Jokowi mencatat, saat ini sudah ada 14 negara yang menjadi pasien IMF, Bahkan, ada sebanyak 28 negara lagi yang mengantre di depan pintu IMF. “Diperkirakan akan muncul 66 negara. Oleh sebab itu betul-betul pemimpin ke depan harus kita pilih yang memiliki jam terbang yang tinggi,” kata Jokowi.
Kendati sering meningatkan soal ‘dunia gelap’, ternyata Presiden Jokowi juga memiliki langkah untuk menghadapi situasi ini.
Jokowi menjelaskan langkah pertama adalah sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Hal ini berperan penting dalam pengendalian fundamental perekonomian nasional. Terlihat ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,44% pada kuartal II-2022 dan inflasi terkendali di bawah 6%.
“Saya lihat, di dalam keseharian antara bank sentral BI dan Kemenkeu berjalan beriringan, berjalannya rukun tidak saling tumpang tindih,” kata Jokowi di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Selasa (11/10/2022).
Pemerintah menggenjot pertumbuhan ekonomi lewat belanja yang produktif serta menjaga daya beli masyarakat dengan subsidi dan bantuan sosial (bansos). Sementara Bank Indonesia (BI) mengendalikan inflasi dan nilai tukar serta bijak dalam mengambil kebijakan suku bunga acuan.
Kedua, kata Jokowi adalah dengan menelusuri persoalan sampai ke mikro ekonomi. Dengan demikian, kebijakan yang ditempuh bisa lebih tepat sasaran.
“Kita bekerja gak bisa hanya makro saja. Makro iya mikro iya, tapi gak cukup harus lebih tajam lagi, detail. Sehingga penyelesaiannya satu persatu,” jelasnya.
“Contoh, inflasi gak ada yang negara seperti kita, inflasi biasanya dikendalikan dengan menaikkan suku bunga untuk mengerem inflasi. Tapi kita tidak hanya menaikkan suku bunga yang jadi kewenangan BI. Tapi praktek rill masuk ke sumbernya, kenaikan barang dan jasa,” papar Jokowi.




