KNews.id – Jakarta – Seorang pejabat Amerika Serikat memperingatkan bahwa AS tidak memiliki cukup rudal untuk kembali terlibat perang habis-habisan dengan Iran.
Dilaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi untuk melancarkan “perang yang lebih luas” melawan Teheran, seiring dengan semakin banyaknya pesawat tempur Amerika yang dikerahkan ke Timur Tengah.
Namun, seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan pemerintah, mengungkapkan bahwa operasi tersebut akan dibatasi oleh menipisnya persediaan pertahanan udara dan amunisi jarak jauh.
“Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu,” kata pejabat AS tersebut kepada The Washington Post, seperti dilansir The Telegraph, Selasa (21/7/2026).
AS telah memperluas serangannya dalam serangan selama sembilan hari berturut-turut terhadap Iran, semakin mendekati perang habis-habisan di kawasan itu.
Iran pun terus melancarkan serangan di seluruh wilayah tersebut sebagai tanggapan, dengan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menyerang target-target di Bahrain, Yordania, dan Suriah. IRGC bahkan bersumpah untuk memberi AS pelajaran yang tak terlupakan, yang akan mencegah siapa pun yang berupaya melakukan agresi terhadap Iran.
“Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan, agresi, dan petualangan, kami terikat teguh pada perjanjian ini: bahwa kami akan memberikan ‘pelajaran yang tak terlupakan’… pelajaran yang akan mencegah agresor mana pun untuk mengulangi kesalahannya,” demikian pernyataan IRGC.
IRGC juga mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah mempercayai AS dan janji-janjinya untuk mencapai penyelesaian dengan Iran melalui negosiasi.
“Kami berjanji bahwa… kami tidak akan pernah mengikat nasib negara ini pada janji-janji musuh pembunuh anak yang rekam jejaknya penuh dengan pelanggaran kepercayaan, tipu daya, dan kebencian terhadap bangsa Iran,” kata IRGC.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pun mengatakan Teheran terlibat dalam “perang skala penuh” dengan AS, dan Washington harus menerima konsekuensi dari konflik tersebut. Namun, kedua belah pihak telah memberi sinyal bahwa diplomasi terus berlanjut di balik layar.





