KNews.id – Jakarta – Meski Indonesia telah menjadi eksportir besi dan baja terbesar kelima di dunia, kinerja perdagangan sektor ini masih menyimpan paradoks besar. Neraca perdagangan besi dan baja nasional tetap mencatat defisit karena nilai impor konsisten lebih tinggi dibandingkan ekspor.
“Keberhasilan ekspor baja Indonesia ternyata belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan rantai nilai industri dari hulu hingga hilir. Hilirisasi besi baja tidak boleh dimaknai sekadar sebagai pembangunan pabrik atau peningkatan volume ekspor, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem industri yang mampu menciptakan nilai tambah hingga lebih dari 20 kali lipat,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (03/06/2026).
Kajian terbaru dalam White Paper NEXT Indonesia Center bertajuk “Ketimpangan di Hilirisasi Besi Baja” menemukan adanya anomali dalam rantai pasok besi baja nasional. Pada satu sisi, Indonesia berhasil membangun surplus perdagangan baja non-nikel sebesar US$2,06 miliar pada 2025. Namun pada saat yang sama, Indonesia tetap mengalami defisit pada bijih besi sebesar US$1,34 miliar dan defisit produk hilir besi baja sebesar US$2,52 miliar.
Dengan kata lain, Indonesia mulai tumbuh sebagai produsen produk antara, tetapi belum cukup kuat menghasilkan barang manufaktur berbasis besi dan baja yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa agenda hilirisasi masih belum sepenuhnya menyentuh segmen yang menghasilkan nilai ekonomi terbesar.
“Ketika baja sudah diolah menjadi produk yang lebih hilir seperti steel wire, fastener, wire mesh, PC wire/bar, hingga aplikasi akhir untuk industri otomotif, di situlah nilai tambah terbesar tercipta. Justru pada segmen bernilai tambah tinggi inilah Indonesia masih menghadapi tantangan dan defisit,” ungkapnya.
Herry Gunawan menjelaskan, perhitungan Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa bijih besi yang hanya menghasilkan nilai tambah 3,5 kali lipat pada tahap sponge iron dapat meningkat menjadi 22,6 kali lipat ketika diolah menjadi PC wire/bar untuk konstruksi. Pada industri otomotif, nilai tambah bahkan dapat mencapai 23,8 kali lipat.
Meskipun posisi Indonesia dalam rantai pasok bijih besi global relatif terbatas dengan cadangan bijih besi yang diperkirakan hanya 1,7% dari total cadangan dunia, bukan berarti Indonesia tidak memiliki peluang untuk menjadi kekuatan industri besi baja. Kuncinya terletak pada kemampuan menciptakan nilai tambah dan memperdalam rantai industri di dalam negeri.
Belajar dari Tiongkok: Minim Bahan Baku, Produksi Melimpah
Meski tidak termasuk negara dengan cadangan bijih besi terbesar dunia, Tiongkok berhasil menjadi salah satu kekuatan industri baja global. Data United States Geological Survei (USGS) mencatat, Tiongkok hanya memiliki sekitar 17 miliar ton cadangan bijih besi, jauh di bawah Australia, Rusia, dan Brasil.
Pada rantai industri konstruksi, Tiongkok bahkan tercatat masuk dalam kelompok importir untuk bahan baku seperti pig/sponge iron. Namun pada saat yang sama, negara tersebut tampil kokoh sebagai eksportir pada produk yang sudah naik kelas, terutama steel billet, steel bar, dan steel wire rod.
Data UN Comtrade tahun 2024 menunjukkan bahwa pada sisi ekspor, posisi Tiongkok terlihat dominan di beberapa produk hilir. Untuk steel billet, Tiongkok menjadi salah satu eksportir terbesar dunia dengan nilai ekspor US$6,2 miliar. Kemudian pada steel bar, nilai ekspornya mencapai US$2,8 miliar. Sementara pada steel wire rod, Tiongkok juga masuk sebagai eksportir utama global.
“Tiongkok memberi pelajaran penting bahwa keunggulan industri tidak ditentukan oleh besarnya cadangan bahan baku. Yang menentukan adalah kemampuan mengolah bahan baku global menjadi produk bernilai tambah tinggi,” kata Herry Gunawan.
Menurutnya, kekuatan Tiongkok dibangun melalui integrasi rantai pasok, dukungan pembiayaan industri jangka panjang, penguasaan teknologi manufaktur, serta keterhubungan erat antara industri baja dengan sektor konstruksi, otomotif, permesinan, dan infrastruktur.
Karena itu, menurut Herry Gunawan, Indonesia perlu melihat hilirisasi besi baja sebagai agenda pembangunan ekosistem industri, bukan sekadar proyek pengolahan mineral.
“Jika hanya berhenti pada produk antara, Indonesia akan terus kehilangan sebagian besar nilai tambah. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah baja menjadi produk manufaktur yang lebih kompleks, lebih kompetitif, dan memiliki pasar yang kuat,” ujar Herry Gunawan.
Lembaga Riset NEXT Indonesia Center menilai keberhasilan hilirisasi besi baja pada akhirnya harus diukur dari kemampuan Indonesia menekan defisit produk hilir, memperkuat industri pengguna, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
(NS/NRS)





