Ekonomi Afghanistan telah runtuh sejak Taliban mengambil alih negara itu pada Agustus 2021. Menurut Institut Perdamaian Amerika Serikat, ekonomi negara itu telah menyusut 20 hingga 30% dalam setahun di bawah kendali rezim kelompok Islam konservatif itu.
Lebih dari satu juta warga Afghanistan meninggalkan negara itu antara Oktober 2021 dan Januari 2022. Pada Januari 2022, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres membunyikan alarm kepada negara-negara tentang keadaan Afghanistan yang mengkhawatirkan.
“Enam bulan setelah pengambilalihan oleh Taliban, Afghanistan tergantung pada seutas benang. Bagi warga Afghanistan, kehidupan sehari-hari telah menjadi neraka yang membeku,” terang figur asal Portugal itu. (Ach/Cnbcind)





