KNews.id – Jakarta – Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk menyampaikan kabar gembira dan melarang menimbulkan sikap antipati.
“Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh. Permudahlah dan jangan mempersulit.”
Mendengar kabar-kabar yang menggembirakan dapat menambah semangat seseorang untuk bersungguh-sungguh dan tekun dalam menjalankan ketaatan. Nabi SAW misalnya, pernah menyampaikan kabar gembira kepada Utsman bin Affan RA dengan bersabda:
“Apa yang dilakukan Utsman setelah hari ini tidak akan membahayakannya.”
Kabar gembira itu justru semakin mendorong Utsman RA untuk berbuat kebaikan, kebajikan, dan ketaatan.
Menyampaikan kabar gembira juga merupakan bentuk dukungan moral dan penguatan yang sangat dibutuhkan. Hal itu tergambar dalam sikap Khadijah RA ketika Nabi SAW mengalami peristiwa yang berat. Ia berkata kepada beliau:
أبْشِرْ، فوالله لا يخزيك الله أبدًا
“Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu.”
Salah satu kabar gembira yang paling agung adalah ayat-ayat Aquran yang diturunkan kepada Nabi SAW. Jibril AS pernah berkata kepada beliau:
هذا باب من السماء فُتِحَ اليوم، لم يُفتَح قط إلا اليوم، فنزل منه مَلَكٌ، فقال: هذا مَلَكٌ نزل إلى الأرض، لم ينزل قط إلا اليوم، فسلَّم، وقال: أبْشِرْ بنورين أُوتيتَهما، لم يُؤتَهما نبيٌّ قبلك: فاتحة الكتاب، وخواتيم سورة البقرة، لن تقرأ بحرف منهما إلا أُعطيتَه
“Ini adalah sebuah pintu dari langit yang dibuka hari ini. Pintu itu belum pernah dibuka sebelumnya. Lalu turunlah seorang malaikat dari pintu tersebut. Malaikat itu belum pernah turun ke bumi sebelumnya. Ia mengucapkan salam, kemudian berkata:
‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelum kamu: Al-Fatihah dan ayat-ayat penutup Surah Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf pun dari keduanya, kecuali engkau akan mendapatkan karunia darinya.’” (HR Muslim)
Di antara kabar gembira yang paling agung, wahai hamba-hamba Allah, adalah kabar gembira yang diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan memiliki keimanan yang tulus.
Diriwayatkan dari Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إني لأعلم كلمةً لا يقولها عبدٌ حقًّا من قلبه، فيموت على ذلك، إلا حرَّمه الله على النار: لا إله إلا الله
“Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar-benar tulus dari hatinya, kemudian ia meninggal dalam keadaan demikian, kecuali Allah mengharamkan neraka atasnya: ‘La ilaha illallah’ (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).” (Hadis sahih dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkannya).
Dari Abu Musa RA, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW bersama beberapa orang dari kaumku. Beliau kemudian bersabda:
أبْشِروا وبشِّروا مَن وراءكم، أنه من شهِد أن لا إله إلا الله صادقًا بها، دخل الجنة
“Bergembiralah dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berada di belakang kalian. Sesungguhnya siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan penuh keyakinan dan kejujuran, niscaya ia masuk surga.” (HR Musnad Ahmad, 4/211)
Di antara kabar gembira yang disampaikan Nabi SAW adalah mimpi yang baik, yang dialami oleh orang saleh atau diperlihatkan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda:
لم يَبْقَ من النبوة إلا الْمُبشِّرات، قالوا: وما المبشرات يا رسول الله؟ قال: الرؤيا الصالحة
“Tidak tersisa dari kenabian kecuali al-mubasysyirat (kabar-kabar gembira).” Para sahabat bertanya, “Apakah al-mubasysyirat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mimpi yang baik.” (HR Bukhari dan Muslim)
Di antara kabar gembira yang disampaikan Nabi SAW adalah kabar bagi orang-orang yang sedang sakit. Kabar tersebut menjadi penghibur atas rasa sakit yang mereka alami sekaligus membantu mereka bersabar dan mengharap pahala dari Allah.
Ketika Rasulullah SAW menjenguk Ummu Al-‘Ala dalam keadaan sakit, beliau bersabda,
أبشري يا أم العلاء؛ فإن مرض المسلم يُذهِب الله به الخطايا، كما تُذهِب النارَ خَبَثَ الذهب والفضة
“Bergembiralah, wahai Ummu Al-‘Ala. Sesungguhnya sakit yang dialami seorang Muslim akan menghapus dosa-dosanya, sebagaimana api menghilangkan kotoran dari emas dan perak.” (HR Abu Dawud, 3092; hadis sahih).
Bagi orang yang diuji dengan musibah kehilangan anak, terdapat pula kabar gembira yang agung dan mulia.
عن ابن سنان قال: دفنت ابني سنانًا، وأبو طلحة الخولاني جالس على شفير القبر، فلما أردت الخروج أخذ بيدي، فقال: ألَا أُبشرك يا أبا سنان؟ قلت: بلى، فقال: حدثني الضحاك بن عبدالرحمن عن أبي موسى الأشعري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا مات وَلَدُ العبد، قال الله لملائكته: قبضتُم وَلَدَ عبدي؟ فيقولون: نعم، فيقول: قبضتم ثمرة فؤاده؟ فيقولون: نعم، فيقول: ماذا قال عبدي؟ فيقولون: حمِدك واسترجع، فيقول الله: ابنُوا لعبدي بيتًا في الجنة، وسَمُّوه بيت الحمد
Diriwayatkan dari Ibnu Sinan bahwa ia pernah menguburkan anaknya, Sinan. Abu Thalhah Al-Khaulani ketika itu duduk di tepi kubur. Saat Ibnu Sinan hendak pergi, Abu Thalhah memegang tangannya dan berkata, “Maukah aku menyampaikan kabar gembira kepadamu, wahai Abu Sinan?”
Ia menjawab, “Tentu.”
Abu Thalhah kemudian berkata bahwa Adh-Dhahhak bin Abdurrahman meriwayatkan kepadanya dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Kalian telah mengambil anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Allah berfirman, ‘Kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Allah bertanya, ‘Apa yang dikatakan hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).’ Allah kemudian berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan namakanlah rumah itu Baitul Hamd (Rumah Pujian).’” (HR Tirmidzi, 1021; hadis hasan)
Sungguh beruntung orang yang kehilangan anak kemudian ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Berbahagialah ia dengan kabar gembira dari Nabi tersebut dan kemurahan Allah sebagai balasan atas kesabaran serta sikapnya dalam mengharap pahala-Nya.
Orang yang tetap menjaga ketaatan di tengah berbagai kesulitan juga mendapatkan kabar gembira dan karunia yang mulia.
Bagi mereka yang rajin mendatangi masjid untuk melaksanakan salat Subuh, terdapat kabar gembira secara khusus. Rasulullah SAW bersabda:
المشَّائين في الظُّلَمِ إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة
“Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud; hadis sahih)






