spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
spot_img

Tips Keikhlasan Ibadah Ramadhan: Fokus pada Niat dan Konsistensi

KNews.id – Jakarta – Menjalankan ibadah di bulan suci  menuntut kemurnian hati agar tidak sekadar menjadi rutinitas fisik semata. Untuk itu tips menjaga keikhlasan ibadah selama bulan suci Ramadhan menjadi krusial guna memastikan amal bernilai di sisi-Nya.

Merujuk ebook Paham Hisab Muhammadiyah dan Tuntunan Ibadah Bulan Ramadan, oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, disebutkan bahwa keikhlasan sejati diuji saat ibadah dilakukan dalam kesunyian rumah. Hal ini selaras dengan prinsip syariah yang mengutamakan esensi penghambaan tanpa distraksi sosial. Ketulusan beribadah mandiri membuktikan bahwa orientasi utama mukmin hanyalah mencari rida Ilahi, bukan mengharap pujian manusia.

- Advertisement -

Hal ini sesuai dengan pandangan Imam Ash-Shan’aniy dalam kitab Subulus-Salam yang  menekankan pentingnya tabyitun niyat (memalamkan niat) berdasarkan hadis riwayat Bukhari bahwa setiap amal bergantung pada niatnya. Dengan panduan tersebut, setiap individu dibimbing untuk meraih derajat takwa yang autentik.

Berikut ini adalah tips menjaga keikhlasan ibadah selama bulan suci Ramadhan agar lebih berkah.

- Advertisement -
  1. Memperkuat Niat Sebelum Beramal

Dalam Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan, ditegaskan bahwa niat puasa harus dilakukan di malam hari. Secara praktis, ini berarti setiap muslim harus menyadari bahwa ibadah esok hari adalah murni karena Allah.

Implementasinya:

  • Sebelum tidur, sempatkan merenung dan memperbarui niat untuk beribadah esok hari hanya karena Allah
  • Saat sahur, ingatkan diri bahwa makan sahur adalah bentuk ketaatan, bukan sekadar kebiasaan
  • Ketika berangkat ke masjid untuk tarawih, luruskan niat bahwa langkah kaki adalah ibadah.
  1. Menjaga Lisan dari Perbuatan Tercela

Salah satu ancaman terbesar terhadap keikhlasan adalah ketika seseorang merasa puasanya sempurna, lalu merendahkan orang lain. Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan memuat peringatan keras:

“Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan suka mengerjakannya, maka Allah tidak memandang perlu orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. al-Khamsah)

Implementasi praktis:

  • Hindari debat dan perdebatan yang tidak produktif, terutama di media sosial
  • Jika ada yang mengajak bertengkar, ucapkan “Inni sha’im” (saya sedang berpuasa) sebagaimana tuntunan Nabi
  • Isi waktu dengan dzikir dan bacaan Al-Qur’an, bukan ghibah atau namimah.
  1. Melupakan Amal Kebaikan

Yusuf bin al-Hunain menyatakan: “Milikku yang paling berharga adalah keikhlasan, betapa seringnya aku membebaskan hatiku dari rasa riya’. Namun setiap kali aku berhasil, ia muncul kembali dengan bentuk yang lain” .

- Advertisement -

Dalam Tafsir Maudhui yang disusun Balitbang Diklat Kemenag RI, disebutkan tiga langkah menuju ikhlas: (1) melupakan segala perbuatan baik, (2) menyadari segalanya milik Allah, dan (3) memperbanyak amal dengan istiqamah .

Implementasi:

  • Setelah bersedekah, segera lupakan nominal dan penerimanya
  • Jika mengimami tarawih, jangan mengharap pujian atas bacaan yang indah
  • Setelah memberi takjil, jangan mengungkit-ungkitnya di hadapan orang lain.
  1. Menyamakan Pujian dan Celaan

Zun Nun al-Misri menyebut tanda ikhlas adalah manakala orang yang bersangkutan memandang sama antara pujian dan celaan dari manusia.

Implementasi dalam konteks Ramadhan:

  • Tetap semangat beribadah meski tidak ada yang memuji
  • Jika ada yang mengkritik cara ibadah (misalnya perbedaan jumlah rakaat tarawih), hadapi dengan lapang dada
  • Fokus pada penilaian Allah, bukan penilaian manusia.
  1. Menjaga Ibadah Tetap dalam Koridor Sunnah

Menjaga ibadah agar tetap dalam koridor sunnah Rasulullah adalah salah satu ikhtiar mendapatkan Ramadhan berkualitas. Semangat beramal butuh pemandu agar tidak meleset dari syariat .

Implementasi:

  • Pelajari tuntunan tarawih sesuai yang diajarkan Nabi (11 rakaat)
  • Ikuti panduan Majelis Tarjih tentang kaifiyat ibadah
  • Jangan membuat ritual-ritual baru yang tidak berdasar.
  1. Ibadah di Rumah Saat Kondisi Darurat

Beribadah di rumah jika kondisi tidak memungkinkan berjamaah di masjid. Hal ini menjadi ujian keikhlasan, apakah seseorang tetap semangat beribadah meski sendirian, tanpa suasana ramai dan tanpa pujian orang lain?

  1. Memperbanyak Sedekah Diam-diam

Memperbanyak sedekah selama Ramadhan, mencontoh Rasulullah yang lebih dermawan daripada angin yang bertiup.

Implementasi ikhlas dalam sedekah:

  • Utamakan sedekah sembunyi-sembunyi
  • Jika bersedekah terbuka, pastikan tidak ada riya’ di hati
  • Libatkan keluarga dalam kegiatan sosial tanpa publikasi berlebihan.
  1. Istiqamah hingga Akhir Ramadhan

Sering terjadi, semangat ibadah mengendur di pertengahan atau akhir Ramadhan. Padahal, keikhlasan diuji dengan konsistensi. Nabi bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Memahami Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas berarti membersihkan sesuatu dari kotoran. Dalam konteks ibadah, ikhlas adalah memurnikan niat hanya kepada Allah SWT. Bahwa ibadah tanpa keikhlasan bagaikan jasad tanpa ruh.

Hal ini merujuk pada firman Allah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Menurut Syekh Abu ‘Ali al-Daqqaq, keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk. Sementara Zun Nun al-Misri merumuskan tiga tanda ikhlas: pertama, memandang sama antara pujian dan celaan; kedua, melupakan amal ketika beramal; ketiga, mengesampingkan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal kebaikannya itu.

Niat sebagai Fondasi Ikhlas

Dalam Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan, Majelis Tarjih mencantumkan hadits fundamental tentang niat:

“Dari Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya…” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Iman)

Hadits ini menjadi landasan bahwa seluruh rangkaian ibadah Ramadhan, dari puasa, shalat tarawih, hingga zakat fitr, harus dimulai dengan niat yang tulus karena Allah. Tanpa niat, puasa tidak sah, sebagaimana hadits riwayat Hafshah:

“Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. al-Khamsah).

Landasan Dalil Menjaga Keikhlasan

  1. Dalil dari Al-Qur’an

Berikut ini beberapa ayat yang menjadi pilar keikhlasan:

  • Al-Baqarah: 183 – Tujuan akhir puasa adalah ketakwaan, dan takwa tidak mungkin tercapai tanpa keikhlasan.
  • Al-Anfal: 45-46 – Dalam konteks menghadapi tantangan, termasuk menjaga konsistensi ibadah, ayat ini mengajarkan untuk bersabar, berdzikir, dan tidak berselisih yang dapat menghilangkan kekuatan dan semangat.
  • Al-Nahl: 97 – Ayat ini menegaskan bahwa amal saleh harus dilakukan dalam keadaan beriman, yang ditafsirkan sebagai “atas dasar keimanan”—motivasi karena Allah semata.
  1. Dalil dari Hadits

Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan memuat sejumlah hadits yang secara implisit menekankan keikhlasan:

  • Hadits tentang Keutamaan Puasa: “Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
  • Kata iimanan wahtisaban(karena iman dan mengharap pahala) dalam hadits ini merupakan indikator keikhlasan. Al-Imam al-Khubawy dalam Kitab Durratun Nasihin menukilkan hadits serupa: “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas maka diampuni dosanya yang telah lalu” .
  • Hadits tentang Bahaya Riya’: Meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam kedua dokumen, Majelis Tarjih dalam berbagai fatwanya selalu mengingatkan bahwa amal yang tercampuri riya’ akan tertolak.

(RD/LPT)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini