spot_img

Kerusuhan Morowali Utara, Tokoh Mega Bintang: Awal Perlawanan Pribumi Terhadap TKA RRC

Mediasi tersebut, kata Said, berlangsung cukup alot. Bahkan, pihak manajemen perusahaan mengancam para pekerja. “Sudah dua pekerja meninggal, perundingan upah bukannya ada solusi, tapi buruh malah melihat kearoganan, kecongkakan manajemen,” kata Said.

Kendati begitu, lanjut dia, kedua belah pihak akhirnya setuju untuk menghentikan aksi mogok kerja. “Tapi, entah bagaimana beredar viral rekaman ada penyerbuan dari tenaga kerja asing (TKA), jadi mereka keluar bawa besi…. Ini makin marah para buruh lagi,” kata Said.

- Advertisement -

Setelah video itu beredar, terjadilah bentrokan antara pekerja asli Indonesia dan pekerja asal RRC pada Sabtu (14/1) malam. Menurut Said, peristiwa itu bisa dibilang sebuah kerusuhan karena ada masyarakat setempat yang terlibat. Insiden itulah yang mengakibatkan satu pekerja asli Indonesia dan satu TKA asal RRC meninggal.

Atas peristiwa kerusuhan itu, Said mengimbau pekerja di Morowali, terutama buruh PT GNI, untuk menghentikan tindakan kekerasan. Said meminta para buruh menggunakan jalur perundingan damai untuk memperjuangkan upah layak, keselamatan kerja, dan penghapusan sistem kerja outsourcing.

- Advertisement -

“Lakukan perundingan dengan damai, secara militan silakan. Oleh karena itu, jangan terprovokasi. Jangan menimbulkan hal-hal yang akhirnya ada kematian kembali. Sia-sia nyawa. Oleh karena itu, hentikan kekerasan, stop konflik, jangan gunakan kekerasan untuk selesaikan masalah,” kata Said.

Di sisi lain, Said mengecam Bupati Morowali Utara dan dinas ketenagakerjaan daerah itu. Sebab, Pemerintah Daerah Morowali Utara dinilai gagal mewujudkan K3 di area pabrik PT GNI dan kebijakan-kebijakannya selalu memihak perusahaan.

PT GNI menyatakan akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Kerusuhan tersebut mengakibatkan dua korban jiwa dan membuat aktivitas perusahaan terhenti. “Kami sangat menyayangkan insiden tersebut. Pihak perusahaan akan berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk melakukan investigasi atas terjadinya peristiwa tersebut. Hal itu bukan saja merugikan perusahaan dan karyawan karena operasional pabrik harus terhenti, tapi juga merugikan masyarakat sekitar kawasan Industri,” ujar Head of Human Resources and General Affairs PT GNI Muknis Basri Assegaf.

Muknis mengatakan, pada Ahad (15/1), pihak terkait telah melakukan pertemuan yang dihadiri Direktur Intelkam Polda Sulteng dan Sekda Morut Musda Guntur yang didampingi Kapolres Morut dan Dandim Morowali dan Morowali Utara. Dalam pertemuan tersebut, semua pihak menyayangkan kejadian yang menimbulkan kerusakan dan merugikan banyak pihak, baik perusahaan, karyawan, hingga warga sekitar pabrik yang terdampak aktivitas hariannya.

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini