KNews.id – Jakarta – Menjaga kesehatan otak bukan hanya soal menjaga ketajaman pikiran seiring bertambahnya usia. Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang. Ahli bedah saraf di Departemen Bedah Saraf Northwell Lenox Hill Hospital, dr Randy D’Amico, mengatakan berbagai hal yang dilakukan seseorang saat ini dapat memengaruhi kesehatan otaknya di masa depan.
Dikutip dari NY Post, faktor genetik memang berperan dalam kesehatan otak. Namun, sejumlah faktor lain masih dapat dikendalikan, termasuk kebiasaan dan gaya hidup sehari-hari.
“Kebiasaan yang Anda bangun sekarang merupakan investasi bagi diri Anda di masa depan,” kata D’Amico.
Menurutnya, ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang bisa merusak otak, yaitu:
1. Terlalu Banyak Duduk
Kurangnya aktivitas fisik bisa berdampak buruk pada kesehatan pembuluh darah, yang juga dapat memengaruhi kesehatan otak.
“Tidak berarti Anda harus menjadi atlet yang hebat, tetapi Anda hanya perlu bergerak,” kata D’Amico.
American Heart Association (AHA) merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 menit atau aktivitas fisik intensitas berat selama 75 menit setiap minggu bagi orang dewasa demi menjaga kesehatan.
“Itulah angka yang ingin Anda capai,” kata D’Amico.
“Otak Anda mengharapkan tubuh Anda untuk bergerak,” tambahnya.
2. Menganggap Tidur Tak Penting
Kurang tidur bukan hanya penyebab rasa lesu di pagi hari. Menurut D’Amico, menganggap tidur tidak penting juga bisa merugikan otak.
Memiliki kualitas tidur yang buruk atau kurang tidur secara teratur bisa mengganggu perhatian, daya ingat, dan suasana hati. Hal tersebut juga bisa berdampak buruk pada kesehatan metabolisme dan pembuluh darah.
CDC merekomendasikan agar orang dewasa tidur setidaknya tujuh jam setiap malam, meski kebutuhan tidur setiap orang dapat berbeda.
“Setiap orang sedikit berbeda; Anda harus mendapatkan jumlah tidur yang cocok untuk Anda,” kata D’Amico. “Tetapi yang penting adalah tidur secara teratur.”
Otak tidak serta-merta berhenti bekerja saat seseorang tertidur. Sebaliknya, otak tetap melakukan berbagai proses penting.
“Inilah saatnya Anda mengonsolidasikan pembelajaran dan ingatan,” kata D’Amico.
“Sebenarnya sangat penting untuk menjaga kesehatan otak dengan memasukkan waktu tidur,” tambahnya.
3. Mengonsumsi UPF
Pola makan yang kaya akan makanan olahan dan ultra processed food (UPF) bisa memengaruhi berat badan, kolesterol, kadar glukosa, dan tekanan darah. Semua faktor ini penting bagi kesehatan otak.
“Bukan hanya satu jenis makanan yang buruk, tetapi pola makan secara keseluruhan,” kata D’Amico.
Kesehatan serebrovaskular, yang berkaitan dengan pembuluh darah dan aliran darah di otak, serta kesehatan kognitif sama-sama penting untuk diperhatikan.
Jadi, jika asupan nutrisi tidak diperhatikan, berarti salah satu penentu utama kesehatan otak jangka panjang telah diabaikan.
“Menurut saya, cara terbaik untuk memahaminya adalah apa yang baik untuk arteri Anda juga baik untuk otak Anda. Jadi, kesehatan kardiovaskular adalah kesehatan otak. Anda perlu membatasi makanan ultra-proses,” tambahnya.
4. Mengabaikan Tekanan Darah, Kolesterol, dan Kadar Gula Darah
Jika ingin menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang, penting untuk memerhatikan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah.
Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes bisa merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi penting ke otak. Masalahnya, tanda-tanda peringatan ini sering diabaikan.
“Anda merasa baik-baik saja, jadi orang-orang mengabaikannya, tetapi proses ini dapat berkembang secara diam-diam selama bertahun-tahun sebelum Anda menyadari gejalanya – dan mengabaikannya dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang signifikan,” katanya.
“Kami melihat ini setiap hari,” tambahnya.
5. Menggunakan Zat Tertentu untuk Mengatasi Stres dan Kelelahan
Paparan tembakau berbahaya bagi kesehatan pembuluh darah dan otak, sementara konsumsi alkohol yang berlebihan dikaitkan dengan kerusakan neurologis dan kognitif. Namun, ada masalah lain yang juga penting.
“Ketika suatu zat menjadi respons otomatis Anda terhadap stres, kelelahan, kebosanan, atau kantuk, Anda sedang membangun ketergantungan ke dalam rutinitas harian Anda,” jelasnya.
“Tujuannya seharusnya adalah mengembangkan cara untuk menghadapi kondisi tersebut tanpa bergantung pada suatu zat,” tambahnya.
6. Hidup dalam Kondisi Terus-Menerus Terdistraksi
Penggunaan ponsel pintar, notifikasi yang terus bermunculan, media sosial, hingga arus konten yang tidak ada habisnya membuat perhatian seseorang mudah terpecah.
“Ini salah satu hal yang penting dan seharusnya relevan bagi anak-anak maupun orang dewasa,” kata D’Amico.
Dampaknya bukan sekadar membuat seseorang merasa mudah terdistraksi. Paparan stimulasi yang terus-menerus juga dapat mengganggu tidur sekaligus mengurangi waktu untuk melakukan aktivitas yang menantang dan melatih otak. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan untuk fokus dan berpikir jernih.
D’Amico mengaku mengkhawatirkan kondisi tersebut pada anak-anaknya. Ia juga menyadari bahwa dirinya masih mengalami hal yang sama.
“Kita semua pernah terjebak dalam doomscrolling, dan ada kalanya kita sulit berhenti. Namun, jika tidak pernah melatih diri untuk mempertahankan perhatian dalam jangka waktu tertentu, jangan heran jika akhirnya sulit untuk menjaga fokus,” ujarnya.
Adapun solusi dari dokter saraf ini adalah menghadirkan kembali rasa bosan dalam hidup.
“Sekarang saya membaca setiap malam. Saya pulang, mematikan semua perangkat, berbaring di sofa, dan membaca dengan tenang,” katanya.
“Ini sulit bagi saya – dan saya seorang ahli bedah saraf. Saya membaca selama bertahun-tahun untuk mempelajari semuanya. Dan saya masih merasa sangat sulit untuk hanya fokus pada itu karena otak saya selalu ingin beralih ke hal lain,” ungkap dokter tersebut.
Hal itu menjadi pelajaran yang coba ia ajarkan kepada anak-anaknya.
“Anda harus belajar untuk kembali mentoleransi kebosanan,” kata D’Amico. “Anda tidak perlu mengisi setiap momen kosong dengan rangsangan,” tambahnya.
7. Membiarkan Lingkaran Sosial Menyempit
Interaksi sosial juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak. Namun, karena lebih banyak waktu dihabiskan di depan layar, hubungan sosial bisa terabaikan.
“Isolasi sosial telah diidentifikasi sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk penurunan kognitif pada demensia,” kata D’Amico.
Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami semua mekanisme di balik hubungan tersebut. Namun, interaksi sosial yang bermakna melibatkan berbagai fungsi otak, termasuk perhatian, bahasa, ingatan, pemrosesan emosi, serta kemampuan untuk merespons orang lain.
“Itu tidak sama dengan memiliki 20.000 pengikut media sosial. Itu bukan keterlibatan sosial,” kata D’Amico.
“Otak Anda telah berevolusi untuk berinteraksi dengan manusia sungguhan, dengan otak lain, untuk melakukan semacam interaksi timbal balik,” tambahnya.






