KNews.id – Jakarta – Masa kehamilan pada wanita adalah fase fisiologis yang menuntut tingkat kewaspadaan ekstra terhadap berbagai ancaman paparan penyakit menular, tak terkecuali infeksi virus campak rubeola.
Bagi ibu hamil, ancaman virus yang menyebar masif melalui droplet dan airborne ini tidak hanya membahayakan kesehatan organ pernapasan sang ibu, tetapi juga mempertaruhkan nyawa janin yang sedang tumbuh di dalam rahim.
Menurut Dr. dr. Aditya Susilo, Sp.PD, K-P.T.I, FINASIM, sistem imunitas tubuh ibu hamil secara alami mengalami penyesuaian besar. Kondisi ini membuat para ibu hamil membutuhkan perlindungan medis prioritas.
“Kalau ibu hamil kena campak, risikonya akan lebih berat,” ungkap dr. Aditya dalam konferensi pers “Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi”, digelar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Beda dampak campak dan campak Jerman
Ketakutan terbesar bagi calon ibu saat mengalami gejala ruam kemerahan dan demam tinggi adalah potensi kerusakan organ permanen pada pertumbuhan janin.
Beda dampak campak dan campak Jerman Ketakutan terbesar bagi calon ibu saat mengalami gejala ruam kemerahan dan demam tinggi adalah potensi kerusakan organ permanen pada pertumbuhan janin.
Kekhawatiran ini kerap mencuat secara berlebihan, karena masyarakat awam sering menyamakan dampak infeksi campak rubeola dengan campak Jerman atau yang lazim disebut rubella.
Padahal, kedua penyakit ini memiliki implikasi yang berbeda terhadap janin di dalam kandungan. Dokter Aditya menerangkan, dampak rubeola tidak memilikii karakteristik spesifiik perusak pembentukan organ janin layaknya rubella. “Yang membuat Rubella menjadi tantangan pada ibu hamil, karena dapat menimbulkan gejala yang sifatnya teratogenik (kecacatan) ke janin,” terang dia. I
Inilah mengapa virus rubella sangat ditakuti di dunia kandungan, karena sifatnya yang mampu menembus dinding plasenta secara langsung dan merusak sel pembentuk janin Ancaman keguguran janin
Ancaman keguguran janin
Meskipun secara genetik tidak bersifat teratogenik dan tidak memicu kecacatan fisik bawaan, bukan berarti infeksi ini pada masa kehamilan bisa dianggap sepenuhnya aman dan tanpa risiko.
Reaksi peradangan sistemik yang sangat hebat pada sekujur tubuh ibu hamil tetap membawa konsekuensi komplikasi yang amat berat bagi kandungannya.
Demam tinggi yang berkepanjangan akan membuat lingkungan rahim menjadi teramat stres dan tidak stabil bagi pertumbuhan janin.
“Kalau ibu hamil terinfeksi, tetap dia bisa menimbulkan komplikasi di janin seperti keguguran. Janin tumbuhnya lebih lambat dan premature delivery (kelahiran prematur),” ucap dr. Aditya.
Ini disebabkan oleh memburuknya asupan nutrisi ke plasenta akibat peradangan virus. Oleh karena itu, ia kembali mengimbau agar ibu hamil sangat berhati-hati terhadap campak.
Proteksi janin sejak dini
Mengingat tingginya ancaman fatal komplikasi yang terus mengintai masa kehamilan, langkah pencegahan melalui optimalisasi daya tahan tubuh sudah harus dilakukan jauh sebelum merencanakan kehamilan.
Jika berencana mengikuti program kehamilan, calon ibu sebaiknya sudah vaksin campak empat minggu sebelum program dimulai.
“Vaksinasi itu penting. Antibodi itu bisa being transmitted dari ibu hamil kepada janin. Jadi, kalau bisa, ibu hamil sudah divaksinasi, jadi bayinya juga ikut terproteksi,” ucap dr. Aditya.
Perlindungan kekebalan pasif yang disalurkan dari aliran darah sang ibu akan memberikan lapisan pertahanan vital bagi bayi di bulan-bulan pertama kehidupannya kelak.
Kesiapan antibodi ini akan menjadi tameng terkuat saat tanpa sengaja terjadi penyebaran campak di lingkungan sekitar, terutama di fasilitas umum yang padat.




