KNews.id – Jakarta – Kehidupan manusia di dunia ini tidak lepas dari berbagai tantangan dan potensi kejahatan, baik yang terlihat maupun tersembunyi. Salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang dianjurkan dalam Islam adalah dengan rutin memanjatkan doa perlindungan dari orang jahat.
Kekuatan doa juga ditekankan dalam Al-Qur’an Surah Al-Mukmin (Surah Ghafir) ayat 60, di mana Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”
Mengutip dari buku Doa Ajaran Ilahi, Anis Masykhur dan Jejen Musfah (2008) menjelaskan bahwa doa sangat penting untuk menyatakan apa yang dikehendaki terhadap Allah SWT guna mendapatkan kemanfaatan atau menolak kemudaratan.
Sumber Kejahatan dalam Perspektif Psikologi Islam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
Dalam perspektif psikologi Islam, sumber kejahatan tidak jauh berbeda dengan pandangan psikologi umum, namun dijelaskan melalui konsep Nafs (jiwa) dan dimensi manusia. Manusia adalah makhluk yang terbentuk dari penggabungan jasad (material) dan jiwa (immaterial), yang membutuhkan ruh untuk mengaplikasikan sifat dinamisnya.
Mengutip dari Mawa’izh: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, Wahyu Kurniawan dan Siti Hapsoh (2019) menjelaskan bahwa kejahatan secara eksplisit ada penjelasannya di dalam Nafs Hewani.
Al-Ghazali membagi dimensi kejiwaan manusia menjadi empat:
- Dimensi Ragawi (hakikat unsur fisik),
- Dimensi Nabati (fungsi pertumbuhan),
- Dimensi Hewani (motivasi atau persepsi), dan
- Dimensi Insani (pelibatan akal).
Dalam dimensi hewani, terdapat dua kekuatan besar: Daya Pendorong (Quwa Muharrika) yang terdiri dari dorongan sensual (libido seksual) dan dorongan kemarahan (agresi). Tindakan-tindakan destruktif, pembunuhan, atau bunuh diri, serta egoisme dan ketamakan, merupakan bentuk ekstrem dari ekspresi Nafs hewani ini.
Al-Ghazali juga mengklasifikasikan Nafs manusia menjadi tiga tingkatan, yang dapat menjelaskan potensi kejahatan:
- Nafsu Ammarah: Nafsu yang cenderung merusak, tunduk pada kebanalan, dan perintah yang buruk. Ini adalah tingkatan Nafs terendah yang paling berpotensi mendorong pada kejahatan.
- Nafsu Lawwamah: Nafsu yang ingin berbuat baik, namun masih menyesal dalam kesalahan. Berada di antara baik dan buruk.
- Nafsu Mutmainah: Nafsu yang menyukai jiwa yang suci, lembut, dan tenang, cenderung melakukan kebajikan.
Konsep daya kekuatan pendorong dari dimensi hewani ini mirip dengan konsep Id dalam teori psikoanalisa Freud, yang melambangkan nafsu irasional dan dorongan dalam kehidupan. Oleh karena itu, mengendalikan Nafsu Ammarah menjadi krusial dalam menghindari perbuatan jahat.
Pentingnya Berdoa dan Adab dalam Islam
Doa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim, bukan hanya sebagai sarana meminta, tetapi juga sebagai bentuk ibadah, pengakuan kebesaran Allah, dan wujud ketergantungan total kepada-Nya.
Berdoa adalah cara bagi umat Islam untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, mempersembahkan keinginan, kekhawatiran, rasa syukur, dan pengakuan dosa. Melansir dari RRI juga menegaskan keutamaan dan makna berdoa dalam Islam sebagai bentuk koneksi spiritual yang mendalam.
Beberapa alasan mengapa doa sangat penting dalam Islam:
- Pintu Komunikasi dengan Allah: Doa adalah sarana utama untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta.
- Bukti Kekuatan dan Kelemahan Manusia: Melalui doa, manusia mengakui bahwa mereka bergantung sepenuhnya pada Allah SWT.
- Penghilang Kesusahan dan Penyembuh Penyakit Hati: Doa dapat membantu mengatasi kesulitan dan membersihkan jiwa.
- Mengubah Takdir: Dalam sebuah hadis disebutkan, “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.”
- Senjata Seorang Mukmin: Doa dianggap sebagai senjata bagi umat Muslim untuk menghadapi berbagai tantangan dan musibah.
Adab (etika) dalam berdoa juga sangat dianjurkan agar doa lebih mustajab dan diterima oleh Allah SWT.
Beberapa adab berdoa yang baik meliputi:
- niat yang ikhlas,
- memuji Allah dan bersalawat kepada Nabi,
- mengangkat tangan,
- menghadap kiblat,
- bersungguh-sungguh dan yakin,
- merendahkan suara,
- mengulang doa,
- berwudu, serta
- tidak meminta hal yang buruk.
Mengamalkan adab ini akan meningkatkan kualitas doa kita.
FAQ
1. Apa yang dimaksud doa perlindungan dari orang jahat?
Doa yang memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari segala keburukan, tipu daya, dan niat jahat manusia maupun makhluk lain.
2. Apa dalil anjuran berdoa memohon perlindungan?
Antara lain QS. Ali Imran: 173 dan QS. Al-Mukmin: 60 yang menegaskan bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan pengabul doa.
3. Apa contoh doa perlindungan dari orang jahat dalam hadis?
Doa yang diriwayatkan Abu Dawud dan At Tirmidzi: Allahumma inni a‘udzu bika an adhilla aw udholla… yang memohon dijauhkan dari tersesat, tergelincir, menganiaya, dan dibodohi.
4. Apakah ada doa perlindungan lain dari Al-Qur’an dan hadis?
Ada, seperti doa tolak bala, doa keselamatan dunia akhirat, dan doa QS. Yunus: 85-86 untuk terhindar dari fitnah kaum zalim.
5. Bagaimana Islam memandang kejahatan?
Kejahatan adalah tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah, mencakup kerusakan, kezaliman, kemungkaran, permusuhan, dan tipu daya.
6. Menurut psikologi Islam, apa sumber kejahatan?
Salah satunya dari Nafsu Ammarah, yaitu dorongan jiwa yang condong pada keburukan dan perintah yang buruk.
7. Apa adab berdoa agar mustajab?
Ikhlas, memuji Allah, bersalawat, menghadap kiblat, mengangkat tangan, bersungguh-sungguh, merendahkan suara, berwudu, dan tidak meminta hal buruk.





