Oleh: Erijeli Bandaro
KNews.id- Teman undang saya berbicara dalam diskusi terbatas di kantornya. Dia minta saya jadi narasumber. Diskusi sangat keras. Menyangkut oligarki bisnis dan politik era Jokowi. Dalam catatan saya selama dikusisi itu. 1. Oligarki, semakin sulit dikendalikan. Karena besarnya peran partai. 2. Karenanya perlu terobosan UU untuk ada aturan 0% ambang patas partai yang bisa usulkan capres. 3. Perlu agenda besar menghambat terjadinya oligarki. Ya tiga itu kesimpulan dari omonga kosong selama 3 jam.
“Gimana pendapat Pak Jeli” Tanya mederator. Saya diam saja. Namun saya tersenyum melihat kepada mereka yang hadir. Akhirnya setelah sekian lama terdiam. Saya bicara juga.
Oligarki itu lahir karena ada peluang. Peluang itu karena UU. Ada banyak UU yang mendukung sehingga terjadinya oligarki. Jokowi sudah ambil terobosan dengan adanya UU Cipta kerja. Tetapi dengan mudah anulir oleh MK. Dan kalian termasuk yang mendukung pembatalan UU Cipta Kerja itu. Jadi alasan pertama, tidak konsisten dengan tekad kalian membenahi negeri ini, apalagi concern terhadap oligarki itu.
Ambang batas 20% suara partai yang bisa calonkan presiden. Itu hanya memilih Presiden. Semua tahu, sistem negeri ini trias politik. Distribusi kekuasaan tidak memungkinkan presiden sangat berkuasa. Pertanyaan saya. Apa mungkin ganti presiden, akan bisa mengubah oiigarki? Itu terlalu utopia dan ketahuan bohongnya. Mending jangan terus dikumandangkan alasan itu. Malu kita.
Untuk mengubah oligarki itu. Agenda besar apa ? Dalam bentuk apa? perubahan UU? UU apa? apa bisa sehebat UU Cipta kerja? Kalian harus ingat bahwa pengusaha yang udah berhasil kantongi uang triliunan. Itu bukan kaleng kaleng. Bukan bego. Mereka sangat cerdas. Lawan mereka, itu omong kosong. Lah kalian saja hidup tidak settle. Ambisi besar tetapi tenaga kurang. Masih hidup dari uang receh sebagai konsultant dan pengamat dan youtuber.
Saya diam seraya tetap mereka semua. Mereka siap menyimak. Semua pengusaha yang masuk 50 orang terkaya di Indonsia itu tumbuh dan berkembang sejak era Soeharto dan terselamatkan era SBY dan dapat atrmosfir meningkatkan value era Jokowi.
Contoh sederhana saja. Group Salim itu penguasaan saham dibawah Holding di Singaopore dan Hong Kong. Mau habisi dia? mau lawan Singapore yang diback AS atau Hong Kong yang diback China? Dan lagi kalau di nasionalisasi atau di kelolal BUMN, apa ada jaminan lebih adil? Saya tersenyum pahit.
Tidak ada solusi kalau kita masih terus berdebat soal sistem, ganti presiden dan seakan sistem dna presiden itu sumber harapan dan solusi bangsa ini. Yang harus kita lakukan.
Keluar dari pikiran kita. Datangi rakyat, advokasi mereka agar mandiri melewati ketidak adilan sistem dengan kerja keras dan bersaing secara terpelajar lewat kekuatan komunitas. Itu aja. Kata saya seruput kopi. Setelah itu saya permisi keluar. Udah 4 jam di dalam ruangan untuk sekedar omong kosong. (AHM)





