KNews.id – Jakarta – Bentuk perut yang berubah setelah melahirkan tidak selalu berkaitan dengan berat badan. Pada sebagian perempuan, tonjolan di sekitar pusar atau bawah perut dapat bertahan bahkan bertahun-tahun setelah persalinan.
Kondisi tersebut salah satunya dapat berkaitan dengan diastasis recti, yaitu pemisahan otot perut yang terjadi ketika jaringan di tengah dinding perut meregang.
Kondisi ini menjadi perhatian, dilansir SELF Magazine, Senin (24/8/2026), seorang ibu dengan anak kembar yang masih memiliki tonjolan perut satu dekade setelah melahirkan. Meski rutin berolahraga dan menjaga pola hidup, perubahan pada bagian perut tetap terlihat.
Diastasis recti dapat bertahan bertahun-tahun setelah melahirkan
Diastasis recti terjadi ketika otot-otot perut terpisah dan jaringan penghubung di bagian tengah mengalami peregangan. Kehamilan kembar menjadi salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risikonya karena dinding perut mengalami tekanan dan peregangan lebih besar.
Dalam laporan tersebut, pemeriksaan oleh Ashley Newton, DPT, seorang terapis fisik khusus dasar panggul, menemukan adanya pemisahan otot perut sekitar enam sentimeter dengan kedalaman empat sentimeter. Sebagai pembanding, jarak pemisahan saat istirahat umumnya sekitar satu hingga dua sentimeter.
Newton menjelaskan, kondisi tersebut bukan semata-mata persoalan otot perut, tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan tekanan tubuh. Pernapasan, otot inti, hingga dasar panggul saling terhubung sehingga gangguan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.
Olahraga tetap bisa dilakukan, tetapi teknik perlu diperhatikan
Keinginan mengembalikan bentuk perut setelah bertahun-tahun bukan berarti harus melakukan latihan perut sebanyak mungkin. Justru, teknik yang kurang tepat dapat meningkatkan tekanan pada jaringan di tengah perut dan membuat tonjolan terlihat semakin jelas.
Newton menyarankan latihan yang membantu mengaktifkan otot perut bagian dalam dan mengembalikan kemampuan tubuh dalam menjaga stabilitas. Program yang dianjurkan mencakup latihan selama sekitar enam minggu, baik dengan pendampingan maupun dilakukan di rumah.
Fisioterapis yang menangani klien pascapersalinan, Anna Hammond, DPT menekankan, tidak ada satu pola latihan yang cocok untuk semua orang.
“Hanya karena kamu mampu melakukan sesuatu, bukan berarti kamu harus melakukannya,” kata Hammond.
Latihan dapat dimulai dari pengaturan napas dan mobilitas, kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih menargetkan otot inti. Jika muncul tonjolan berbentuk kubah pada perut saat berolahraga, gerakan tersebut mungkin terlalu berat dan perlu dimodifikasi.
Perubahan bentuk perut masih mungkin dilakukan setelah 10 tahun
Kabar baiknya, perubahan pada otot perut tidak otomatis berarti sudah terlambat untuk ditangani. Dengan evaluasi dan latihan yang sesuai, fungsi serta tampilan area perut masih dapat diperbaiki meski persalinan telah berlalu bertahun-tahun.
Newton menjelaskan, latihan dapat membantu mengurangi penonjolan bagian bawah perut sehingga tampilannya terlihat lebih terangkat dan mengarah ke bagian tengah.
Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi bentuk pinggang dan jaringan di sekitar bekas operasi caesar. Namun, olahraga bukan solusi untuk seluruh kasus.
Menurut Karolynn Echols, MD, kepala bagian uroginekologi di Thomas Jefferson University Hospital, operasi dapat dipertimbangkan ketika kondisi tersebut mengganggu kualitas hidup, menimbulkan masalah struktural, dan penanganan konservatif tidak memberikan hasil yang memadai.
“Olahraga memang sangat bermanfaat, tetapi bukanlah keajaiban.” kata Echols. Maka dari itu, perempuan yang mencurigai mengalami diastasis recti sebaiknya menjalani pemeriksaan oleh dokter atau fisioterapis dasar panggul.
Penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, bukan sekadar mengejar perut rata.
Tubuh setelah melahirkan tidak berarti gagal
Perubahan bentuk tubuh setelah kehamilan merupakan bagian dari adaptasi tubuh terhadap proses melahirkan.
Oleh karenanya, tujuan penanganan tidak hanya mengejar tampilan fisik, tetapi juga mengembalikan kekuatan, stabilitas, postur, dan kenyamanan saat beraktivitas.
“Ingatlah bahwa tubuh kamu tidak mengecewakanmu. Tubuh beradaptasi terhadap perubahan, dan sekarang kita dapat menentukan bagaimana mendukungnya ke depannya,” ujar Echols.






