KNews.id – Jakarta – Sebuah surat kabar konservatif di Iran, Hamshahri, memicu sorotan setelah memublikasikan daftar tokoh yang disebut bakal menjadi target balas dendam atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Diberitakan AFP, dalam daftar itu tercantum para pemimpin Amerika Serikat, Israel, hingga sejumlah negara Eropa.
Dalam surat kabar yang terbit di bawah otoritas di Ibu Kota Iran ini, disajikan sebuah infografik daring pada Sabtu (11/7) malam waktu setempat. Dalam unggahan itu, Hamshahri menampilkan foto 13 pemimpin asing bersama pernyataan dari Mojtaba Khamenei, putra sekaligus penerus Ali Khamenei.
Ali Khamenei disebut tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari, hari pertama perang Timur Tengah meletus.
Sejak itu, Mojtaba Khamenei berulang kali menyuarakan janji pembalasan. Dalam pesan pertamanya sejak pemakaman ayahnya pekan ini, ia menegaskan balas dendam akan dilakukan.
“Pembalasan dendam adalah kehendak bangsa kita dan mau tidak mau harus dilaksanakan,” kata Mojtaba pada Sabtu, dilansir AFP.
Ia juga menyebut para ‘penjahat’ yang namanya tercantum dalam daftar itu tidak akan mendapat kematian tenang di tempat tidur mereka. Meski begitu, infografik yang diterbitkan Hamshahri tidak menyebut adanya pengesahan resmi dari pemerintah atau kantor pemimpin tertinggi Iran.
Khamenei sendiri sebelumnya mengatakan Iran telah menyusun daftar individu yang akan menjadi target, namun tidak mengungkapkan nama-namanya. Dalam daftar yang dipublikasikan Hamshahri, terdapat nama Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Selain itu, turut dicantumkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, serta Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Meski demikian, infografik nama-nama pejabat ini tidak muncul di edisi cetak surat kabar tersebut yang diterbitkan pada Minggu (12/7).
Selama perang berlangsung, Iran menuduh negara-negara Eropa gagal mengecam serangan di wilayahnya dan dianggap bersekongkol karena membiarkan pesawat militer AS melintasi wilayah udara mereka.
Mojtaba Khamenei sendiri belum terlihat di hadapan publik sejak sebelum perang, dan dilaporkan turut terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya.





