spot_img

Ibrah Muhammad Dan Siti Hadijah Sebagai Pedagang – Pecah Berantakan Sebagai Cermin Umat Islam Di Indonesia

Oleh: Sutoyo AbadiĀ 

KNews.id – Jakarta – Ibrah Muhammad bersama Siti Hadijah sebagai pedagang yang ulet dan jujur belum bisa sebagai cermin mayoritas umat Islam di Indonesia, yang terjadi justru harus tunduk pada kaum kapitalis.

- Advertisement -

Fakta sejarah saudara pedagang ( etnis Tionghoa ) sejak dulu kala sampai sekarang memiliki kultur/budaya sebagai pedagang ulet, ramah, ceria, tampil sangat santun ketika melayani siapapun untuk kekuasaan ekonominya dan hidup dengan kakayaannya.

Bahkan untuk skala ekonomi besar, dengan rayuan maut, begitu mudah menaklukkan pengambil kebijakan ekonomi, sampai bertekuk lutut, nurut seperti bebek melayani dengan servis super mutahir memenuhi semua fasilitas dari urusan perut sampai kebutuhan nafsu birahinya.

- Advertisement -

Dari Presiden dan pembantunya para menteri teknis bidang ekonomi, semua pejabat ekonomi sampai tingkat terbawah, hanya bisa memakai pakaian necis pakai dasi,Ā  dibuat linglung urusan ekonomi rakyat,Ā  fuul harus melayani kapitalis oligarki hitam sebagai majikannya.

Para saudagar tenis Cina urusan ritel lebih jago, di pasar mereka segala hal tampak ramah. Warna-warni kemasan memikat mata,Ā  setiap barang dagangannya tertata/ tersusun rapi seperti menunggu untuk dipilih dengan cinta.

Komoditas apapun tampak manis, seakan-akan lahir untuk memudahkan hidup manusia: minuman, roti, pakaian, televisi, gawai. Semua tersenyum dari raknya masing-masing.

Bahkan untuk skala ekonomi besar, dengan rayuan maut, hampir semua pengambil kebijakan ekonomi bisa nurut seperti bebek melayani dengan servis super mutahir untuk jadi budak – budak mereka.

Di balik wajah manis itu tersembunyi sifat memaksa, menekan dengan kejam mereka berdagang, bisnis ambil hasil tambang, perkebunan dan membangun pusat ekonomi raksasa di Indonesia.

Umat Islam yang mayoritas ( minus umat Muslim ) tidak mampu bercermin dari Ibrah Rasulullah Saw berama istrinya Siti Hadijah yang begitu elok sebagai penampakan skenario Allah SWT. Cermin tersebut seperti telah pecah berantakan di Indonesia.

- Advertisement -

Allah SWT menampakkan akibatnya, penderitaan, kesedihan, rasa pilu masyarakat harus menyerah di negeri sendiri dampak fatsunĀ  praktek dan logika kapitalisme

Relasi kemanusiaan sebagai manusia yang manusiawi lenyap. Tersisa mayoritas umat Islam gentayang seperti manusia bayangan menjadi pengemis sela sebagai hamba kaum kapitalis.

Rambu rambu ilahiah Pancasila dan UUD 45 ( asli ) sudah dicabut, negara berubah jadi negara kapitalis dan individu. Akibat ketololan, kedungguan Umat Islam sendiri rela berjamaah dalam penderitaan kemiskinan.

Ibrah Muhammad dan Siti Hadijah sebagai pedagang yang ulet dan jujur retak bahkan pecah berantakan, diambil alih kaum kapitalis. Dibulan Ramadhan melimpah khutbah verbal yang jauh dari esensi Ibrah diatas.

(NS/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini