KNews.id – Jakarta – Islam bukanlah agama yang mengajarkan sikap keras, apalagi gemar mengkafirkan masyarakat. Sebaliknya, Islam membawa kelembutan dan kasih sayang, termasuk kepada orang-orang yang bermaksiat dan berdosa.
Kita sering menyaksikan orang-orang yang mengaku berilmu dan beriman, tetapi kemudian dengan mudah mengkafirkan para pelaku maksiat dan membuat mereka berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala.
Menurut metode berpikir mereka, yang satu dianggap kafir, yang lain disebut ahli bidah, sementara yang lainnya lagi dinilai fasik. Akibatnya, mereka justru membuat manusia berputus asa dari rahmat Ar-Rahman Ar-Rahim dan menjauhkan mereka dari agama Rabb seluruh alam.
Salah satu akhlak Rasulullah SAW adalah kasih sayang. Beliau menyayangi orang-orang yang bermaksiat dan berdosa, serta selalu membukakan bagi mereka pintu harapan dan pintu ampunan, betapapun banyak dosa dan kesalahan yang telah dilakukan seorang hamba.
عَنْ أَبِي الطَّوِيلِ شَطْبٍ الْمَمْدُودِ أَنَّهُ قَالَ: أَتَيْتُ أَنَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَقُلْتُ: أَرَأَيْتَ رَجُلًا عَمِلَ الذُّنُوبَ كُلَّهَا وَلَمْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا، وَمَعَ ذَلِكَ لَمْ يَتْرُكْ حَاجَةً وَلَا دَاجَةً إِلَّا اقْتَطَعَهَا بِيَمِينِهِ، فَهَلْ لِذَلِكَ مِنْ تَوْبَةٍ، قَالَ: «هَلْ أَسْلَمْتَ»؟ قُلْتُ: أَمَّا أَنَا فَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ: «نَعَمْ لِيَفْعَلِ الْخَيْرَاتِ وَيَتْرُكِ الشِّرْكَ، يَجْعَلُهُنَّ خَيْرَاتٍ كُلَّهُنَّ»
Diriwayatkan dari Abu Ath-Thuwail Syathb Al-Mamdud, ia berkata, “Aku datang menemui Rasulullah SAW lalu aku bertanya, ‘Bagaimana menurutmu tentang seseorang yang melakukan seluruh dosa, tetapi tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun?
Ia bahkan tidak meninggalkan satu kebutuhan pun melainkan dipenuhinya, dan tidak pula meninggalkan satu perkara pun melainkan diambilnya dengan tangannya. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertobat?’
Beliau bertanya, ‘Apakah engkau telah masuk Islam?’ Aku menjawab, ‘Adapun aku, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.’
Beliau bersabda, ‘Ya. Hendaknya ia melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan kesyirikan. Allah akan menjadikan semuanya sebagai kebaikan.’”
Allah Ta’ala berfirman:
۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53).
Salah satu bentuk akhlak Rasulullah SAW adalah bersikap lembut kepada orang-orang yang bermaksiat dan berdosa.
Beliau menasihati mereka dan menjelaskan hikmah di balik larangan yang telah ditetapkan Allah terhadap berbagai perbuatan haram.
Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina.”
Orang-orang yang berada di sana langsung meneriakinya dan berkata, “Diam! Diam!” Namun Rasulullah SAW bersabda, “Biarkan dia. Dekatkanlah dia kepadaku.”
Pemuda itu pun mendekat hingga berada di dekat Rasulullah SAW. Beliau kemudian bertanya kepadanya, “Apakah engkau rela jika zina itu dilakukan terhadap ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusan untukmu.”
Beliau bersabda, “Begitu pula manusia tidak rela jika hal itu dilakukan terhadap ibu mereka.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau rela jika zina itu dilakukan terhadap putrimu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusan untukmu.”
Beliau bersabda, “Begitu pula manusia tidak rela jika hal itu dilakukan terhadap putri-putri mereka.”
Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau rela jika zina itu dilakukan terhadap saudara perempuanmu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusan untukmu.”
Beliau bersabda, “Begitu pula manusia tidak rela jika hal itu dilakukan terhadap saudara perempuan mereka.”
Kemudian beliau menyebutkan hal yang sama berkaitan dengan bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu. Setelah itu pemuda tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah aku.”
Maka Rasulullah SAW meletakkan tangannya pada pemuda tersebut dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kehormatannya.”
Setelah itu, pemuda tersebut tidak lagi menoleh kepada sesuatu pun yang berkaitan dengan perbuatan zina.
Di antara petunjuk Rasulullah SAW dalam menghadapi orang-orang yang bermaksiat adalah anjuran untuk menutup aib mereka.
Banyak sekali hadis Nabi SAW yang menganjurkan seorang Muslim untuk menutup aib saudaranya dan memperingatkan agar tidak mencari-cari kesalahan serta kekeliruannya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR Bukhari).
Dalam Fath al-Bari Fi Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar menjelaskan makna sabda Nabi SAW, “Barang siapa menutupi seorang Muslim,” yaitu apabila seseorang melihat saudaranya melakukan suatu perbuatan buruk lalu tidak menyebarkannya kepada orang lain.
Namun, hal ini bukan berarti seseorang tidak boleh mengingkari perbuatan tersebut secara pribadi.
Demikianlah Rasulullah SAW sosok yang paling menjaga kehormatan manusia, mengajarkan kepada kita agar menutup aib orang-orang yang melakukan maksiat. Sebagai balasannya, Allah Ta’ala akan menutup aib kita pada hari kiamat.
Dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda. “Barang siapa menutupi aib saudaranya sesama Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. Dan barang siapa membuka aib saudaranya sesama Muslim, Allah akan membuka aibnya, bahkan Dia akan mempermalukannya karena aib tersebut di dalam rumahnya.” (HR Ibnu Majah).
عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من علِم من أخيه سيئة فسترها عليه، ستر الله عليه يوم القيامة
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW juga bersabda, “Barang siapa mengetahui suatu keburukan dari saudaranya lalu ia menutupinya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR Ahmad).
Perhatikan pula kisah Ma’iz radhiyallahu ‘anhu. Ketika Hazzal radhiyallahu ‘anhu datang untuk memberikan kesaksian bahwa Ma’iz telah melakukan zina, Rasulullah SAW menunjukkan kemarahan yang tampak pada wajah beliau. Beliau bahkan menegur Hazzal.
عن يزيد بنِ نُعَيم عن أبيه أن ماعزًا أتى النبي صلى الله عليه وسلم، فأقرَّ عندَه أربعَ مراتٍ، فأمَرَ برجمه، وقال لهزَّالٍ: “لو سَتَرتَهُ بثوبك كان خيرًا لك”
Dari Yazid bin Nu’aim, dari ayahnya, diriwayatkan bahwa Ma’iz datang kepada Nabi SAW dan mengakui perbuatannya sebanyak empat kali.
Kemudian Nabi SAW memerintahkan agar hukuman rajam ditegakkan. Kepada Hazzal beliau bersabda,“Seandainya engkau menutupinya dengan pakaianmu, itu lebih baik bagimu.”
Hazzal bin Ri’ab bin Zaid bin Kulaib Al-Aslami memahami bahwa Nabi SAW menginginkan agar aib tersebut tidak disebarluaskan.
Seandainya Hazzal menutupinya dan menyuruh Ma’iz untuk bertobat serta merahasiakan kesalahannya, hal itu lebih baik daripada apa yang telah dilakukannya hingga akhirnya menjadi sebab ditegakkannya hukuman atas Ma’iz.
Dalam al-Muntaqa Syarh al-Muwattha’,al-Baji menjelaskan penyebutan “pakaian” dalam hadis tersebut merupakan bentuk penegasan.
Seandainya satu-satunya cara untuk menutupi aib Ma’iz adalah dengan menutupinya menggunakan pakaian di hadapan orang-orang yang hendak bersaksi, hal itu tetap lebih baik daripada membuka perkaranya dan menjadi sebab ditegakkannya hukuman atas dirinya.
Ibnu Al-Atsir mengomentari hadis ini dalam kitabnya al-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa al-Atsar, dan berkata, “Beliau mengatakan demikian karena kecintaan untuk menyembunyikan aib dan ketidaksukaan terhadap penyebarannya.”
Dalam riwayat lain dijelaskan tentang sikap Rasulullah SAW menghadapi pria yang gemar meminum khamar.
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه، يقول: أَنَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: اللَّهُمَّ العَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ! فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: “لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إلا إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ”
Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuberkata, “Pada masa Nabi SAW ada seorang laki-laki bernama Abdullah yang dijuluki Himar. Ia sering membuat Rasulullah SAW tertawa. Nabi SAW pernah menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya karena minum khamar.
Suatu hari ia kembali dibawa menghadap Nabi SAW. Beliau memerintahkan agar ia dicambuk. Salah seorang yang hadir berkata, ‘Ya Allah, laknatlah dia! Betapa seringnya ia dibawa ke hadapan Nabi!’
Maka Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang dirinya kecuali bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.’”
Perhatikanlah bagaimana Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu tetap menyebutkan sisi baik dari seorang sahabat yang sering meminum khamar. Ia menyebutkan bahwa orang tersebut membuat Rasulullah SAW tertawa.
Dengan demikian, ia menjadi sebab hadirnya kebahagiaan di hati Rasulullah SAW. Inilah prinsip penting dalam Islam: kita hendaknya berusaha menyebutkan kebaikan seseorang dan melihat sisi terang dalam dirinya, lalu membiarkan sisi terang itu mengalahkan sisi gelapnya hingga menghapusnya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَـٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ١١٤
“Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS Hud: 114).
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan sebagian orang pada zaman kita. Mereka justru sibuk “mengorek-ngorek” dan mencari sisi gelap orang lain.
Begitu menemukan kesalahan atau kekurangannya, mereka menjadikannya sebagai senjata untuk menghapus seluruh kebaikan yang pernah dilakukan orang tersebut.
Padahal, akhlak Nabi SAW mengajarkan kepada kita sesuatu yang jauh lebih mulia: menuntun orang yang berdosa menuju kebaikan, bukan membuatnya berputus asa; menasihatinya dengan kelembutan, bukan mempermalukannya.
Menutup aibnya, bukan menyebarkannya; dan mengingatkan kebaikannya, bukan hanya memburu kesalahannya. Sebab, pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.






