Protes pada Rabu (27/10) dikatakan sebagai yang terbesar yang pernah terjadi di kota itu sejak pemberontakan 2008, yang menewaskan sedikitnya 19 orang. Pasukan keamanan China dituduh menggunakan pemukulan brutal dan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa. Setelah insiden itu, Tibet ditutup untuk orang asing dan puluhan ribu tentara China dikirim ke wilayah tersebut untuk melakukan pengamanan.
Tibet diperintah sebagai daerah otonom China, dan Beijing mengatakan wilayah tersebut telah berkembang pesat di bawah kekuasaannya. Tetapi kelompok hak asasi mengatakan China terus melanggar hak asasi manusia, menuduh Beijing melakukan represi politik dan agama. Beijing membantah melakukan pelanggaran. (AHM/trbnews)





