Oleh ; Sutoyo AbadiĀ
KNews.id – Jakarta, “Engkau harus menjadikan musuh mengakui kekalahannya dari lubuk hatinya” ( Miyamoto : 1584 – 1945 )
Seberapapun Jokowi masih merasa memiliki ruang abstrak atau psikologis bereaksi seolah – olah masih berkuasa, dirinya sudah merasa terkepung.
Realitas keadaan makin sempit dan menjepit akan semakin kehilangan akal sehatnya secara perlahan – lahan. Bukan mustahil bisa gila karena tidak lagi memiliki ruang untuk bermanuver.
Terakhir mencoba melaksanakan reuni, sekedar ingin bangkit atau keluar dari kepungan dan serangan tuduhan bukan alumni UGM. Rekayasa yang di ciptakan itu rekayasa tipuan lama. Indikasinya reuni salah mangsa dengan peserta abal-abal atau jadi-jadian.
Kepungan psikologis terhadap diri dan keluarganya semakin mengintimidasi memangsa kelemahannya yang sudah melekat sebagai pembohong.
Pengepungan rakyat pada akhirnya bersifat psikologis. Sekalipun Presiden dan parcoknya seperti masih dirasakan sebagai pelindungnya, tidak akan bisa sebagai dewa penolongnya.
Psikologis Jokowi akan jatuh sebagai paranoid, karena terus menerus dalam ketakuta. Karena tidak pernah membayangkan sebelumnya terpaan cacian rakyat menerpa tiada henti hentinya, membakar otaknya semakin panas.
Para menteri pendukung setianya mulai menjauh, karena apabila terus-menerus mendekat akan terkesan imbas sebagai buzer rongsokan Jokowi
Ahirnya Jokowi akan terkurung seperti monyet, maka monyet itu akan seperti babi , bukan karena tidak cerdik dan gesit, melainkan karena tidak mempunyai tempat untuk secara bebas menggunakan kemampuannya ( Hunainanzi ).
Jokowi dengan lubuk hatinya harus menyerah, hentikan semua rekayasa basi tipuan dan kebohongannya, nekad akan meloloskan diri dengan mengkriminalisasi apalagi ada niat ingin memenjarakan para aktifis dengan kekuatan parcoknya, akan mempercepat kehancurannya.
(FHD/NRS)





