Ia menturukan hingga saat ini terdapat sekitar 8 juta diaspora di luar negeri yang berpotensi dilayani oleh BNI. Dari jumlah tersebut sebanyak 4 juta diaspora merupakan pekerja imigran, sedangkan sisanya telah menjadi warga negara asing.
Sementara itu bisnis konsumer, kata Okki, BNI mampu berakselerasi sehingga produk-produk BNI tetap dipilih masyarakat. Hal tersebut terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) Konsumer yaitu tabungan yang berhasil dihimpun oleh BNI pada 2020 bertumbuh dua digit.
Pada akhir 2020, DPK tumbuh 10,4% YoY menjadi sebesar Rp211.278 triliun. Pada 2021, DPK juga tumbuh 6,3% menjadi Rp224.670 triliun.
Begitu juga dengan kredit konsumer yang juga meningkat pada 2020, tumbuh 5,2% menjadi Rp88.723 triliun. Pada 2021, kredit konsumen bahkan tumbuh 10,4% menjadi Rp97.948 triliun.
“Kinerja positif tersebut kemudian terus berlanjut hingga saat ini dimana pada September 2022 tumbuh 11,3% YoY menjadi Rp106.040 triliun,” ucap Okki.




