KNews.id – Jakarta – Penggunaan Kesepakatan Abraham oleh Presiden Donald Trump sebagai bagian dari ‘barter’ pembicaraan dengan Iran menggarisbawahi bagaimana Teheran semakin unggul dari AS di meja perundingan. Trump dinilai mencoba mengalihkan perhatian dari masalah utama negosiasi. Demikian para pejabat AS dan Arab, baik yang masih menjabat maupun sudah pensiun, kepada Middle East Eye.
“Trump tahu bahwa ia mendapatkan kesepakatan yang melemahkan setiap tujuan perang yang ia dukung setelah 28 Februari. Jadi, ia mencoba menciptakan kesepakatan yang lebih besar,” kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah, kepada Middle East Eye.
“Ini adalah taktik khas Trump,” tambah Miller, yang sekarang menjadi peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace.
Kesepakatan yang sedang dibahas akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Dalam butir negosiasi juga disebutkan sebagai imbalan atas pencabutan sanksi penjualan minyak, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, lokasi sama AS juga menerapkan blokade terhadap Teheran.
Kesepakatan tersebut tidak membahas persenjataan rudal balistik Iran, yang menurut laporan The New York Times berada pada 70 persen dari tingkat sebelum perang. Seorang mantan pejabat senior AS mengatakan kepada MEE bahwa Trump tampaknya mengharapkan kompensasi dari negara-negara Teluk untuk mengakhiri perang di Iran.
“Pendekatan Trump terhadap Kesepakatan Abraham didasarkan pada kesan yang salah bahwa negara-negara yang ia jerat ke dalam perang yang menyebabkan pengeboman kota-kota dan infrastruktur penting mereka berutang budi kepadanya untuk mengakhiri perang,” kata mantan pejabat senior AS itu kepada MEE.
Trump memberikan alasan yang beragam untuk keputusannya melancarkan perang terhadap Iran, bersama Israel, pada bulan Februari. Terkada ia mengatakan bahw serangan ini untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Dia juga mengatakan bahwa AS bertujuan untuk menghancurkan kemampuan militer konvensional Iran, dan di lain waktu, dia juga mengisyaratkan bahwa perubahan rezim adalah tujuan utamanya.
Dalam unggahan media sosial terpisah pada Senin, Trump mengatakan uranium yang diperkaya Iran akan diserahkan kepada AS dan dihancurkan atau dibongkar dalam koordinasi dengan Iran di “lokasi yang dapat diterima”. Pernyataan terakhir ditafsirkan oleh beberapa pengamat sebagai konsesi AS dengan China atau Rusia. Dua negara itu punya kedekatan dengan Iran.
Pengakuan terhadap Israel
Menariknya, Trump baru-baru ini menyerukan beberapa negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel untuk menormalisasi hubungan, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan. Permintaannya datang tak lama setelah ia berbicara dengan para pemimpin negara-negara tersebut, dan kemudian dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam panggilan terpisah.
Perang AS-Israel terhadap Iran telah mengguncang para penguasa monarki Teluk Arab, yang bergantung pada AS untuk keamanan mereka.
UEA, Arab Saudi, dan Qatar melobi AS untuk tidak menyerang Iran. Ketiga negara itu menanggung beban pembalasan Teheran terhadap AS, dengan ribuan rudal dan drone Iran menghantam kota-kota mereka, infrastruktur energi, dan pangkalan militer Amerika di negara-negara tersebut.
Negara-negara Teluk umumnya menanggapi perang tersebut dengan memberikan AS akses yang lebih besar ke pangkalan mereka dan izin penerbangan lintas wilayah. Beberapa, seperti Arab Saudi dan UEA, bahkan ikut serta dalam serangan terhadap Iran. Demikian menurut Reuters.
Namun semuanya memiliki rasa frustrasi yang sama terhadap Washington. Abu Dhabi terkadang menyerukan respons yang lebih agresif, sementara Arab Saudi dan Qatar menganjurkan mediasi.
Mantan pejabat AS dan analis Teluk di seluruh wilayah mengatakan perang tersebut telah memicu diskusi mendalam tentang apakah negara-negara Teluk dapat bergantung pada jaminan keamanan AS, tetapi Trump tampaknya kebal terhadap kekhawatiran tersebut.
“Putra Mahkota Mohammed bin Salman tidak berpikir ini akan terjadi…dia tidak berpikir dia akan menjilat saya…dia pikir itu hanya akan menjadi presiden Amerika lain yang kalah…tetapi sekarang dia harus bersikap baik kepada saya,” kata Trump pada awal perang.
Seorang diplomat Arab mengatakan kepada MEE bahwa Trump mungkin telah mengangkat Perjanjian Abraham sebagai konsesi kepada Netanyahu, yang menurut para analis menentang pengakhiran perang terhadap Iran.
“Israel diperkirakan akan mengadakan pemilihan umum pada musim gugur, dan mengakhiri perang dengan memperluas Perjanjian Abraham dapat membantunya di kotak suara,” kata pejabat Arab tersebut.
Trump mungkin juga harus menenangkan sekutu Republik di Kongres yang bersekutu erat dengan Netanyahu.
“Jika di kawasan itu dianggap bahwa kesepakatan dengan Iran memungkinkan rezim tersebut untuk bertahan dan menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu, kita akan menuangkan bensin ke konflik di Lebanon dan Irak,” tulis Senator AS Lindsey Graham di X setelah Trump mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang sudah dekat.
Senator AS Ted Cruz menyebut kesepakatan damai itu sebagai kesalahan yang sangat buruk. UEA, Bahrain, dan Maroko menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020 di bawah Kesepakatan Abraham, yang dianggap Trump sebagai pencapaian kebijakan luar negeri utamanya.
Netanyahu juga peka terhadap citra Kesepakatan Abraham pada saat Israel tampak terisolasi di panggung dunia. Kantornya membanggakan awal bulan ini bahwa pemimpin Israel itu melakukan kunjungan masa perang ke UEA, meskipun Abu Dhabi harus mengeluarkan bantahan.
Keretakan di Teluk
Perang melawan Iran telah memperburuk perpecahan di Teluk terkait Israel dan Iran. UEA telah bergerak lebih dekat ke Israel karena mencari mitra keamanan baru. Israel mengerahkan baterai pertahanan udara Iron Dome dan personel ke UEA untuk mengoperasikannya selama perang.
MEE mengungkapkan bahwa keduanya juga membentuk dana untuk bersama-sama memperoleh dan mengembangkan sistem senjata baru. Namun Arab Saudi, yang telah dilobi Trump tanpa hasil untuk menormalisasi hubungan dengan Israel sejak masa jabatan pertamanya, semakin curiga terhadap Israel sebagai akibat dari perang tersebut.
Arab Saudi sudah bersaing dengan UEA dan sejak itu beralih untuk memperdalam hubungan pertahanan dengan Turki, Pakistan, dan Mesir. “Persaingan antara UEA dan Arab Saudi berarti Arab Saudi tidak akan bergabung dengan Perjanjian Abraham sekarang. Jika mereka menormalisasi, itu akan dilakukan dengan nama yang berbeda,” kata Miller.





