Anies kini semakin memikat, dicintai rakyat dan menjadi simbol harapan dan gerakan perubahan. Capres yang diusung Partai NasDem, Demokrat dan PKS itu, bukan saja sebagai antitesis rezim dan figur transformatif terhadap keboborkan negara dan bangsa. Behavior sarat intelektual dan kaya kesantunan ini, berangsur-angsur menjelma menjadi motor penggerak perubahan sistem dan kemajuan peradaban negeri.
Yusuf mengatakan, antusias dan euforia rakyat pada Anies di tengah berlangsungnya pseudo demokrasi, tidak serta merta membuat pemerintah mampu melakukan refleksi dan evaluasi kebangsaan. Alih-alih menyadari kejahatannya, bertaubat dan berjiwa besar mengutamakan kepentingan rakyat serta negara bangsa Indonesia.
“Pemerintah justru malah bertambah keblinger, sontoloyo dan semakin bejad. Semua pikiran, ucapan dan tindakannya sebagai personal maupun sebagai bagian dari sistem semakin amburadul. Bukan hanya penghianatan dan melakukan kejahatan terhadap Pancasila dan UUD 1945, rezim juga menjadi sangat berbahaya bagi kehidupan rakyat dan masa depan NKRI,” tegasnya.
Syahwat kekuasaan dan nafsu jabatan yang kesetanan, kata Yusuf membuat rezim semakin kalap dan mengkodok buta menghalalkan segala cara demi terus bertahan menguasai republik demi kepentingan oligarki, kelompok tertentu, sekaligus pribadi dan keluarga.




