KNews.id – Jakarta, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa stok beras di Pasar Induk Cipinang menipis, menyebabkan harga melonjak di pasaran. Namun, data resmi dari Food Station Tjipinang justru menunjukkan hal sebaliknya.
“Ini Januari stok awal 50 ribu ton, banyak kan? Ini lebih tinggi dari tiga tahun sebelumnya,” ujar Amran dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, 3 Juni 2025. Data historis pun mendukung klaim ini: stok beras di Cipinang selama lima tahun terakhir stabil di atas 30 ribu ton, bahkan menyentuh 50 ribu ton pada awal tahun ini.
Pernyataan yang bertolak belakang dengan kondisi di lapangan memunculkan satu pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang sedang bermain dalam distribusi beras Cipinang?
Investigasi Kartel dan Simpul Kendali Pasokan Beras
Dalam sepekan terakhir, Gudang Beras Cipinang mencatat angka masuk hanya 2.108 ton, sementara beras yang keluar melonjak drastis ke 11.410 ton. Ini tiga kali lipat lebih besar dari rerata historis yang berkisar 1.400 hingga 3.500 ton per pekan.
Temuan ini mengindikasikan manipulasi pasar oleh kelompok tertentu yang diduga kuat merupakan bagian dari kartel pangan yang selama ini sulit disentuh hukum.
Empat Titik Kendali yang Diidentifikasi:
1. Distributor Dominan
Nama-nama lama kembali mendominasi arus keluar beras. Pola distribusi yang “melompat” antar pasar namun ritmenya sama, menandakan operasi terpusat.
2. Penguasaan Gudang dan Transportasi
Gudang sekunder di sekitar Cipinang diketahui dikuasai oleh grup usaha tertentu. Ditambah dengan armada truk yang terkonsentrasi, mereka bisa menentukan ritme pasokan pasar.
3. Stok Ditahan, Harga Naik Perlahan
Bukan harga yang melonjak tajam, tapi naik perlahan. Inilah ciri khas permainan spekulan dengan taktik “kelangkaan buatan”.
4. Pengawasan Lemah dan Terlambat
Hingga kini, belum ada langkah nyata dari Satgas Pangan atau Bulog untuk memotong jalur spekulasi ini. Kementerian Pertanian pun tampak gamang mengambil tindakan.
🚨 Indikator Permainan Kartel atau Mafia Beras:
- Volume keluar naik drastis tanpa kondisi darurat, memicu potensi pengendalian harga.
- Aktor distribusi terbatas mendominasi pergerakan logistik dan stok.
- Pasokan minim tapi penyerapan besar, menandakan kemungkinan penimbunan.
- Pemerintah belum lakukan operasi pasar besar-besaran, memberi ruang manuver bagi spekulan.
- Harga naik bertahap dan konsisten, bukan lonjakan sesaat—ciri permainan jangka panjang.
👤 Dugaan Pemain Utama:
1. Distributor besar penguasa gudang sewaan sekitar Cipinang.
2. Koalisi pemilik armada logistik yang mengatur lalu lintas barang.
3. Pedagang besar yang sengaja menahan barang lalu melepaskan saat harga naik.
4. Oknum pengelola gudang yang ikut terlibat atau berpura-pura tak tahu.
❗ Mengapa Kementan Tidak Bertindak Tegas?
Hingga kini, Kementerian Pertanian tidak melakukan:
- Audit mendalam ke gudang non-Bulog dan operator logistik.
- Integrasi teknologi pelacakan (GPS, e-logistik) untuk memantau keluar-masuk stok.
- Kolaborasi terbuka dengan KPPU dan Satgas Pangan.
- Dorongan transparansi data stok harian dari pengelola Cipinang.
📌 KESIMPULAN:
Pasar beras bukan hanya soal panen dan distribusi, tapi soal siapa yang menguasai logistik dan informasi. Dalam sistem yang tak transparan, segelintir pemain bisa mengendalikan harga, menekan pasar, dan menyesatkan data publik.
Mafia beras tak perlu banyak orang—cukup sedikit yang punya kuasa dan akses.
🗞 Redaksi ZZH Media akan terus menyoroti titik-titik rawan dalam rantai pasok pangan nasional. Nantikan laporan investigasi lanjutan terkait jaringan distribusi dan koneksi elit bisnis di balik krisis harga beras.
(FHD/NRS)




