KNews.id – Jakarta – Harga minyak mentah dunia masih tertahan di level tinggi seiring pelaku pasar mencermati langkah selanjutnya menuju perundingan damai perang Iran. Saat ini, Amerika Serikat (AS) tengah mendiskusikan proposal dari Teheran, sementara jalur vital Selat Hormuz masih hampir tidak dapat dilalui.
West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96 per barel setelah menguat 2,1% pada hari Senin (27/4), sedangkan Brent bertahan di atas US$108. Presiden AS Donald Trump telah menggelar pertemuan untuk membahas proposal tersebut, namun tetap mempertahankan batasan tegas dalam kesepakatan apa pun, termasuk kepastian bahwa Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Meski gencatan senjata secara luas telah bertahan sejak awal April, blokade Selat Hormuz oleh Iran dan AS telah memangkas lalu lintas harian di jalur air tersebut hingga mendekati titik nol. Penutupan ini menghentikan aliran minyak mentah, gas alam, serta produk olahan minyak, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran akan krisis inflasi global.
“Masih ada ekspektasi umum bahwa aliran minyak akan mulai normal pada Mei dan Juni, yang membantu menjaga harga tetap terkendali,” ujar Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group. “Namun waktu terus berjalan. Setiap hari memperketat keseimbangan fisik, menggerus cadangan penyangga, dan meningkatkan risiko lonjakan harga yang lebih ekstrem.”
Media Iran pada Minggu melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi akan menyampaikan kepada Pakistan—selaku mediator—bahwa konflik dapat berakhir jika AS mencabut blokade laut, menyetujui kerangka hukum baru untuk lalu lintas di selat tersebut, dan menjamin tidak akan ada aksi militer di masa depan terhadap Iran.
Laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS menyebutkan bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya skeptis terhadap proposal Iran tersebut, meski negosiasi tetap berlanjut. Gedung Putih kemungkinan akan memberikan tanggapan dan proposal balasan dalam beberapa hari mendatang. Menurut laporan itu, Trump juga menyoroti keengganan Teheran untuk memenuhi tuntutan utamanya, yaitu menghentikan pengayaan nuklir dan berjanji untuk tidak pernah membuat senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam wawancara dengan Fox News yang tayang Senin, mengisyaratkan bahwa Iran masih ingin mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, yang menurutnya tidak dapat diterima oleh AS. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia mengalir melalui selat sempit tersebut.
Di sisi lain, dua kapal tanker minyak terkait Iran yang dicegat pasukan AS di dekat Sri Lanka pekan lalu sebagai bagian dari blokade, dilaporkan telah menghentikan pelayaran ke arah barat di Samudra Hindia dan berbalik arah.




