KNews.id – Jakarta – Aksi jahit mulut yang dilakukan sejumlah mahasiswa saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Lampung tidak hanya menjadi simbol protes. Salah satu peserta aksi, Dzaky Oktarian, mengungkap sejumlah tuntutan yang ingin disampaikan langsung kepada kepala negara.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lampung yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung itu mengatakan aksi jahit mulut dipilih karena berbagai bentuk demonstrasi sebelumnya dinilai belum mampu mendorong perubahan kebijakan.
“Sudah banyak aksi dilakukan, tetapi belum ada yang benar-benar sampai menjadi kebijakan. Harapannya dengan jahit mulut ini bisa lebih diperhatikan,” kata Dzaky.
Menurut dia, ide aksi tersebut muncul dari hasil diskusi bersama peserta aksi. Mereka mencari bentuk penyampaian aspirasi yang berbeda agar tidak sekadar menjadi demonstrasi rutin yang mudah dilupakan.
Dzaky menyebut terdapat lima tuntutan utama yang ingin disampaikan kepada Presiden Prabowo. Salah satunya adalah penerapan pajak kekayaan bagi kelompok super kaya di Indonesia.
“Kami melihat ada sekitar 50 orang terkaya di Indonesia. Pajak kekayaan bisa menjadi tambahan pemasukan negara di tengah kondisi APBN yang sedang defisit,” ujarnya.
Pesan untuk Prabowo
Selain itu, mereka juga menuntut pendidikan yang ilmiah, gratis, dan demokratis. Menurut Dzaky, biaya pendidikan tinggi masih menjadi persoalan bagi banyak masyarakat.
Dia mengaku aksi jahit mulut yang viral di media sosial diharapkan dapat memantik gerakan mahasiswa yang lebih luas.
“Ini bentuk penyadaran. Selama ini mahasiswa banyak mengkaji dan konsolidasi, tetapi kadang tidak ada aksinya. Kami ingin memantik semangat itu,” katanya.
Saat ditanya pesan yang ingin disampaikan langsung kepada Prabowo apabila mendapat kesempatan bertemu, Dzaky melontarkan kritik cukup tajam.
“Kami melihat beberapa pidato terakhir terkesan arogan. Yang ingin saya sampaikan, kurangi arogannya dan terima kritik,” ujar dia.
Dzaky berharap pemerintah membuka ruang dialog terhadap berbagai tuntutan yang dibawa mahasiswa.
“Kritik yang kami sampaikan merupakan bagian dari upaya memperkuat demokrasi dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” tandasnya.





