Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (kanan) didampingi Direktur Eksekutif BSI Maslahat Sukoriyanto Saputro (kiri) meninjau langsung dan memastikan hewan yang didistribusikan sehat
KNews.id – Jakarta, 26 Mei 2026 – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus memperkuat perannya dalam menggerakkan roda ekonomi umat yang inklusif dan berkelanjutan. Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, BSI merealisasikan komitmen sosialnya dengan menyiapkan 24.053 ekor hewan kurban untuk disalurkan ke seluruh pelosok negeri, termasuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Jumlah ini naik signifikan sebesar 57% dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebanyak 15.272 ekor.
Pencapaian besar ini berjalan beriringan dengan akselerasi transformasi digital yang terus dibangun oleh Perseroan. Melalui aplikasi BYOND by BSI dan kartu pembiayaan BSI Hasanah Card, BSI memfasilitasi masyarakat untuk menunaikan ibadah kurban dengan lebih mudah, aman, dan tepercaya. Berkolaborasi dengan 25 Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi, transaksi kurban digital melalui platform BYOND tahun ini mencapai Rp2,5 Miliar. Selain BYOND masyarakat juga mengakses pembelian hewan kurban menggunakan Kartu BSI Hasanah Card dengan transaksi mendekati Rp20 Miliar.
Kemudahan akses ini, ditambah dengan variasi harga hewan kurban yang inklusif mulai dari Rp1,9 juta untuk kambing, menjadi pemantik utama tingginya partisipasi masyarakat. Inovasi digital ini tidak hanya mempermudah ibadah, tetapi juga berhasil menjadi mesin pertumbuhan baru (new growth engine) bagi bisnis berkelanjutan.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyampaikan bahwa esensi dari perbankan syariah adalah menciptakan keseimbangan antara kinerja bisnis dan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.”Perbankan syariah hadir untuk membawa kemaslahatan yang lebih luas. Kinerja positif yang berhasil diraih BSI harus berbanding lurus dengan peningkatan volume ZISWAF, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung dalam meningkatkan kesejahteraan umat, salah satunya melalui pemerataan distribusi hewan kurban ini,” ungkap Anggoro.
Lebih dari sekadar ritual ibadah, program kurban BSI tahun ini dirancang untuk memberikan dampak ekonomi berantai (multiplier effect) bagi sektor UMKM. BSI melibatkan langsung 37 peternak lokal, di mana 19 di antaranya merupakan UMKM dan desa binaan BSI yang tersebar di wilayah Aceh, Sumatera Selatan, Jabodetabek, Jawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara.
“Kami ingin memastikan ekonomi kerakyatan tumbuh dari hulu ke hilir. Peternak binaan kami berikan kepastian pasar dengan stok hewan yang terjaga kualitasnya. Melalui pendampingan ini, kami berharap usaha mereka semakin berkembang dan secara bertahap dapat naik kelas—dari semula menjadi penerima manfaat, ke depan mampu tumbuh menjadi pemberi manfaat atau pembayar zakat (muzaki),” tambah Anggoro.
BSI juga berkomitmen mengimplementasikan distribusi hewan kurban ramah lingkungan dengan menggunakan besek bambu sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan (sustainability). Daging kurban didistribusikan kepada lebih dari 600 ribu kantong yang dialokasikan bagi masyarakat duafa, wilayah terdampak bencana, serta pesantren.
BSI juga menjamin seluruh hewan kurban yang disalurkan berada dalam kondisi sehat, prima, serta telah mengantongi sertifikat kelulusan uji klinis dari Rumah Potong Hewan (RPH) dan Dinas Peternakan setempat.
(FHD/BSI)





