Pada 2022, produksi minyak bumi dunia secara rata-rata per hari adalah 99,4 juta barrel. IEA memperkirakan produksi pada tahun ini akan meningkat menjadi 100,9 juta barrel per hari VS konsumsi pada 101,9 juta barrel per hari. Pada data tersebut, kita bisa melihat bahwa konsumsi terus meningkat walau ada kekhawatiran terhadap kemungkinan adanya resesi ekonomi global.
Nah jika melihat angka-angka diatas, keputusan negara anggota OPEC dan OPEC+ untuk memotong produksi minyak bumi harian mereka sebanyak 1,65 juta barrel tentunya secara teoritis akan meningkatkan harga minyak bumi. Keputusan pemotongan produksi harian ini pada Senin 3 April lalu berhasil mengerek harga minyak dunia diatas 7% menjadi sekitaran $80,80 per barel untuk minyak jenis WTI dan $85,30 untuk jenis Brent.
Langkah OPEC dan OPEC+ itu segera mendapatkan kecaman dari AS yang tengah berjuang untuk mengisi kembali Strateguc Petroleum Reserve (Cadangan Strategis Minyak) yang selama pemerintahan Presiden Joe Biden berkurang banyak karena dipakai untuk menahan laju inflasi akibat kenaikan harga BBM.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), pada Maret 2023, harga BBM berkontribusi sebesar 7,2% terhadap kenaikan inflasi tahunan di AS.
Menurut laporan terbaru, SPR memiliki kapasitas maksimum penyimpanan sekitar 713,5 juta barel minyak, tetapi saat ini hanya sekitar 375 juta barel yang tersimpan. Selama Biden memerintah, cadangan minyak AS berkurang 211 juta dan saat ini berada pada level terendah sejak 1983.
Biden berkeinginan untuk menambal kembali cadangan minyak bumi yang berkurang dengan mengatakan akan membeli minyak bumi pada kisaran $60-$72 per barrel. Tapi “cita-cita” Biden untuk menambal cadangan minyak dengan level harga diatas kayaknya cuma bakalan jadi cita cita saja.




