bohong itu. Ajakan itu penuh kebohongan Sudah baca kitab kalian?”
“Sudah.”
“Baca di Perjanjian Baru Paulus mengatakan kalau agama ini bisa tersebar dengan kebohongan, maka mengapa kamu tidak sadar? Siapa Tuhan kalian?”
“Yesus.”
“Dia bukan Tuhan. Tidak satu ayatpun dalam Kitab kalian yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan atau ia memerintahkan untuk disembah.”
“Mengapa kalian menganggap Yesus sebagai Tuhan?”, tanya Ustadz Hafi.
“Karena dia lahir dari wanita yang suci. la lahir tanpa bapak.”
“Banyak orang yang lahir dari wanita suci. Berarti Tuhan banyak, bukan Yesus saja. Nabi Adam lahir tanpa ibu bapak. la lebih berhak untuk dipertuhankan.”
“Iya sih.” Jin itu mulai kalah beradu argumentasi. Kemudian ustadz Hafi mengungkapkan beberapa ayat yang membuat jin semakin pusing dan bingung serta penjelasan pandangan Islam.
Akhirnya mereka tertarik untuk masuk Islam. Dan satu persatu dibimbing membaca dua kalimat syahadat serta berikrar untuk tidak mengganggu lagi. Bahkan jin kristen yang telah masuk Islam itu, dengan kemauannya sendiri, akan berdakwah kepada sekumpulan pendeta.
Sebelum keluar, para jin itu berpesan, “Wahai kaum muslimah, hati-hatilah! Kami lebih senang masuk ke tubuh kalian. Karena kalian lemah dan mudah lalai. Teman-teman kami (jin yang masih Kristen) akan mengganggu kalian, terutama ketika beribadah agar tidak tenang. Kami ganggu kalian dengan televisi, tape dan alat musik. Untuk itu hati-hatilah kalian!” demikian pesan sekaligus pengakuan jin kepada beberapa wanita muslimah yang kebetulan saat itu mengerubungi saya.
Setelah ruqyah yang kedua ini saya baru sadar bahwa bisikan-bisikan dan gangguan ketika shalat berasal dari beberapa jin Kristen dalam diri saya. Mereka berusaha mempengaruhi dan mengkrintenkan saya. Dari sini saya semakin bertekad untuk melawan gangguan yang menggerogoti keimanan itu, meski apa yang terjadi setelah ruqyah ini bertambah parah. Genderang perang seakan sudah ditabuh untuk melawan bisikan yang tidak berkurang, “Untuk apa Allah menciptakan jin. karena jin hanya mengganggu manusia” “Apakah Allah tidak kurang kerjaan dengan menciptakan jin”.
Bisikan itu semakin berat karena sudah mempertanyakan hak Allah. Untuk itu saya segera mengkoreksi pikiran buruk itu, “Tidak, tidak. Allah menciptakan jin itu hanya untuk beribadah.” Ternyata gangguan yang semakin berat itu memang berasal dari jin Kristen yang masih belum keluar dari tubuh saya.
Hal ini saya ketahui setelah ruqyah yang ketiga, “Saya dengan Aras masih bersaudara. Kalian penjahat. Saudara-saudara kami telah keluar. Mereka masuk agama kalian. Kami datang untuk mengganggunya lebih kuat. Kami akan balas dendam. ingin membuat perhitungan dengan kamu, wahai orang jahat!” ungkapan terus terang dari jin yang mengaku bernama Lukas.
Ancaman itu rupanya tidak main-main. Para jin yang masih tinggal di tubuh saya itu terus mengganggu. Saat takbiratul ihram sudah terucap, para jin itu mulai bergerilya. Mereka menusuk-nusuk tubuh saya, mulai dari kaki hingga punggung. Seakan ribuan jarum terasa menusuk- nusuk tubuh saya. Tidak ketinggalan mata saya juga menjadi sasaran kekejaman mereka. Sakit yang tiada terkira itu akhirnya memang tidak bisa saya tahan. Derai airmata pun bercucuran, saya menangis di kamar dengan suara lirih. Saya tidak ingin tidur orangtua dan saudara saya menjadi terganggu, seperti saya juga tidak mau meninggalkan shalat malam ini. Dalam keadaan demikian, saya merasa semakin kecil di hadapan Allah. Dan hanya kepada-Nya lah saya berkeluh kesah. Akhirnya tusukan jarum itu berakhir setelah berdzikir berulang- ulang.
Hari-hari berikutnya gangguan itu tidak lagi sebatas dalam shalat. Jin Kristen itu tidak merelakan saya terus berdzikir, bahkan ketika membaca doa mau tidur saja sudah diganggu sedemikian rupa. Mata saya dibuat terkantuk, dan tertidur pulas sebelum selesai berdoa. Padahal untuk berdoa itu hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Saat terbangun saya mencoba berdoa lagi, tapi hasilnya tetap sama, “plees” saya langsung tertidur.
Saya tidak boleh menyerah, meski harus berkali-kali diruqyah. Dan, pada saat ruqyah yang kelima pengaruh jin itu demikian kuat. Dia berusaha menguasai diri saya. Ya, dia menggerakkan tangan saya hingga akhirnya mengepal di depan dada. Persis seperti hendak berdoa. Benar saja, beberapa saat kemudian keluarlah puji- pujian dalam agama Kristen. Tidak cukup berdoa di tempat, jin itu juga berusaha mengajak saya berlari, “Saya mau ke gereja. Saya mau dibaptis sekarang,” teriakan saya itu menggema disela- sela usaha ustadz Hafi menundukkan jin Kristen yang masih bertahan di tubuh saya.
Sepulang dari ruqyah ini gangguan jin itu semakin menggila. Saat saya sedang shalat ia mengelabuhi mata saya dan menampilkan gambar salib di atas sajadah. Gambar Yesus yang disalib juga terus menari-nari dalam benak saya. Saya tidak perduli saya meneruskan shalat tapi keteguhan hati itu dibalas dengan bisikan halus di telinga, “Yesus-yesus”. Pas saya lagi sujud dengan membaca, “Subhanallahu wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji hanya bagi-Nya).” Terdengarlah bisikan, “Maha suci Yesus yang maha tinggi.” Saya semakin bingung, saya ingin menjawab pertanyaan itu, tapi tidak bisa karena saya sedang shalat.




