KNews.id – Jakarta – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah memperingatkan rezim Israel dan Inggris agar tidak membantu dan mendukung Amerika Serikat dalam perangnya terhadap Iran.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Minggu (26/7) waktu setempat, dua hari setelah AS menghentikan serangan udara terhadap Iran setelah hampir dua minggu bombardir yang memicu respons tegas Iran.
Mohebi mengatakan bahwa Israel berupaya agar Amerika Serikat tetap terlibat di kawasan tersebut dengan mempengaruhi Presiden AS Donald Trump dan memberikan informasi yang menyesatkan, “menggunakan kekuatan Amerika untuk mewujudkan tujuannya sendiri.”
“Israel tahu apa yang akan kami lakukan terhadapnya jika mereka kembali berperang dan kami memusatkan upaya kami terhadapnya,” cetus Mohebi, dilansir media Iran, Press TV, Senin (27/7/2026).
Mohebi juga memperingatkan bahwa dukungan Inggris yang berkelanjutan untuk operasi pesawat pengebom B-1 milik AS, dapat menjadikan pangkalan udara Inggris sebagai target yang sah.
“Baru-baru ini, pengebom B-1 Amerika beroperasi dari pangkalan udara Inggris. Jika mereka terus bekerja sama, mereka akan dianggap sebagai target pasti dan sah kami. Kami memiliki skenario khusus yang disiapkan untuk setiap situasi,” tegasnya.
Beberapa hari lalu, IRGC, dalam pernyataannya, juga memperingatkan Inggris agar “tidak semakin memperburuk rekam jejaknya”. Mereka menuduh London sebagai “arsitek utama untuk ketidakstabilan” di kawasan Timur Tengah saat ini, karena memainkan salah satu peran terbesar dalam serangan AS-Israel terhadap Iran baru-baru ini.
Dalam pernyataannya, IRGC juga menuduh AS berupaya memanfaatkan seruan kembali bernegosiasi untuk mengulur waktu dan memulihkan kemampuan militernya, sebelum melancarkan serangan lagi terhadap Iran. IRGC menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Washington mengambil keuntungan dari apa yang mereka sebut sebagai “gencatan senjata yang menipu”.
Sebelumnya, selama 13 malam berturut-turut, militer AS melakukan gelombang serangan udara terhadap Iran, yang menewaskan 55 orang.
Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap target-target strategis Amerika di seluruh Asia Barat.





