KNews.id – Jakarta – Benjolan yang muncul lalu menghilang di area lipat paha, kantong kemaluan, atau pusar pada anak bisa menjadi salah satu tanda hernia yang memerlukan pemeriksaan medis.
Dokter Spesialis Bedah Anak Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Kozzy, Sp.BA, mengatakan hernia pada anak umumnya ditandai dengan benjolan yang tampak hilang-timbul. Meski anak terlihat aktif dan tidak mengeluhkan keluhan berarti, orang tua tetap disarankan membawa anak ke dokter untuk memastikan penyebabnya.
“Hernia pada anak sering kali terlihat sebagai benjolan yang hilang-timbul. Walaupun anak tampak aktif, orang tua sebaiknya memeriksakan kondisi tersebut agar penyebabnya dapat dipastikan,” kata dr. Kozzy, Jumat (11/7/2026).
Ciri-ciri hernia pada anak
Menurut dr. Kozzy, jenis hernia yang paling sering ditemukan pada anak adalah hernia inguinalis, yaitu hernia yang muncul di area lipat paha. Pada anak laki-laki, benjolan bahkan dapat turun hingga kantong kemaluan. Sementara pada anak perempuan, benjolan bisa muncul di area labia.
Selain itu, terdapat pula hernia umbilikalis, yang ditandai dengan benjolan di sekitar pusar. Benjolan akibat hernia inguinalis umumnya akan tampak lebih jelas saat anak menangis, batuk, mengejan, berdiri, atau aktif bergerak.
Sebaliknya, benjolan dapat mengecil atau menghilang ketika anak berbaring maupun dalam keadaan tenang. Data American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa hernia inguinalis pada bayi cukup bulan terjadi sekitar 8 hingga 50 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Risikonya diketahui lebih tinggi pada bayi yang lahir prematur.
Kapan harus segera ke dokter?
Orangtua juga perlu mewaspadai jika benjolan disertai keluhan lain, seperti anak menjadi rewel, mengeluhkan nyeri di sekitar benjolan, atau benjolan berubah menjadi kemerahan, membesar, terasa keras, dan tidak dapat masuk kembali.
Selain itu, kondisi seperti muntah, perut kembung, demam, tubuh lemas, hingga anak tidak mau makan juga menjadi tanda bahwa anak perlu segera mendapatkan penanganan medis.
“Bila benjolan terasa keras, nyeri, tidak bisa masuk kembali, atau disertai muntah, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” ujar dr. Kozzy.
Ia menjelaskan, hernia inguinalis umumnya tidak dapat menutup dengan sendirinya sehingga memerlukan penanganan. Jika dibiarkan, jaringan atau usus yang keluar melalui celah hernia berisiko terjepit sehingga aliran darah terganggu dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Penanganan hernia pada anak
Penanganan hernia akan disesuaikan dengan usia anak, ukuran benjolan, gejala yang muncul, serta ada atau tidaknya komplikasi. Berbeda dengan hernia umbilikalis yang pada sebagian kasus dapat menutup sendiri seiring pertumbuhan anak, hernia inguinalis umumnya memerlukan tindakan operasi.
Salah satu prosedur yang dapat dilakukan adalah herniotomy, yaitu operasi untuk mengembalikan jaringan yang menonjol ke posisi semula sekaligus menutup celah hernia agar tidak muncul kembali. Pada kasus tertentu, tindakan ini dapat dilakukan menggunakan teknik laparoskopi dengan sayatan yang lebih kecil dan bantuan kamera.
“Pendekatan laparoskopi dapat menjadi pilihan pada kasus tertentu. Namun, setiap anak perlu dinilai secara individual agar tindakan sesuai dengan kondisinya,” kata dr. Kozzy.





