KNews.id – Jakarta – Harapan masyarakat Bali untuk memiliki akses jalan bebas hambatan dari ujung barat ke tengah Pulau Dewata kembali menemui titik terang.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mengungkapkan bahwa proyek Tol Gilimanuk-Mengwi sepanjang 96,48 km kini sedang dipersiapkan matang dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Proyek raksasa yang sempat terhenti ini ditargetkan mulai masuk tahap pengadaan badan usaha pada 2027 dan diproyeksikan beroperasi penuh pada 2031. Tak main-main, investasi sebesar Rp12,7 triliun disiapkan untuk memangkas waktu tempuh Gilimanuk-Mengwi secara drastis.
“Waktu tempuh yang semula sekitar enam jam akan dipangkas menjadi hanya tiga jam,” ujar Wamen Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti dalam keterangannya di kanal YouTube Komisi V DPR RI.
Saat ini, Kementerian PU tengah mengebut penyusunan Amdal, analisis dampak lalin, hingga dokumen pengadaan tanah agar proyek ini berjalan mulus. Ia juga memastikan proyek strategis Tol Gilimanuk-Mengwi tetap berlanjut pasca-pemutusan perjanjian pengusahaan (PPJT) pada Agustus 2023 lalu.
Diana Kusumastuti menjelaskan bahwa kegagalan financial close dan pengadaan tanah di masa lalu menjadi pelajaran untuk pematangan dokumen perencanaan saat ini. Dengan perincian biaya konstruksi Rp8,52 triliun dan dukungan konstruksi Rp4,59 triliun, jalan tol ini menjadi prioritas nasional untuk mobilitas Bali.
“Kami sedang melakukan penyusunan rekomendasi kesesuaian pemanfaatan ruang dan pengadaan tanah agar proses tender di 2027 tidak lagi terkendala,” kata Diana Kusumastuti.
Kehadiran tol ini diprediksi akan mengubah peta ekonomi Bali Barat karena efisiensi waktu tempuh yang mencapai 50 persen dari kondisi normal.
Sebelumnya, saat Rapat Dengar Pendapat (RPD) antara Komisi V DPR RI, Kementerian PU dan Pemprov Bali, Gubernur Wayan Koster menagih komitmen pemerintah pusat dalam percepatan infrastruktur.
Fokus utamanya adalah keberlanjutan Tol Gilimanuk-Mengwi yang menjadi urat nadi transportasi masa depan Bali. Koster menekankan bahwa ketidakjelasan proyek ini telah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Menurut Koster, progres yang jalan di tempat membuat pemerintah daerah berada dalam posisi sulit untuk memberikan penjelasan kepada warga yang menaruh harapan besar pada proyek strategis nasional tersebut.
Apalagi, penetapan lokasi (penlok) untuk proyek tersebut dilakukan sejak dua tahun lalu.
“Karena sudah penlok, masyarakat kami tidak bisa memanfaatkan lahannya.
Jadi, kami mohon kepastian kelanjutan proyek Tol Gilimanuk – Mengwi,” tutur Koster.




