KNews.id – Jakarta – Untuk mengamalkan doa Isra Mi’raj dengan benar, ada tata cara sederhana namun penuh makna yang bisa dilakukan.
Pertama, laksanakan shalat sunnah dua rakaat seperti biasa. Setelah membaca Al-Fatihah di setiap rakaat, bacalah surah Al-Ikhlas sebagai pelengkap. Shalat ini dapat dilakukan setelah shalat Isya atau menjelang tidur.
Kedua, setelah shalat sunnah, perbanyaklah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebanyak 10 kali. Shalawat berfungsi sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada Rasulullah yang menjadi perantara turunnya perintah shalat.
Ketiga, bacalah doa Isra Mi’raj di atas dengan penuh kekhusyukan, sambil menyebutkan hajat yang diinginkan. Disunnahkan untuk membaca doa dalam keadaan suci dan hati yang tenang. Jika dilakukan dengan niat tulus dan keyakinan kuat, malam Isra Mi’raj dapat menjadi momentum terkabulnya doa dan penghapus kesedihan hati.
Amalan Sunnah di Malam Isra Mi’raj
Selain membaca doa khusus, malam Isra Mi’raj juga menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak amalan sunnah. Berikut beberapa amalan untuk menambah keberkahan di malam 27 Rajab:
- Memperbanyak Dzikir dan Istighfar. Gunakan waktu malam untuk mengingat Allah dengan membaca tasbih, tahmid, dan istighfar. Dzikir dapat melembutkan hati dan membersihkan jiwa, sebagaimana Allah berfirman: “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.”
- Membaca Surah Al-Isra dan An-Najm. Kedua surah ini berkaitan langsung dengan peristiwa Isra Mi’raj. Al-Isra menjelaskan perjalanan Nabi di malam hari, sementara An-Najm menggambarkan keagungan wahyu dan pertemuan dengan Jibril di Sidratul Muntaha.
- Melaksanakan Shalat Sunnah Malam (Tahajud). Shalat malam adalah amalan yang sangat dianjurkan di malam-malam penuh berkah. Selain mendekatkan diri kepada Allah, tahajud juga menjadi waktu paling mustajab untuk berdoa.
- Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Perbanyaklah shalawat sebagai bentuk cinta dan syukur kepada Rasulullah. Amalan ini dipercaya dapat membuka pintu rahmat dan menenangkan hati.
- Bersedekah dan Menebar Kebaikan Sosial. Isra Mi’raj juga menjadi momentum untuk memperbanyak amal sosial, seperti membantu sesama, memberikan santunan, atau berbagi makanan.
Sebagian umat Islam di Indonesia menjadikan malam 27 Rajab sebagai momen untuk memperingati Isra Mi’raj dengan berbagai bentuk kegiatan keagamaan. Namun, dalam pandangan para ulama, tradisi perayaan semacam ini masih menjadi hal yang diperdebatkan. Sebelum menilai hukumnya, para ulama menegaskan pentingnya memastikan terlebih dahulu: apakah peristiwa Isra Mi’raj benar-benar terjadi pada bulan Rajab?
Dalam berbagai literatur klasik disebutkan bahwa tidak ada dalil sahih yang memastikan waktu terjadinya Isra Mi’raj. Sebagian ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi di bulan Rajab, sementara yang lain menyebutnya terjadi di bulan Rabi’ul Awwal atau Ramadhan. Para ulama ahli hadis juga menilai riwayat-riwayat yang menyebut tanggal 27 Rajab sebagai waktu pasti Isra Mi’raj tidak dapat dijadikan hujjah yang kuat, karena sanadnya tidak sahih dan tidak pernah dipastikan secara pasti oleh generasi awal umat Islam.
Terkait perayaan malam Isra Mi’raj, ulama salaf bersepakat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah mengkhususkan malam tersebut dengan ibadah, perayaan, atau kegiatan khusus. Tidak ditemukan satu pun dalil yang menunjukkan bahwa malam itu memiliki keutamaan tersendiri dibanding malam lainnya. Oleh karena itu, banyak ulama menilai bahwa menjadikan malam Isra Mi’raj sebagai perayaan keagamaan rutin adalah amalan yang tidak memiliki dasar dalam syariat, terutama bila dilakukan dengan keyakinan bahwa perayaan tersebut berpahala khusus.
Namun, perbedaan pandangan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi makna spiritual dari peristiwa Isra Mi’raj itu sendiri.
Umat Islam tetap dianjurkan untuk mengimani keagungan Isra Mi’raj sebagai mukjizat Rasulullah SAW, sekaligus menjadikannya momentum memperdalam keimanan dan memperbaiki kualitas shalat.
Cara terbaik untuk memperingatinya adalah dengan memperbanyak ibadah, dzikir, dan refleksi diri tanpa menetapkan ritual tertentu yang tidak memiliki landasan nash yang jelas.
Dengan begitu, semangat menghormati peristiwa Isra Mi’raj tetap terjaga, namun sesuai dengan prinsip kehati-hatian dalam beragama.




