spot_img

Jelang HUT RI ke-81, Harga Pangan Mulai Meroket

KNews.id – Jakarta – Menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, tekanan inflasi bahan pangan mulai terasa di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per Rabu, 12 Agustus 2026, kenaikan harga komoditas pangan pokok terjadi secara serentak di berbagai sektor. Data tersebut menunjukkan daging ayam ras segar menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan harga cukup signifikan, yakni naik 3,82% atau Rp 1.500 sehingga kini berada di level Rp 40.800 per kilogram.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas cabai merah besar yang melambung 3,55% menjadi Rp 56.900 per kilogram dan cabai merah keriting naik 1,71% menjadi Rp 44.500 per kilogram. Di samping itu, beras kualitas medium I juga mencatatkan kenaikan 0,64% menjadi Rp 15.650 per kilogram, beras kualitas medium II naik 0,67% menjadi Rp 15.000 per kilogram, serta beras kualitas super I yang berada di angka Rp 17.250 per kilogram.

- Advertisement -

Meski demikian, beberapa komoditas seperti bawang merah ukuran sedang justru melandai 2,19% ke harga Rp 35.650 per kilogram dan bawang putih ukuran sedang turun 2,51% menjadi Rp 38.900 per kilogram. Sementara itu, komoditas daging sapi kualitas 1 dan 2 cenderung bertahan stabil di angka Rp 157.500 dan Rp 148.350 per kilogram. Begitu pula dengan minyak goreng kemasan bermerk 1 yang stabil di Rp 23.350 per kilogram. Di pasar tradisional Kota Bandung, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan dirasakan pedagang dan pembeli.

Amin (39), pedagang ayam potong di Pasar Kiaracondong, menuturkan bahwa penentuan harga jual eceran saat ini sangat bergantung pada ketidakpastian pasokan dari pemasok. Menurut dia, pasokan yang masuk belakangan ini sering tidak menentu, baik dari segi jumlah maupun ukuran karkas ayam yang diterima.

- Advertisement -

“Pasokan dari supplier itu kadang banyak, kadang sedikit. Ukuran ayamnya juga enggak menentu, kadang dapat yang besar, kadang yang kecil. Nah, ukuran ini, kan memengaruhi penentuan harga jual ke pembeli, jadi ya mungkin pedagang lain yang di sini juga harganya variatif, kalau sekarang rata-rata ada yang jual Rp 41.000 sampai Rp 42.000 per kilogram,” ungkap Amin.

Kondisi yang tak jauh berbeda dirasakan Jono (44), pedagang ayam di Pasar Kosambi. Ia menyoroti fluktuasi harga yang terjadi begitu cepat dari awal bulan hingga pertengahan Agustus ini. Jono mencatat, awal bulan lalu harga ayam sempat melandai di kisaran Rp 34.000 hingga Rp 36.000 per kilogram sebelum akhirnya kembali merangkak naik. Konsumen terdampak Kenaikan harga pangan juga terjadi di Kabupaten Bandung Barat.

Lonjakan harga daging ayam, sapi, dan sayuran dalam dua pekan terakhir membuat pedagang bakso di Bandung Barat harus menyiasati bahan baku tanpa mengurangi ukuran porsi dagangannya. Yadi (55), pedagang bakso pikul, mengatakan kenaikan harga daging membuat biaya produksi semakin berat. Ia kini lebih banyak menggunakan daging ayam dibandingkan daging sapi sebagai bahan adonan bakso.

“Sekarang daging ayam di atas Rp 40.000 per kilogram, sedangkan daging sapi Rp 145.000,” ujar Yadi. Meski biaya produksi meningkat, ia memilih mempertahankan ukuran bakso yang selama ini menjadi standar dagangannya. “Ukuran bakso tetap, tidak saya kecilkan,” katanya.

Ketidakpastian harga ini pada akhirnya berdampak langsung pada konsumen yang harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan dapur. Yani (51), seorang pembeli yang ditemui di Pasar Kiaracondong, mengaku harus lebih ekstra waspada dalam mengelola anggaran belanja harian karena khawatir dengan perubahan harga yang mendadak. Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan intervensi agar harga pangan tetap stabil dan tidak terus-menerus membuat resah masyarakat.

“Sekarang, mah harus ngecek tiap hari harga pangan, khawatir kadang hari ini berapa, besok berapa. Jadi belanjanya harus diatur lagi supaya cukup,” pungkas Yani.

- Advertisement -

(NS/PR)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini