KNews.id – Jakarta, Kondisi likuiditas perbankan yang kian longgar akibat tambahan dana pemerintah berpotensi membuat bank-bank menahan laju penerbitan surat utang.
Kepada Divisi Riset Pefindo Suhindarto menilai injeksi dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dari APBN ke sistem perbankan beberapa waktu terakhir membuat ruang pendanaan lembaga keuangan menjadi semakin lapang.
“Ini membuat likuiditas lembaga keuangan relatif mengalami pelonggaran. Hal ini membuat loan to deposit ratio bank sempat menurun,” ujar Suhindarto, Kamis (16/10/2025).
Dia menambahkan kondisi tersebut dapat menekan kebutuhan penggalangan dana melalui pasar surat utang, terutama dari sektor keuangan seperti perbankan dan multifinance. Adapun di sisi multifinance, rasio financing to asset masih relatif stabil.
“Ini berpotensi bisa jadi kebutuhan penggalangan dana di pasar surat utangnya mengalami tekanan dari industri keuangan itu sendiri,” sebutnya. Meski begitu, Suhindarto menilai minat penerbitan surat utang perbankan masih cukup tinggi hingga akhir 2025.
Berdasarkan data mandat yang diterima Pefindo, terdapat lima perusahaan perbankan yang berencana menerbitkan surat utang dengan total nilai sekitar Rp11,7 triliun. “Untuk tahun depan, kami perkirakan sektor perbankan masih akan menempati posisi lima besar sektor penerbit surat utang,” ujarnya.
Dari sisi kebutuhan refinancing, Suhindarto mencatat nilai jatuh tempo surat utang perbankan pada 2026 mendatang mencapai Rp17,58 triliun, atau sekitar 12% dari total jatuh tempo surat utang di pasar yang per akhir September 2025 mencapai Rp149 triliun.
Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi Rp156 triliun sampai Rp160 triliun hingga akhir tahun ini. Dengan demikian, secara keseluruhan penerbitan surat utang sektor perbankan masih akan terjaga dan cenderung stabil di tahun depan.
Adapun, sektor perbankan mencatat mandat penerbitan surat utang terbesar hingga akhir kuartal III/2025. Berdasarkan data Pefindo per 30 September 2025, total rencana penerbitan surat utang dari lima bank mencapai Rp11,7 triliun, sejajar dengan sektor multifinance yang juga mencatat nilai mandat senilai Rp11,7 triliun.
“Multifinance dan perbankan ini menempati peringkat pertama dan kedua,” katanya dalam konferensi pers Pefindo. Selain perbankan dan multifinance, sektor industri bubur kertas dan tisu berada di posisi ketiga dengan rencana penerbitan mencapai Rp7,88 triliun, diikuti oleh perusahaan induk Rp5,7 triliun, serta sektor pertambangan Rp4,9 triliun.
Secara keseluruhan, Pefindo mencatat telah menerima 45 mandat penerbitan surat utang dari berbagai sektor industri dengan total rencana issuance mencapai Rp59,43 triliun hingga September 2025.
Jumlah ini mencakup beragam jenis instrumen, antara lain PUB Obligasi senilai Rp34,88 triliun, PUB Sukuk Rp10,47 triliun, Obligasi konvensional Rp4,9 triliun, serta medium term notes (MTN) Rp3,68 triliun.
Dari sisi institusi, mayoritas mandat berasal dari perusahaan non-BUMN sebanyak 28 entitas dengan nilai rencana penerbitan Rp35,88 triliun. Sementara itu, BUMN dan anak usahanya berkontribusi melalui 17 perusahaan dengan total rencana penerbitan Rp23,55 triliun.





