KNews.id – Jakarta – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mendukung sepenuhnya upaya percepatan transisi energi yang disampaikan Presiden Prabowo dalam menghadapi krisis energi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh media, ekonom dan lainnya di Hambalang pada 17 Maret 2026.
“Saya menyambut gembira arahan Presiden Prabowo yang hendak mempercepat transisi energi melalui pengembangan pembangkit tenaga surya, angin, panas bumi, bahkan mempercepat elektrifikasi di sektor transportasi,” ujar Eddy Soeparno dalam keterangannnya pada Minggu (22/3/2026).
Menurut Eddy Soeparno, krisis energi yang ditimbulkan perang di Timur Tengah, makin menyadarkan kita bahwa ketahanan energi nasional rentan terhadap disrupsi global.
Eddy Soeparno menjelaskan ketergantungan Indonesia pada sejumlah produk migas seperti minyak mentah, LPG, kerosene dan produk lainnya, menyebabkan kita berada dalam posisi rapuh ketika pasokannya terganggu sebagaimana kita alami hari ini.
“Jika impor LPG tersendat misalnya, sektor rumah tangga, restoran, perhotelan dan lainnya tidak dapat melakukan kegiatan memasak, mengingat 75% dari kebutuhan LPG nasional datang dari jalur impor. Oleh karena itu, perlu dilakukan konversi cara masak dari LPG ke kompor induksi (listrik) secepatnya,” lanjut Eddy.
Doktor Ilmu Politik UI ini juga mendukung arahan Presiden Prabowo yang hendak mempercepat pensiun dini pembangkit diesel karena biaya pengoperasiannya bisa 3-5 kali lebih mahal dibandingkan batubara dan pembangkit ini menghasilkan emisi karbon yang cenderung ‘toxic’.
“Memang ada beberapa jenis kegiatan yang mutlak membutuhkan minyak mentah dan gas sebagai bahan bakar, seperti pesawat terbang, kapal laut dan kereta api. Disamping itu ada industri pupuk, petrokimia, besi baja, farmasi yang membutuhkan migas sebagai bahan baku, sehingga kebutuhan migas kita ke depannya tetap akan signifikan,”




