“Suara keras dari moncong pengeras suara pendemo, meminta Presiden bersedia menemuinya. Rezim menjauh mendengar aspirasi apalagi dialog dari hati ke hati dengan pimpinan demo,” tegasnya.
Dari baik istana justru terdengar nyaring keangkuhan Jokowi mengatakan : “berapa lama kalian akan bertahan untuk berdemo”. Presiden keluar masuk melalui pintu belakang istana. Kebuntuan komunikasi antara rakyat dengan Rezim Jokowi menimbulkan percikan api ketidakpuasan dan kekecewaan makin membesar arahnya bisa menjadi bara magma menjelang saatnya lahir gerakan people power atau Revolusi Keadaan bergerak menuju titik terendah, penderitaan rakyat makin meluas.
Rezim putar lidah menakut nakuti (riil memang menakutkan) dengan terus memberi sinyal keadaan akan makin gelap, dengan bahasa yang rakyat tidak semua paham makna arus pengaruh global ekonomi yang terus memburuk. Pada situasi sulit dan ketika para praktisi, ahli dibidang masing-masing khususnya para pakar ekonomi memberi saran menghentikan proyek mercusuar seperti infrastruktur, IKN agar dihentikan sementara, rezim fokuslah menolong menyelamatkan ekonomi rakyat.
“Sifat pongah rezim justru balik memberi jalan keluar seperti sedang kesurupan, melesat jauh dr rasional dan akal sehat dengan balik memukul rakyat dengan cuap cuap “silahkan tanam singkong, makan keong, enceng gondok”,” ungkapnya.






