KNews.id – Jakarta, Litbang Kompas telah merilis hasil survei terbaru elektabilitas pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) Pilkada Jakarta 2024, Selasa (5/11/2024).
Hasil survei Litbang Kompas Pilkada 2024 tersebut memperlihatkan Pramono Anung-Rano unggul dengan elektabilitas 38,3 persen, sedangkan Ridwan Kamil (RK)-Suswono berada di peringkat kedua dengan 34,6 persen. Sementara, Dharma Pongrekun-Kun Wardana mendapat elektabilitas sebesar 3,3 persen.
Di sisi lain masih ada 23,8 persen yang belum menentukan siapa cagub-cawagub pilihan mereka. Hasil survei didapat melalui wawancara tatap muka dengan 800 responden pada 20 hingga 25 Oktober, satu bulan sebelum penyelenggaraan Pilkada pada 27 November 2024.
Para responden merupakan warga Jakarta yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat dengan kepercayaan mencapai 95 persen dan margin of error sekitar 3,46 persen.
Hasil Survei Litbang Kompas Pilkada Jakarta 2024: elektabilitas Pramono-Rano dan RK-Suswono
Para responden survei Litbang Kompas berasal dari latar belakang etnis, pendidikan, jenis kelamin, dan kelompok sosial yang berbeda. Apabila melihat pola dukungan dari pemilih berdasarkan suku bangsa, persaingan antara Pramono-Rano dan RK-Suswono terbilang ketat.
Pramono-Rano cenderung mendapat lebih banyak dukungan dari pemilih bersuku Betawi dengan total 47,6 persen. Sementara itu, RK-Suswono diunggulkan oleh pemilih dari suku Sunda dengan perolehan suara 41,2 persen. Meski begitu, bukan berarti tidak ada pemilih Sunda yang mendukung Pramono-Rano juga sebaliknya.
Adapun pemilih bersuku Jawa yang proporsinya paling banyak di Jakarta cenderung memberikan dukungan merata kepada kedua pasangan calon, yaitu 37,5 persen suara.
Berdasarkan identitas sosial, banyak pemillih berpendidikan tinggi dan kelompok ekonomi bawah lebih memilih RK-Suswono, sedangkan pemilih berpendidikan dasar dan kelompok ekonomi menengah ke bawah terkonsentrasi kepada Pramono-Rano.
Perbedaan dukungan juga tampak pada latar belakang usia pemilih. Generasi muda atau generasi Z cenderung memberikan suaranya kepada pasangan RK-Suswono. Sebaliknya, pemilih dengan usia relatif tua menetapkan dukungannya untuk Pramono-Rano.
Pramono-Rano unggul karena lebih masif kampanye
Menanggapi hasil survei tersebut, pengamat politik Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menilai, ada dua faktor utama mengapa Parmono-Rano dapat unggul dari RK-Suswono. Menurutnya, selama kampanye pasangan usungan Partai PDI-Perjuangan (PDIP) tersebut lebih sering bertemu langsung dengan masyarakat. Di samping itu, mereka juga mendapat dukungan dari pendukung Anies Baswedan.
“Mungkin karena pergerakan Pramono-Rano makin masif turun ke bawah dan kelihatannya pendukung Anies juga banyak numpuk ke Pramono-Rano,” kata Ujang,
Kendati begitu, tingkat elektabilitas Pramono-Rano dapat berubah tergantung pada survei berikutnya. Sebab, umumnya hasil survei dipengaruhi oleh beragam faktor atau isu yang melibatkan pasangan calon (paslon).
Peta persaingan Pilkada Jakarta 2024 bisa berubah
Ujang melanjutkan, untuk mengubah peta persaingan Pilkada Jakarta, setiap paslon harus mampu melakukan kampanye dengan cara yang berbeda. Sebab selama ini dia melihat tidak ada perbedaan pendekatan yang signifikan antara paslon kepala daerah setiap tahunnya.
“Punya gaya khas kampanye yang beda dengan calon lain, karena selama ini kan hampir mirip-mirip kan program-programnya juga,” ujarnya.
Sementara itu, menanggapi aksi RK yang belakangan sempat bertemu dengan Presiden Prabowo dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Ujang mengakui bahwa tokoh memiliki faktor penting untuk menambah elektabilitas. Namun menurutnya, hal itu tidak akan memberikan pengaruh besar, justru faktor yang utama adalah bagaimana kandidat bisa meyakinkan warga Jakarta.
Oleh karena itu, debat ketiga akan menjadi ajang penentu peta persaingan Pilkada Jakarta sebelum pencoblosan. Terpisah, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat menyebut, masih ada peluang bagi RK-Suswono untuk membalikkan situasi.
Berbeda dengan Dharma-Kun yang menurutnya akan sulit karena hasil survei pasangan ini terpaut cukup jauh. Namun, Cecep juga menyampaikan, elektabilitas RK-Suswono berpotensi semakin turun apabila kerap memberikan jawaban ‘blunder’ seperti pada debat sebelumnya.
“Masih ada tiga minggu, masih bisa berubah elektabilitas, tapi kalo kita lihat pada debat yang lalu ada blunder dari Suswono masalah ‘Kartu Janda’ atau saat RK menyampaikan pemilih itu berhak berimajinasi,” jelas Cecep.
Di samping itu, faktor yang juga menjadi penentu elektabilitas mendatang adalah solidaritas Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus untuk mendukung RK-Suswono. “KIM Plus adalah partai yang besar, apakah ini solid? memang pilihan terhadap partai tidak kongruen terhadap kandidat, tapi jika partai soid idealnya harusnya sama,” tambah dia.
Akan tetapi hal yang paling penting adalah bagaimana setiap paslon dapat membangun komunikasi ke masyarakat dengan baik. Rilis hasil survei Litbang Kompas Pilkada Jakarta.






