Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Jakarta, Dalam pengantar bukunya “Prabowo Subianto Paradoks Indonesia Dan Solusinya”, Prabowo Subianto menginginkan : Indonesia merdeka yang kuat dan terhormat. Menjadi negara yang disegani karena rakyatnya hidup sejahtera, dan berkontribusi positif pada kehidupan bangsa.
Saat ini, kurang dari 25 tahun menuju 100 tahun Kemerdekaan Indonesia faktanya : Kita belum mencapai, bahkan masih jauh dari taraf kesejahteraan, pembangunan yang belum sesuai dengan cita-cita para Pendiri Bangsa. Ketimpangan ekonomi masih mengkhawatirkan. Masih terlalu banyak warga negara Indonesia yang hidup dalam kemiskinan dan terancam jatuh miskin.
Jalannya aparatur negara kita sudah demikian tergantung pada utang. Bahkan, untuk membayar bunga utang, negara kita harus membuat utang baru.
Dari pandangan dan pemikiran tersebut Prabowo Subianto percaya :
1. Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kita miliki seharusnya negara kita tidak hidup dalam ketimpangan dan kemiskinan.
2. Kuncinya adalah pemahaman dan kemampuan segenap lapisan pimpinan negara dalam mengelola sumber daya yang kita miliki agar berjalan sesuai dengan pemahaman ekonomi para pendiri bangsa.
Inilah tantangan sejarah bagi generasi kita untuk turut memahami kondisi negara kita, memahami dua tantangan terbesar kita dalam bernegara, dan turut ambil peran dalam perjuangan mewujudkan negara yang rakyatnya hidup sejahtera. ( Jakarta, April 2022 ).
Prabowo Subianto mengerti bahwa kesadaran adalah modal utama
perjuangan. Bahwa jika negara dikelola dengan tepat, kita punya modal sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup untuk jadi bangsa yang kuat dan terhormat.
Kesadaran yang saya maksud :
- Pertama, adalah kesadaran bahwa sistem ekonomi dan politik yang dipilih oleh para Pendiri Bangsa kita, yaitu sistem ekonomi dan demokrasi Pancasila atau sistem ekonomi konstitusi, sebenarnya adalah pilihan yang terbaik untuk membangun Indonesia dan mencapai cita-cita kemerdekaan kita.
- Kedua bahwa sistem ekonomi yang sekarang dijalankan oleh negara kita tidak sesuai dari apa yang digariskan dalam UUD 1945 yang asli. UUD 1945 versi 18 Agustus 1945.
- Ketiga, bahwa tidak mungkin saya bisa berhasil mengembalikan haluan ekonomi negara tanpa perjuangan politik. Prabowo Subianto menguraikan kembali tapak sejarah mendirikan partai dan kekalahannya pada Pilpres 2014 dan 2019.
- Keempat, setelah 75 tahun lebih merdeka, keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia belum tercapai. Malah, kita sekarang ada di persimpangan jalan. Jika kita salah melangkah, bukan tidak mungkin kita terperosok jadi negara gagal.
Buku Paradoks Dan Solusinya dibuat karena ingin ada lebih banyak warga negara Indonesia yang mengetahui, di mana Indonesia sebagai negara dan sebagai bangsa saat ini berada – dan bagaimana sepatutnya Haluan Negara kedepannya.
Sebagai seorang pejuang politik, adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk memperjuangkan Indonesia yang adil dan makmur. Indonesia yang seperti dicita-citakan oleh Para Pendiri Bangsa kita. Cita-cita yang mendorong Para Pendiri Bangsa untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Betapa indah dan idealnya cita – citanya Prabowo Subianto dalam paradoksnya sebelum jadi * Setelah jadi presiden narasi idealnya sesekali masih muncul dalam pidatonya tetapi sebagian rakyat merasakan masih sekedar omon-omon.
Munculnya anomali yang terus dipertontonkan wajar ada rakyat mengajukan beberapa pertanyaan yg memerlukan analisis terhadapb Presiden Prabowo setelah jadi Presiden :
- Siapa sebenarnya pendukung loyal Prabowo 24 karat ?
- Siapa yang yang mengendalikan arah dan kebijakan Prabowo saat ini ?,
- Kelompok mana yang saat ini mendukung Paradoks Prabowo dan siapa yang akan membelokan?,
- Siapa sutradara Prabowo harus melanjutkan program Jokowi yg merugikan rakyat dan negara,
- Sebab apa Prabowo menjadi tampak gamang menjauh dari pikiran aslinya dari cita – cita ideal dalam Paradoks nya,
- Dalam setiap pidato resminya sampai saat terkesan menghindar dari kalimat “tetap setia pada Pancasila dan UUD 45”,
- Bagaimana akan bisa memenuhi janjinya untuk berantas korupsi, tegakkan hukum, dan kembalikan asset negara dari mafia.
Padahal di awal buku Paradoks Indonesia, Prabowo Subianto meletakkan tulisan Amanah Presiden Soekarno Pada Sidang Pertama Perantjang Nasional, 28 Agustus 1959 :
“Dan saudara – saudara mengetahui bahwa kemerdekaan daripada bangsa Indonesia itu sekedar hanyalah, saya katakan berulang – ulang satu jembatan untuk menuju dan akhirnya mencapai cita – cita bangsa Indonesia, yaitu :
- Suatu masyarakat yang adil dan makmur.
- Suatu masyarakat tiap – tiap warga negara dapat hidup sejahtera didalamnya.
- Suatu masyarakat yang memberi kebahagiaan kepada seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
- Suatu masyarakat yang berulang – ulang menjadi inspirasi penegak semangat daripada segenap pejuang – pejuang bangsa Indonesia yang telah memberikan pengorbanan
Dari cahaya itu semoga Prabowo Subianto segera bisa keluar dari semua yang membelenggu dan segera kembali pada jati dirinya. Sadar kembali dari apa yang telah di tulis dalam bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya bukan anomali dan hanya omon – omon.
(FHD/NRS)




