spot_img
Minggu, Maret 1, 2026
spot_img
spot_img

Ustadz Abdul Somad: Pesan Nabi Musa, Tanam Kapas Agar Anak Mandiri dan Bermartabat

KNews.id – Jakarta – Dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) mengungkapkan kisah menarik tentang pesan terakhir Nabi Musa Alaihisalam kepada anaknya sebelum wafat. Pesan tersebut adalah agar sang anak menanam kapas sebagai bekal kehidupan yang mandiri dan bermartabat.

Kisah itu disampaikan Ustadz Abdul Somad saat membedah bukunya berjudul “35 Kisah Saat Maut Menjemput” di Masjid Baitut Tholibin, Jakarta, Jumat (27/2/2026). Menurut UAS, Nabi Musa memberikan nasihat sederhana namun sarat makna, yakni bekerja dengan tangan sendiri agar tidak menjual diri dan menjaga kehormatan.

- Advertisement -

“Nabi Musa pesan ke anaknya, nanti tolong tanam kapas. Kenapa kapas? Karena kapas tidak perlu disiram. Kalau musim panas, daunnya gugur sendiri,” ujar UAS.

Ia menjelaskan, kapas dapat dipintal menjadi benang, lalu ditenun menjadi kain yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari proses itulah Nabi Musa mengajarkan nilai kemandirian ekonomi.“Nanti kapas akan dipintal jadi benang, benang ditenun jadi kain, jual kain. Jangan jual harga dirimu,” kata dia.

- Advertisement -

UAS menekankan, pesan tersebut relevan bagi pendidikan anak perempuan. Menurut dia, orang tua perlu membekali anak dengan keterampilan dan kemandirian agar mampu menjaga kehormatan diri.”Anak perempuan, tanamkan dia kapas, nanti dia akan jual kain. Lebih baik dia jual kain daripada jual harga diri. Itu penting. Pesankan ke anak-anak perempuan kita,” ujar dia.

UAS menilai kisah tersebut mengandung pelajaran penting tentang kemandirian, kehormatan, dan kehidupan yang bermartabat. Pesan Nabi Musa, kata dia, mengajarkan bahwa mencari nafkah secara halal melalui usaha sendiri merupakan jalan terbaik untuk menjaga martabat manusia.

Buku “35 Kisah Saat Maut Menjemput” ini mengangkat refleksi tentang kematian melalui kisah para nabi, sahabat nabi, ulama, dan tokoh-tokoh bersejarah, termasuk pesan-pesan terakhir mereka menjelang wafat.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi atas terbitnya karya UAS tersebut yang dinilainya menghadirkan pelajaran sejarah, keteladanan, serta refleksi moral yang relevan bagi masyarakat.“Buku ini mengingatkan kita tentang kematian. Dengan membaca kisah-kisah ini, semoga kita semakin bersemangat menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati,”kata Mu’ti.

Sementara itu, Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema kematian yang diangkat dalam buku tersebut relevan dengan suasana Ramadhan sebagai bulan perenungan.

“Mengingat kematian membuat kita lebih bijaksana. Kekayaan dan jabatan tidak akan kita bawa. Pada akhirnya, kita semua sama di hadapan Allah. Semoga refleksi ini melembutkan hati kita dan menjadikan sikap kita lebih baik,” ujar Brian.

- Advertisement -

Sementara itu, Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya literasi spiritual sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan bangsa. Fadli Zon menyampaikan bahwa setiap hari yang dijalani manusia merupakan anugerah yang patut dimaknai secara sungguh-sungguh.

“Kematian adalah sesuatu yang pasti. Buku ini mengingatkan kita untuk memaknai hidup sebagai hadiah yang harus digunakan sebaik-baiknya. Pengalaman spiritual dan kisah para tokoh dalam buku ini memberi pelajaran penting bagi kehidupan,”kata Fadli.

(RD/RPK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini