KNews.id – Jakarta – Memahami Surah Al Kafirun Ayat 1-6 sangat penting bagi setiap Muslim untuk memperkuat akidah dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Surah Al Kafirun merupakan salah satu surah pendek dalam Al-Qur’an yang memiliki makna mendalam.
Surah ini menegaskan perbedaan fundamental antara keimanan dan kekafiran, serta prinsip toleransi dalam beragama. Kandungan Surah Al Kafirun menjadi pedoman bagi umat Muslim dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain.
Surah ini mengajarkan ketegasan dalam prinsip tauhid, namun tetap menyerukan sikap saling menghargai keyakinan masing-masing. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Senin (22/12/2025).
Surah Al Kafirun Ayat 1-6: Arab, Latin, dan Terjemah
Surah Al Kafirun adalah surah ke-109 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 6 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah karena diturunkan di Mekkah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Nama “Al Kafirun” sendiri berarti “orang-orang kafir” dan diambil dari kata yang muncul pada ayat pertama surah ini. Berikut adalah bacaan surah Al Kafirun Ayat 1-6 dalam tulisan Arab, Latin, dan terjemahannya:
قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ
Latin: Qul yā ayyuhal-kāfirụn
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir!”
لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ
Latin: Lā a’budu mā ta’budụn
Terjemahan: aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,
وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ
Latin: Wa lā antum ‘ābidụna mā a’bud
Terjemahan: dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.
وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ
Latin: Wa lā ana ‘ābidum mā ‘abattum
Terjemahan: dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ
Latin: Wa lā antum ‘ābidụna mā a’bud
Terjemahan: dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
Latin: Lakum dīnukum wa liya dīn
Terjemahan: Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.
Makna Mendalam Surah Al Kafirun
Surah Al Kafirun memiliki makna yang kuat tentang toleransi beragama tanpa mengganggu akidah masing-masing pemeluk agama. Surah ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW menolak dengan tegas untuk menyembah Tuhan selain Allah SWT.
Kandungan utama surah ini adalah penegasan mengenai pemisahan akidah dan ibadah antara orang Islam dengan orang kafir, menolak segala bentuk kompromi atau penyatuan dalam hal kepercayaan dan penyembahan, serta menegaskan prinsip tauhid yang murni.
Surah ini menjadi benteng akidah dan mengajarkan umat Islam untuk bertegas dalam hal prinsip agama tanpa bersikap kasar. Ayat terakhir, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” menekankan perihal toleransi antar umat beragama, yang berarti tidak memaksakan keyakinan umat Muslim terhadap keyakinan non-Muslim karena Islam tidak mengajarkan paksaan.
Asbabun Nuzul: Kisah Diturunkannya Surah Al Kafirun
Asbabun Nuzul (sebab turunnya) surah Al Kafirun berkaitan erat dengan upaya kaum musyrikin Quraisy di Mekkah untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW. Pada masa penyebaran Islam di Mekkah, kaum Quraisy yang menentang Rasulullah SAW terus mencari cara untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka.
Salah satu upaya mereka adalah mengajukan tawaran kompromi kepada Nabi Muhammad. Mereka mengusulkan agar Nabi Muhammad menyembah tuhan-tuhan mereka (berhala) selama satu tahun, dan sebagai balasannya, mereka akan menyembah Allah SWT selama satu tahun.
Tokoh-tokoh kaum musyrikin yang terlibat dalam tawaran ini antara lain Al-Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf.
Tawaran ini jelas bertentangan dengan prinsip tauhid Islam. Sebagai tanggapan atas usulan tersebut, Allah SWT menurunkan surah Al Kafirun untuk memerintahkan Nabi Muhammad menolak tawaran itu dengan tegas.
(NS/NRS)




