Home Headline Tidak adakah Di antara Kalian Seorang yang Rasyid?
Headline - Lifestyle - Tokoh - 2 minggu ago

Tidak adakah Di antara Kalian Seorang yang Rasyid?

Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz

Allah berfirman,

وَلَمَّا جَآءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِىٓءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, beliau merasa resah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan beliau berkata, Ini adalah hari yang amat sulit”.” (Surat Hud 77)

Nabi Luth Alaihis Salam tidak mengetahui bahwa tamu-tamunya itu para malaikat. Mereka  menyerupai tiga orang pemuda yang sangat tampan. Beliau merasa resah dan sempit dadanya bukan karena tidak suka kedatangan tamu tapi karena khawatir tamu-tamunya akan mendapatkan perlakuan buruk dari kaumnya.

Allah berfirman,

وَجَآءَهُۥ قَوْمُهُۥ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِن قَبْلُ كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِى هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِى ضَيْفِىٓ ۖ أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ

“Dan kaumnya mendatanginya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji (homoseksual). Luth berkata, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagi kalian, maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini! Tidak adakah di antara kalian seorang yang Rasyid (berakal)?

(Surat Hud 78)

Istri Nabi Luth Alaihis Salam berkhianat memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan para pemuda tampan yang sedang bertamu ke rumah suaminya. Kaumnya bersegera berhamburan menuju rumah Nabi Luth Alaihis Salam tanpa ada rasa malu dan takut kepada azab Allah.

Seorang yang baru pertama kali melakukkan suatu dosa, biasanya hatinya berdebar takut kepada Allah dan malu diketahui manusia. Tapi jika ia sering melakukannya maka Allah menghukumnya dengan tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan tidak punya rasa malu kepada manusia, astaghfirullah wa atuubu ilaih.

Perbuatan keji homoseksual yang dilakukan oleh kaum Luth itu berasal dari tipu daya iblis. Iblis membisikkan kepada mereka untuk menghukum pencuri kebun dengan disodomi.

Setelah itu mereka ketagihan dan menularkan penyimpangan seksual kepada orang lain baik dengan cara memaksa para tamu yang datang dari luar daerah atau melakukannya suka sama suka dengan sesama teman dari satu daerah. Setelah itu mereka melakukan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan mereka tanpa ada rasa malu dan takut kepada azab Allah, wal ‘iyaadzu billah.

Baca Juga   Pemerintah: Mal dan Pasar Buka 8 Juni dan Sekolah Mulai 15 Juni

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang pengertian ucapan Nabi Luth Alaihis Salam, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku.”

Mujahid (murid Ibnu Abbas radhiallahu anhuma) berkata, “Maksudnya bukanlah puteri-puteri kandungnya. Namun maksudnya adalah kaum wanita dari umatnya. Karena setiap Nabi adalah ayah bagi umatnya. Pendapat ini juga diriwayatkan oleh Qatadah dan ulama lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Pendapat lainnya bahwa Nabi Luth Alaihis Salam menunjuk kepada kedua puterinya. Beliau bukan sedang menawarkan kepada orang-orang yang ahli maksiat untuk menikahi puterinya tapi sebagai upaya membela para tamunya agar tidak diganggu mereka. Nabi Luth Alaihis Salam tahu pasti jawaban mereka yang akan menolak tawaran beliau.

“Mereka (puteri-puteriku) lebih suci bagi kalian.”

Bukan berarti perbuatan homoseksual adalah perbuatan yang suci. Perbuatan homoseksual adalah perbuatan najis, tapi ungkapan yang halus tersebut digunakan saat berkomunikasi dengan mereka yang akan menjemput paksa tamu Nabi Luth Alaihis Salam. Beliau berharap agar kaumnya sadar dan pulang meninggalkan tamu beliau.

“Tidak adakah di antara kalian seorang yang rasyid?”

Nabi Luth Alaihis Salam menyatakan bahwa ucapan dan perbuatan kaumnya bukanlah tindakan seorang yang rasyid.

Seorang yang rasyid adalah seorang mukmin yang melakukan amar makruf nahi mungkar. Seorang yang rasyid adalah seorang yang menggunakan akal sehatnya sehingga dapat mengekang hawa nafsunya. Seorang yang rasyid adalah seorang yang tepat saat memutuskan urusan dan orang yang benar dalam tindakannya.

Seorang yang rasyid adalah seorang yang rajin shalat istikharah memohon petunjuk Allah untuk membimbingnya memutuskan suatu urusan. Seorang yang rasyid adalah seorang yang selalu bermusyawarah meminta nasihat dari orang yang shalih dan bijak agar ia tidak salah langkah atau salah jalan.

*****

Di antara faidah yang bisa dipetik dari tulisan di atas :

  • Orang yang beriman bersegera kepada ketaatan, sedangkan orang kafir dan ahli maksiat bersegera kepada kemaksiatan.
  • Kebiasaan melakukan maksiat akan mengurangi bahkan dapat menghilangkan rasa takut kepada Allah dan rasa malu kepada manusia. Hati manusia dapat menjadi mati dan keras apabila berulang-ulang melakukan kemaksiatan.
Baca Juga   BRI Sambut Baik Status BRIsyariah Sebagai Surviving Entity di Merger Bank Syariah BUMN

Allah Ta’ala berfirman:

{ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ …}

“Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras, sehingga hati itu seperti batu, bahkan lebih keras…”

(Surat Al Baqarah 74)

  • Amanah dan menjaga rahasia merupakan akhlak yang terpuji. Khianat dan membuka rahasia adalah akhlak tercela.
  • Allah menciptakan manusia berupa laki-laki dan perempuan agar mereka dapat menyalurkan kebutuhan biologis dengan cara menikah, agar jiwa mereka tenteram dan menurunkan keturunan.
  • Syahwat itu ibarat bensin. Jika ditempatkan di tempat yang tepat dan disalurkan dengan tepat maka akan menghasilkan sesuatu yang positif. Jika ditempatkan dan disalurkan dengan salah maka akan membakar dan membinasakan.
  • Obat dari segala penyimpangan adalah dengan bertakwa kepada Allah. Seorang yang mencintai Allah melebihi lainnya maka Allah akan memudahkannya untuk meninggalkan berbagai kebiasaan buruk.
  • Penting untuk terus belajar berkomunikasi dengan baik. Perlu untuk terus belajar menata kata dan merangkai kalimat agar menghasilkan kemaslahatan dan terhindar dari kemudharatan.
  • Pentingnya shalat istikharah dan bermusyawarah agar langkah kita selalu mendapatkan bimbingan Allah Ta’ala.
  • Mayoritas manusia mengajak kepada keburukan. Allah Ta’ala berfirman,

{…. ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ} [الأنعام : 119]

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain), dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.”

(Surat Al An’am 119).

  • Pentingnya kita terus berdoa memohon kepada Allah agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa, menjaga kesucian diri, amanat, tepat dalam memutuskan perkara dan benar dalam bertindak.

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”

اللهم ألهمني رشدي واعذني من شر نفسي

Allahumma alhimnii rusydii wa a’idznii min syarri nafsii“Ya Allah berilah Ilham untukku berupa ketepatan dalam memutuskan dan bertindak, dan lindungilah diriku dari kejahatan jiwaku”. (FHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Hati-hati Bertransaksi Keuangan Online, Ini Tujuh Tips Aman ala OJK

KNews.id- Imbas perkembangan digital dan mulai maraknya bertransaksi keuangan secara onlin…