KNews.id – Jakarta – Keracunan makanan umumnya ditandai dengan sejumlah keluhan seperti mual, muntah, dan diare. Namun, pada kondisi tertentu, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan sistem pencernaan.
Kehilangan banyak cairan akibat muntah dan diare berulang dapat menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak karena mereka termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami dampak serius akibat kekurangan cairan.
Ahli Ilmu Gizi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, M.Kes., menjelaskan bahwa dehidrasi berat dapat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir dan daya ingat.
Menurut dia, ketika tubuh kehilangan banyak cairan, volume darah juga dapat berkurang. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi pasokan oksigen ke otak.
“Dehidrasi itu bisa menyebabkan darah juga berkurang,” ujar Prof. Meilinah dalam wawancara dengan Kompas.com.
Dehidrasi dapat memengaruhi kerja otak
Prof. Meilinah menjelaskan, darah berperan membawa oksigen ke otak. Ketika volume cairan dan darah berkurang akibat dehidrasi, pasokan oksigen ke otak juga dapat terganggu. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir.
Ia juga menjelaskan bahwa dehidrasi dapat memengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan daya ingat, yakni hipokampus.
“Dia mempengaruhi hipokampus,” kata Prof. Meilinah.
Selain itu, ia menyebut dehidrasi akut dapat menyebabkan perubahan pada otak yang disebutnya sebagai shrinkage atau penyusutan sementara. Kondisi tersebut kemudian dapat berpengaruh terhadap fungsi kognitif, termasuk kemampuan mengingat.
Muntah dan diare berulang dapat memperparah dehidrasi
Pada kasus keracunan makanan, dehidrasi dapat terjadi ketika seseorang mengalami muntah dan diare secara terus-menerus. Prof. Meilinah secara khusus menyoroti diare berair atau watery diarrhea karena kondisi tersebut dapat membuat tubuh kehilangan cairan dalam jumlah banyak.
“Risiko besar untuk dehidrasi,” ujarnya.
Jika tidak segera ditangani, kehilangan cairan yang cukup banyak dapat menjadi kondisi serius. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena dehidrasi pada kelompok tersebut dapat berakibat fatal.
Keracunan makanan juga dapat memicu respons stres
Selain kekurangan cairan, kondisi tubuh saat mengalami muntah dan diare berat juga dapat memicu respons stres. Prof. Meilinah menjelaskan, kondisi tersebut dapat meningkatkan hormon stres, salah satunya kortisol. Menurut dia, kortisol juga dapat memberikan dampak buruk terhadap daya ingat.
“Ditambah lagi dengan diare yang terus-menerus bolak-balik ke WC dan muntah-muntah hebat, itu memicu hormon stres ya, kortisol,” jelasnya.
Dengan demikian, dampak keracunan makanan terhadap kemampuan berpikir dan daya ingat tidak semata-mata berasal dari makanan yang terkontaminasi, tetapi juga dari kondisi tubuh yang mengalami kehilangan cairan dan tekanan akibat muntah serta diare berat.
Apa yang harus dilakukan saat mengalami dehidrasi?
Prof. Meilinah menyarankan pemberian oralit untuk membantu mengganti cairan yang hilang akibat muntah dan diare.
“Oralit. Sebanyak yang dia mampu minum,” ujarnya.
Selain memberikan oralit, orang yang mengalami dehidrasi juga perlu segera mendapatkan penanganan medis, terutama apabila kondisinya cukup berat.
Prof. Meilinah menyarankan agar pasien segera dibawa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Pada anak yang mengalami keracunan makanan, orangtua sebaiknya tidak mengabaikan muntah atau diare yang berlangsung berulang.
Kehilangan cairan yang terus terjadi dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. Prof. Meilinah juga menyebut kebutuhan cairan harian minimal sekitar 30 cc per kilogram berat badan
Dengan memperhatikan kecukupan cairan dan segera mencari pertolongan ketika muncul tanda dehidrasi, risiko komplikasi akibat kehilangan cairan dapat diminimalkan.






